NABI KHIDIR AS DAN WALI ALLAH
Ahmad Zain An Najah
“ Keyakinan kita (ahlu al–sunnah wa al-jama’ah) adalah tidak memuliakan seorang wali di atas nabi, bahkan sebaliknya kita berkeyakinan bahwa satu orang Nabi lebih mulia dari seluruh wali “ ( Imam Thohawi )
Adalah seorang Kyai yang mendapat amanat sebuah jabatan yang bergengsi, akan tetapi yang sangat disayangkan adalah pernyataan-pernyataannya yang sering kali terdengar aneh, manuver-manuver politik nya sering membingungkan orang, alias nggak jelas dan sulit di tebak, “ manuver politik seorang wali “ kata seorang pengikutnya.
Bahkan ketika secara jelas, dia melakukan sebuah kesalahan fatal, masih ada saja yang menyeletuk: “ dia kan seorang wali , masak berbuat salah “ . Cara berpikir seperti ini perlu diluruskan.
Sebagian lain mengaku, bahwa dia mempunyai seorang guru, yang dalam satu waktu bisa berada di dua tempat. Percayakah anda bahwa dia seorang wali Allah ? Bahkan diantara mereka tidak bergeming sedikitpun ketika di bacok dengan pedang, apakah itu pertanda bahwa dia mempunyai karomah ? Bahkan konon beberapa diantara wali songo bisa merubah buah yang masih dipohon menjadi emas, malah diantara mereka ada yang bisa berjalan di dalam tanah. Bagaimana seorang muslim harus bersikap, ketika melihat fenomena di atas ?
Pengertian wali dan beberapa syaratnya
Wali di dalam ajaran Islam mempunyai banyak arti :
1/Wali berarti teman setia dan orang yang dipercaya Allah berfirman
يأبها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق
Wahai orang – orang yang beriman janganlah engkau menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman- teman setia, yang kamu sampaikan kepada mereka ( berita –berita Muhammad), karena rasa kasih sayang , padahal mereka telah ingkar terhadap kebenaran yang datang kepadamu “ ( QS Al Mumtahanah : 1 )
2/Wali juga berarti pemimpin. Allah berfirman :
يأبها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض
“ Wahai orang – orang yang beriman , janganlah engkau menjadikan orang orang Yahudi dan Nashrani sebagi pemimpin- pemimpin kamu, sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain “ ( QS Al Maidah : 51 )
3/Wali juga berarti pelindung. Allah berfirman :
الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور
“ Allah adalah pelindung orang –orang beriman , Yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju kepada yang terang “ ( QS Al Baqarah : 257 )
Dari keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Wali Allah adalah : “ Orang – orang yang dekat kepada Allah , karena mereka menyerahkan diri kepada-Nya, mengerjakan perintah- perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya( menjadikan Allah sebagai pemimpin mereka ) , serta mereka akan mendapatkan perlindungan dari Allah “ .
Sebagian ulama ada yang membagi Wali Allah menjadi dua kelompok :
a. Kelompok pertama yaitu orang- orang yang mendapatkan “ Wilayat al-‘Ammah ” ( perlindungan secara umum ) dari Allah . Mereka itu adalah orang-orang Islam dan beriman , yang secara umum telah mendekatkan diri dengan Allah, dan akan mendapatkan perlindungan dari Allah, walau mereka kadang menjauh dari Allah, atau berbuat maksiat terhadapNya.
b.Adapun kelompok yang kedua adalah mereka yang akan mendapatkan “ Wilayat al-Khosoh “ ( perlindungan secara khusus ) dari Allah swt. Menurut sebagian ulama , mereka adalah orang – orang yang mengetahui Allah dengan segala sifat-sifatNya, yang selalu mentaati segala perintah–Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, selalu menjaga dirinya supaya tidak terjerumus ke dalam kesenangan yang melalaikan, dan segera bertaubat ketika berbuat kesalahan “
Namun, orang yang mendapatkan “Wilayat al-Khosoh “ diatas, sebenarnya tidaklah terbatas apa yang di terangkan di atas , artinya : bahwa orang yang mengetahui Alloh dan sifat-sifat-Nya saja, belumlah cukup untuk mendapatkan “Wilayat al-Khosoh “ dari Allah. Karena ada satu unsur penting yang belum disebutkan pada pengertian di atas , padahal unsur tersebut sering disinggung oleh para ulama.
Untuk mengetahui satu unsur penting tersebut, kita mencoba menyelusurinya, disela- sela pernyataan Hasan Basri, seorang ulama yang amat piawi pada zaman tabi’in. Beliau pernah mengatakan : “ Ilmu itu ada dua ; ilmu yang di lidah, adalah sesuatu yang akan dimintai pertanggung jawabannya di depan Allah, sedang yang kedua adalah ilmu yang di hati, inilah ilmu yang bermanfaat “ .Beberapa ulama salaf pun pernah mengatakan : “ Ulama itu ada tiga macam ; Pertama : adalah mereka yang mengetahui tentang Allah dan tentang perintah Allah, Kedua: adalah meeka yang mengetahui tentang Allah tapi bodoh terhadap perintah-perintahNYa , Ketiga : adalah mereka yang mengetahui perintah Allah tapi bodoh tentang Allah sendiri. Yang terbaik adalah yang pertama “ .
Berpijak dari keterangan diatas, kita katakan bahwa : seorang wali yang akan mendapatkan wilayah khossoh , haruslah mempunyai ilmu yang memadai tentang Dienul Islam, atau meminjam ungkapan Hasan Basri adalah menguasai ilmu tentang hukum-hukum Allah. Tanpa bekal ini, tak mungkin seseorang bisa sampai pada derajat wali. Kenapa ? Karena seseorang tidak akan menjadi hamba yang dicintai Allah, kalau dia bodoh terhadap perintah-perintah-Nya. Semangat di dalam beribadah saja tidak cukup untuk meraih gelar ini. Kita lihat, umpamanya orang-orang Nasrani ( Kristen ) , mereka sangat antusias di dalam beribadah, tetapi Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang sesat ( Dhollin ) , seperti yang tercantum di dalam surat Al Fatihah. Semangat, tapi bodoh hanya akan menghasilkan orang- orang yang sesat saja. Sebaliknya, pintar tanpa semangat, hanya akan menghasilkan orang-orang yang dimurkai Allah ( Al Maghdhubi ‘alaihim ) termasuk di dalamnya orang-orang Yahudi. Islam adalah agama penengah ( wasath ), agama yang telah menjadi saksi bagi umat-umat yang lainnya, agama yang memperhatikan seluruh demensi kehidupan, agama yang ajarannya mampu membuat kehidupan ini seimbang.
Wal hasil, ilmu adalah hal yang sangat diperlukan bagi seorang yang ingin menjadi seorang wali. Perhatikan sabda Rosulullah saw. :
ومن يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“ Barang siapa yang Allah menginginkan pada dirinya kebaikan, niscaya Allah akan memahamkan dia tentang ajaran agama. “ ( HR Bukhori Muslim )
Berkata Ibnu Hajar ketika mengomentari hadits diatas : “ Mafhum hadits diatas menunjukkan, bahwa barang siapa yang tidak mempelajari ajaran Islam atau paling tidak tentang dasar-dasar agama dan masalah furu’ yang terkait, berarti dia tidak akan mendapatkan kebaikan ( Fathul Bari 1/165 ) .
Hal ini dikuatkan juga dengan firman Allah :
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولاهم يحزنون الذين آمنوا وكانوا يتقون
” Sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada ketakutan dalam diri mereka dan merekapun tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah serta bertaqwa kepadaNya “ ( QS. Yunus : 62-63 )
Orang- orang yang bertaqwa adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Dan seseorang tidak akan bisa berbuat seperti itu, kalau tidak mengetahui perintah-perintahNya serta bodoh terhadap larangan-laranganNya.
Dari uraian di atas, akhirnya kita bisa menyimpulkan, bahwa Wali Allah yang sebenarnya adalah seorang muslim yang alim terhadap ajaran agamanya dan konsekwen, serta konsisten dengan ilmu yang dimilikinya, siapapun dia, dan apapun kedudukannya.
Khidhir as, seorang wali atau nabi ?
Di sana ada beberapa kasus yang perlu ditanggapi, diantaranya adalah kisah Khidir dengan nabi Musa. Di dalam surat Al Kahfi disebutkan bahwa nabi Musa as pernah belajar kepada Khidhir. Sebagian kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa Khidhir adalah seorang wali, mereka menyimpulkan bahwa seorang wali lebih afdhol dari seorang nabi, dengan bukti nabi Musa belajar kepada Khidir. Keyakinan ini, akhirnya berkembang lebih luas lagi dan menyebabkan bermunculnya orang- orang yang mengaku dirinya wali Allah, bahkan sebagian mereka sudah tidak mengakui ajaran Islam yang di bawa oleh nabi Muhammad saw, karena beranggapan bahwa wali lebih utama dari nabi, dan tidak perlu mentaati ajaran- ajarannya.
Sungguh keyakinan semacam itu sangat menyesatkan, karena akan mengakibatkan rusaknya ajaran Islam ini. Padahal menurut pemahaman Ahlu al-Sunnah wa al- Jama’ah bahwa nabi dan rosul merupakan manusia yang paling utama dan mulia di sisi Allah swt. Untuk lebih jelasnya, kami sebutkan di bawah ini, urutan umat manusia yang paling utama sejak awal diciptakannya, hingga hari kiamat kelak-berdasarkan pendapat para Ulama Ahlu Sunnah- :
1-Urutan Pertama adalah para rosul dan nabi adalah kelompok manusia yang paling mulia di sisi Allah, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa mereka lebih mulia dari para Malaikat. Diantara para rosul dan nabi tersebut, terdapat Ulul Azmi ( Nabi Muhammad saw, Isa as, Musa as, Ibrahim as, Nuh as) mereka itu, adalah orang – orang yang terbaik di antara para nabi dan rosul. Dan Nabi Muhammad saw adalah yang terbaik diantara ulul azmi sekaligus sebagai pemimpin para nabi dan rosul.
2.Setelah itu, baru para wali Allah. Dan kelompok Wali Allah yang paling baik dalam sejarah manusia adalah para sahabat Rosulullah saw . Diantara para sahabat tersebut, Abu Bakar As-Siddiq adalah yang terbaik. Kemudian Khulafa Rosyidin sesudahnya yaitu : Umar bin Khottob ra, Utsman bin Affan ra, serta Ali bin Abi Tholib ra)
Barangkali diantara kita ada yang bertanya, kalau begitu di mana Khiddhir as di dalam urutan- urutan tersebut ? Bagaimana dengan wali-wali Allah yang lainnya, khususnya yang sangat dikenal oleh masyarakat awam ? Dan bagaimana dengan wali songo yang ada di Indonesia ?
Untuk menjawab sejumlah pertanyaan diatas, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apakah Khidhir as itu nabi atau wali ? Sampai sekarang masalah ini, masih menjadi polemik yang hangat dikalangan sebagian orang. Dan hal ini, sangatlah wajar karena tidak ada teks Al-Qur’an maupun Hadist yang menyebutkan secara terus terang tentang status Khidhir as. Oleh karenanya kita dapatkan sebagian orang beranggapan bahwa Khidhir as, adalah seorang wali besar, bahkan mungkin Imamnya para wali. Dan Allah telah menganugrahkan kepada-nya wahyu dan ilmu, serta hikmah. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa Khidir as adalah salah satu dari Nabi Allah. Tapi yang jelas, keduanya sepakat bahwa Khidir as adalah hamba Allah yang pernah bertemu dan menjadi guru nabi Musa as, yang kisahnya disebutkan dalam Al Qur’an, tepat di dalam surat Al Kahfi.
Paling tidak, ada dua hal yang menunjukkan bahwa Khidhir adalah seorang nabi.
Pertama : Ibnu Katsir di dalam bukunya “ Al Bidayah wa al -Nihayah “ telah memberikan alasan yang cukup menarik untuk menolak pendapat yang mengatakan bahwa Khidhir as membunuh anak kecil yang ditemuanya di jalan, karena perasaannya mengatakan bahwa anak kecil tersebut, kelak akan menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya. Ibnu Katsir menyatakan bahwa seorang wali, bagaimanapun juga derajatnya, tidak begitu saja berbuat sesuatu yang sangat besar hanya berdasar perasaan belaka. Karena sebuah “perasaan” tidak boleh dijadikan standar untuk semudah itu menghabisi nyawa anak kecil yang belum punya dosa.
Abu Bakar as Siddiq ra saja- yang nota benenya adalah pemimpin para wali – masih bimbang , ragu-ragu, dan berpikir tujuh kali, sebelum akhirnya mantap untuk menjalankan proyek “ jam’ul quran “ ( mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf ) . Abu Bakar as Siddiq ra bimbang untuk melangkah, karena kawatir apa yang akan dilakukannya nanti akan menyalahi ajaran Rosulullah saw. Padahal proyek “ jam’ul quran “ merupakan proyek yang sangat masuk akal, dan mempunyai dasar pijakan yang kuat. Walau begitu, Abu Bakar as Siddiq masih ragu dan penuh kekhawatiran. Lain dengan Khidhir as, yang dengan begitu mudah membunuh anak kecil yang ditemuinya tanpa sebab apa-apa. Ini semua menunjukkan bahwa Khidhir as adalah seorang nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah swt, sehingga dengan wahyu tersebut,tanpa pikir panjang beliau segera menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya, walau perbuatan tersebut, secara sekilas terlihat sebagai sebuah kemungkaran.
Kedua : Nabi Musa as belajar dari nabi Khidhir as. Ini juga , merupakan indikasi bahwa Khidhir as adalah seorang nabi. Karena sangat kecil kemungkinannya seorang Nabi sekaliber Musa as, diperintahkan belajar dari seseorang yang bukan Nabi.
Bagi orang yang hanya membaca kisah Khidhir as dengan nabi Musa as secara sekilas, akan terkesan baginya, bahwa Khidhir as lebih pandai dari nabi Musa as. Dan itu, akan memberikan dampak yang kurang bagus pada keyakinan masyarakat, karena akan mengesankan bahwa Khidhir as ( yang menurut mereka adalah seorang wali ) ternyata lebih mulia dari seorang Nabi Musa as, salah seorang nabi yang mendapatkan julukan Ulil Azmi ( Nabi- nabi yang memiliki ketangguhan yang luar biasa )
Seseorang yang menyakini bahwa seorang wali lebih mulia dari nabi, bahkan lebih mulia dari para nabi yang tergolong dalam kelompok Ulul Azmi, maka orang tersebut telah terjerumus di dalam kebodohan yang nyata. Keyakinan tersebut merupakan keyakinan yang sesat, dan merusak aqidah kaum muslimin, karena beranggapan bahwa seorang wali berhak untuk berbuat sesuka hatinya, walau perbuatan itu bertentangan dengan syara’ dan akal sehat serta fitrah manusia. Dia, bisa saja merusak barang milik orang lain dengan dalih menyelamatkannya, atau bahkan akan dengan mudah membunuh siapa saja yang dia kehendaki, dengan alasan dia adalah seorang wali, dan dia meniru apa yang dilakukan oleh Khidhir as.
Pendapat bahwa Khidir as, adalah seorang nabi, dikuatkan dengan perkataan seorang tokoh Islam, yang karya-karyanya menjadi rujukan kaum muslimin yang bermadzhab ahlu al–sunnah wa al-jama’ah, yaitu Imam Thohawi, beliau menulis di dalam matan “ Aqidah Al- Thohawiyah “ :
“ Keyakinan kita (ahlu al–sunnah wa al-jama’ah) adalah tidak memuliakan seorang wali di atas nabi, bahkan sebaliknya kita berkeyakinan bahwa satu orang Nabi lebih mulia dari seluruh wali “
Begitu juga wali- wali lain yang telah dikenal luas oleh masyarakat, baik di Timur Tengah, maupun di belahan bumi yang lain, termasuk di Indonesia sendiri, mereka itu, bagaimanapun tingginya keimanan dan kehebatan mereka, namun kedudukan mereka, tetap di bawah para sahabat Rosulullah saw, karena para sahabat adalah generasi terbaik sepanjang sejarah manusia , tentunya setelah para nabi dan rosul. Merekalah ( para sahabat ) wali-wali Allah yang bukan saja bisa menyebarkan Islam , tapi mereka juga telah mampu menaklukan dunia ini dan membekuk dua kekuatan super power pada waktu itu, Persi dan Romawi.
Sedangkan wali- wali Allah yang lain, khususnya yang hidup pada zaman ini, keimanan mereka jauh di bawah keimanan para sahabat. Apalagi yang mengaku-ngaku bahwa diri mereka wali, tentunya sangat jauh perbedaannya. Inipun, kalau mereka benar- benar wali Allah. Karena wali Allah yang sebenarnya, adalah mereka yang memberikan kontribusi pada masyarakat dengan semaksimal mungkin. Yaitu selalu berdakwah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi di masyarakat , bahkan akan mampu mnggerakkan reformasi yang sebenar- benarnya. Dan tentunya Umat Islam, dan bangsa Indonesia khususnya, akan bisa merasakan kehadiran mereka. Namun kenyataannya, justru yang terjadi adalah kerusakan demi kerusakan, kekacuan demi kekacuan, bahkan suara mereka, yang mengaku wali- wali Allah, tidak pernah terdengar.Wallahu a’lam.
Kairo, Agustus 2002
Juni 26, 2007 at 2:54 am
Assalamualikum…
Bismillahirahmannirrahim,.
pertama..saya ingin bertanyakan pendapat kepada yang arif, apakah benar nabi Allah khidir di tugaskan menjaga air dan apakah ada nabi yang menjaga tumbuh-tumbuhan,..
kedua..ada juga berpendapat bahawa nabi khidir boleh berjalan di atas air,.dan ini apakah merupakan ilmunya yang diajarkan oleh Allah terus kepada nabi khidir atau kelebihan yang diperolehi oleh nabi khidir,.
ketiga,..bagi orang-orang yang menuntut ilmu seperti bertapa dan berzikir sebagaimana di lakukan oleh wali songo mengatakan mereka mendapat ilmu-ilmu yang unik,..dan juga ebrkata mereka mendapat ilmu secara ghaib dari nabi khidir dengan izin Allah SWT.
secara peribadinya,saya tidak mengatakan mereka ini sesat kerana mereka juga beribadat kepada Allah,bahkan lebih khusyuk dan lebih mencintai Allah berbanding orang islam yang lain..
wallahu ‘alam,..saya juga tidak pasti apakah kedudukan mereka,..seungguhnya Allah itu maha menengar,maha mengtahui dan memberi menunaikan permintaan hambanya demi kesejahteraan mereka,..
Agustus 17, 2009 at 8:03 am
bismillah…
suamiku pesan, selepas solat kirimkan al-fatihah kepada para rasul, nabi dan wali. terutamanya nabi muhammad SAW, nabi yang menjaga air, nabi yang menjaga tumbuhan, nabi yang menjaga haiwan dan nabi yang menjaga tanah.
oleh kerana ilmu ini bukannya ilmu yang saya pelajari dari guru, maka tidak berani saya untuk terangkan dengan lebih lanjut.
para kiyai di ponorogo mungkin bisa memberikan huraian lebih lanjut.
wassalam.
Juli 9, 2007 at 4:28 am
Assalamu’alaikum wr wb,
Bicara masalah ilmu, asal science/scene maknanya “TAHU” Atau mengetahui jadi tidak berarti memiliki.
Ilmu yang punya ALLAH, kita hanya mengetahi seperti halnya kita bisa baca A, B, C dst bisa dibuktikan tapi tidak terlihat bentuknya seperti apa, sedang apabila dibuktikan dan bisa diuji materiil kita bisa baca dan disaksikan kebenarannya akan bacaan tersebut.
Lebih dalam tentang ilmu, masalah jalan diatas air, kebal dan sebagainya hanyalah acesoris belaka yang tujuan utama dalam hidup, ” Kita lahir dunia merupakan sebuah kemenangan dan kembalinya ke Tuhan juga harus Menang ” perjalanan atau proses hidupnya manusia itu diisi dengan Al-Quran lengkap segala tuntunan.
Bila Seseorang siap dengan Amar Ma’ruf nahi munkar, Insyaallah diijabah kemauan.
To be continued
Soegiharto
Juli 9, 2007 at 12:10 pm
Assalamulaikum wr. wb
Untuk mas Alif ….
Untuk mendapatkan sesuatu yang diingininya, seorang muslim hendaknya menempuh cara-cara yang telah diajarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah. Untuk mendaptkan ilmu agama umpamanya, seharusnya dia belajar dari para ulama dan membaca banyak buku tentang ajaran agama, niscaya Allah akan mengajarkannya ilmu-ilmu tersebut. Selain itu seharusnya dia melaksanakan segala perintah Allah dan Rosul-NYa, niscaya Allah akan menambahkan ilmu-ilmu yang tidak didapatkan oleh banyak orang. Adapun bertapa dan nyepi di gua-gua bukanlah dari ajaran Islam, seandainya dia mendapatkan ilmu yang aneh-aneh, kemungkinan besar berasal dari Jin.
Wallahu A’lam
Juli 11, 2007 at 7:35 am
Assalamu’alaikum wr.wb
Perkenalkan saya Makhluk Alloh yg masih Bodoh tentang Ilmu Islam.
Pendapat ini menurut pendapat saya, mungkin dari saudara-saudari Muslim lebih mengetahui jawabannya, menurut pendapat saya :
1. Memang air,tumbuhan, angin,Surga, Neraka & Semua ciptaan Alloh itu semua Makhluk Alloh, semua makhluk Alloh itu ( selain manusia & Jin ) selalu bertasbih memuji kebesaran Alloh. jadi Nabi itu di utus oleh Alloh untuk menyampaikan Ilmu / Agama Alloh.
Makhluk Alloh selain Manusia & Jin itu sudah tunduk & Memuji Kebesaran Alloh, jd tidak perlu di jaga.
2. Nabi / Wali Alloh itu insyaAlloh segala Do’a nya dikabulkan Alloh, karena memang sudah dekat dgn Alloh ( Tidak ada penghalang ) Manusia ( Jawa = Manungso : Manunggaling Kang Kuwoso ) jadi kalau Manusia sudah mencapai tingkat ini ( INSAN KAMIL ). Jadi orang yang menjadi kekasih Alloh ( Nabi / Wali ) itu tidak mustahil jika dapat melakukan hal yang diluar kewajaran/kebiasaan manusia lain.
Why not? Kalo Nabi/Wali meminta dan Alloh menghendaki/ Mengabulkan.
3. Bukankah Nabi Kita Muhammad SAW juga pernah BerTakharub ( Menyendiri ) di Gua Hira ?
pada saat turunnya beberapa Surah ( dlm Al Qur’an )juga pernah terjadi di Gua Hira.
Maksud dari berTakharub/ BerSemedi / Menyendiri/ Uzlah adalah untuk konsentrasi/Berdzikir mengingat Alloh dengan Khusuk tanpa ada gangguan dari hirukpikuk manusia ( Keduniawian ).
Mengenai Wali 9 adalah pada kondisi /Zamannya Beliau2 menyebarkan Agama Islam di Jawa , dimana masyarakat masih banyak menggunakan Klenik/ Perdukunan atau Ilmu Gaib.
Jadi Beliau2 ( Wali 9 ) Juga diberi kelebihan/ Karomah ttg Ilmu Gaib. ( Bukankah pada Zaman Nabi Sulaiman maupun Nabi Musa, umatnya juga masih banyak yang menggunakan Sihir ? dan Nabi Musa pun juga dapat menggunakan Sihir( menurut masyarakat ) pada saat itu . padahal yang diperbuat Nabi Musa bukanlah sihir, melainkan Mukjizat. tetapi menurut masyarakat pada saaat itu menganggap bahwa Nabi Musa menggunakan Sihir.
Jadi menurut saya Alloh itu akan memberikan Mukjizat ataupun Karomah kepada HambaNya sesuai
kondisi pada saat itu.
Demikian dari saya , apabila masih kurang puas dari jawaban saya, saya mohon Maaf, memang saya masih belajar dan amsih bodoh.
Agustus 2, 2009 at 3:27 am
sama saya juga masih bodo dlm ilmu agama
menurut saya …
pendapat anada benar .
saya SETUJU……..
September 11, 2007 at 5:43 pm
tes
September 27, 2007 at 6:24 pm
*************************************************
” ILMU ”
adalah sebuah huruf yang tidak terungkap oleh kata kata kecuali oleh PERBUATAN.
” PERBUATAN ”
adalah sebuah huruf yang tidak terungkap oleh kata kata kecuali oleh KEIKHLASAN.
” KEIKHLASAN ”
adalah sebuah huruf yang tidak terungkap oleh kata kata kecuali oleh KESABARAN.
” KESABARAN ”
adalah sebuah huruf yang tidak terungkap oleh kata kata kecuali oleh PENYERAHAN.
Februari 22, 2008 at 5:01 am
apakah nabi khidir itu jg sama dng nabi muhammad saw
Mei 30, 2008 at 8:07 pm
Bams_phy@yahoo
Mei 31, 2008 at 2:44 pm
emmm,,, kira2 perbedaan antara karomah dan ilmu hikmah itu apa sichhh,,??
Mei 31, 2008 at 2:48 pm
mau nanya nich,,,perbedaan antara karomah dan ilmu hikmah itu apa sih??
Juni 10, 2008 at 4:31 am
ya mkin aku akan memberi komentar sedikit…..
ya menurut aku ilmu nabi hidir dengan ilmu nabi muhammad ya ga’ sama..!!!MUNGKIN ITU DOANG DARI AKU…!!!!
Juni 10, 2008 at 4:40 am
Q pengen naya’ kpd….!!!!!
bpk or mas..dosakah lo’ kaum lelaki jadi playboy…….?????????
Mei 29, 2009 at 11:26 am
Play boy kok gak nyambung c
Oktober 7, 2008 at 5:09 am
Wallohu a’lam semua yang kita pelajari atau kita ketahui tidak akan tau atau sanggup mengungkap ilmu Allah. Untuk mengetahui Khidir itu siapa kita kembalikan pada Allah saja, dan dia (Khidir) merupakan hamba Allah yang ditakdirkan untuk berjumpa dengan Musa.
selain itu juga Allah menjadikan semua kejadian yang terjadi tidak sia-sia dan itu merupakan untuk menguji umat berikutnya apakah lebih beriman kepada Allah apa ingkar kepada Allah dan juga siapakah yang terbaik amalanya.
wallohu a’lam.
Oktober 29, 2008 at 6:50 am
Nek Aku nduwe Pedoman Hidup yaiku: D U I T, hehehehe…DOA USAHA IHTIAR TAWAKAL, Nek Keyakinane Islam Ya Sholat : ISHA, SUBUH, LOHOR/JUHUR, ASAR, MAGRIB dadine ISLAM, nek Mati mung kaen kapan, karo ngamal, Ilmune sing bermanpaat sing digawa kanggo tiket aring sorga kaya kue hehehee
Oktober 30, 2008 at 1:47 pm
oi wahaby madinah….dah pernah ketemu nabi khidr blm?
org yg kebyakan teori tapi kurang amal kyknya bukan ulama apalagi wali…..
pingin tau nabi khidr :
http://salafytobat.wordpress.com
November 25, 2008 at 5:22 pm
Wah, cerita saja…
Ada beda yang jelas antara ilmu dengan pengertian, berbeda jelas antara fakta dengan dalil, antara rasa dengan resepnya. Dengan kata lain, sejati ilmu bukan dalilnya. Teori, segala macam teori, bukanlah sejati ilmunya. Pun, teori agama. Islam bukan sekedar dalil, Bung. Islam itu kaffah, batin dan lahir. Batinnya dulu, baru lahirnya bisa mengikuti. Kalau cuma lahirnya yang diurus mengkilat, maka batinnya tetaplah keruh. Lagian, memangnya Allah cuma huruf alif lam lam ha?
November 25, 2008 at 5:30 pm
Halah, halah… galak juga Salikun, hehe…
Tapi, iya. Bagiku, dirasa-rasa, benar juga. Sibuk nian kita membahas Nabiyullah Khidr faya bin malkan itu nabi atau wali. Bagiku, terserah Yang Punya saja lah. Masalahnya justru, kenapa waktu kita yang sebentar ini tidak digunakan untuk mengenal-Nya? Sibuk kita dengan nabi atau bukan, sibuk pula dengan surga atau neraka, sekalian pahala atau dosa… Lha, Allah-nya mana?
Desember 13, 2008 at 11:02 am
pada hakikatnya, nabi khaidir adalah seorang INSAN KAMIL………
Februari 7, 2009 at 6:21 pm
Menurut saya, status Khidir AS wali atau nabi – adalah urusan Alloh, hanya Dia yang Maha Tahu. Begitu juga dengan sorga & neraka.
Tanggung jawab kita hanyalah bertaqwa kepada-Nya.
Februari 12, 2009 at 4:18 am
asalaamualaikum,
maf nich aku tertarik ma topik yg lagi dibicarakan mohon bantuannya.
menurut aku wali atau nabi adalah mahluk allah, dan yang khalij maha sempurna dan maha berkehendak jadi apa yang terjadi menurut saya itu jarena kehendak Allah. manusia punya kelebihan, karomah, kesaktiaan itu hanya sareat hakikat nya adalah Allah. karena menurut saya kejadian sekecil apapun mengandung hikmah bagi yang mau berpikir. bernafas pun ada hikmah di baliknya.
Maret 5, 2009 at 3:13 am
Kata Imam Al-Ghazaly, berdasarkan sikap pengetahuannya manusia terbagi kedalam 4 kategori :
1. Ada orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.
2. Ada orang yang tahu bahwa dia tidak tahu.
3. Ada orang yang tidak tahu bahwa dia tahu.
4. Ada orang yang tahu bahwa dia tahu.
manusia dalam kategori ke 1 (tidak tahu bahwa dia tidak tahu) adalah tipe kodok dalam tempurung, biasanya bersikap ” aku mengetahui semua” oleh karena itu orang ini bersikap sok tahu, sok pintar,sok benar sendiri,dan merasa sah-sah saja menghakimi orang lain bahkan mengkafirkan orang lain.
manusia dalam kategori ke 4 (tahu bahwa dia tahu)biasanya bersikap “semakin aku tahu maka ternyata aku semakin tidak tahu” orang ini bersifat rendah hati, menjaga bicara dan akhlaknya, tidak semaunya dan menghargai semua makhluk. Karena semakin banyak yang dia ketahui maka ternyata semakin luas semesta pengetahuan yang terbentang dihadapannya dan dia merasa sangat tidak ada apa-apanya dihadapan sang Pencipta.
Dan Anda, wahai penulis artikel ini, Anda adalah manusia kategori pertama, manusia “kodok dalam tempurung” yang sebenarnya tidak-tahu apa-apa, tapi sok tahu, Anda tidak tahu bahwa Anda Tidak tahu, dan akibatnya jadilah Anda menjadi makhluk terkutuk yang sok tahu.
Sedalam apa ketaatan anda ???, setinggi apa kealiman anda ???, demikian sok hebatnya dan sok tahunya menghakimi Dunia Kewalian dan dunia kenabian.
Benar-benar, Anda adalah tipe orang teramat sangat bodoh yang teramat sangat buta dengan kebodohannya
astagrfirullaah
Sadarlah, Allah dan Rosulnya menegaskan “CELAKALAH ORANG-ORANG YANG BANYAK SESUMBAR TENTANG APA YANG TIDAK DIKETAHUINYA”
alias ngomong tanpa ilmu, asal nyeplok saja,
Nauuzubillah
YAA ALLAH LINDUNGILAH DIRIKU DAN SELURUH KETURUNAN KU DARI MANUSIA SEPERTI INI, DAN JANGANLAH ADA DARI KETURUNANKU YANG MENJADI MANUSIA KODOK DALAM TEMPURUNG SEPERTI PENULIS INI. AAMIIN
Erik Darmawan
September 7, 2009 at 4:02 am
kalau begitu, anda sendiri termasuk kategori yang keberapa? anda menjatuhkan tuduhan, pengadilan, terhadap orang lain yang merasa tahu, jadi anda sendiri merasa bahwa anda tahu bahwa ada orang lain yang tidak tahu. jadi, anda merasa tahu? kontradiktif, tidak konsisten, tidak adil, dan dilaknat ALLAH. introspeksilah, rendah hatilah, buka hati dan pikiran terhadap perbedaan, jangan sembarangan menjatuhkan vonis. anda hanya mendasarkan tuduhan pada satu sumber, sedangkan ahmadzain berkonsultasi dengan banyak sumber terpercaya (pikiran dan hatinya terbuka). justru andalah yang mempromosikan penggunaan satu sumber saja dalam pengetahuan agama, seakan-akan sumber itu paling benar. ingat: hanya ALLAH yang paling benar! bertobatlah, saudara!
Mei 29, 2009 at 10:49 am
Kalo menurut pendapat saya, hanya allah yg tau segala hal. Yg tampak maupun yg tdk yg halus maupun yg kasar,krna smua yg ada dbumi dan dlangt hanya kepunyaan allah smata. Jadi apalah untungnx kt memperdebatkan masalah itu. Itukan hal gaib, hanx allahlah yg tau barang gaib. Kt lihat aza dr kt, dah bnr pa blm. Dah bisa menjalankan perintah allh dg smprna pa blm. Tugas kt hanya ibadah kpdnya.:-)
Juni 8, 2009 at 2:59 pm
Telah terbit buku terbaru tentang Nabi Khidir as, dengan judul “Makrifat Nabi Khidir as” ditulis oleh M. Ali, diterbitkan oleh penerbit Oase Bandung.
Buku ini sangat cocok Bagi Anda yang masih bingung tentang ajaran atau diri beliau, buku ini sangat menarik karna disertai dengan kisah nyata. Semoga kita mendpt barokah dari Beliau. Amin
Juni 20, 2009 at 11:54 am
wau…sebuah kajian yang sangat bermanfaat bagiku,sedikit mencoba untuk menyampaikan hasrat menurut saya setiap memahami sesuatu harus lihat2 dulu yang akan di pahami jangan mudah berargumen sehingga langsung memfonis tanpa pikir panjang, terlebih dalam mengkaji ilmu, ibaratnya kita gakkan mampu ngimbangi kecepatan orang yang naik motor dengan cara kita berlari. sekian terimakasih
Juli 15, 2009 at 5:59 pm
Waliullah artinya Kekasih Allah…
Para Nabi…dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad adalah para kekasih Allah (para Waliullah).
Nabi adalah pangkat/level/derajat kemuliaan untuk menyebarkan/mendakwahkan aturan/syariat/hukum sesuai dengan zamannya masing-masing. Dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir, Nabi akhir zaman.
Ada ratusan pangkat Nabi, sebelum Nabi Muhammad SAW, yang menyampaikan kepada umatnya masing-masing tentang tujuan dasar (PENGABDIAN) kehidupan seorang hamba kepada Tuhannya.
dari sekian ratus Nabi…Allah berkenan menganugerahkan 25 orang Nabi dengan CahayaNya (NurNya)…itulah yang dinamakan dengan Rasulullah.
Itulah perbedaan Nabi dan Rasul. Para Nabi dan Rasul adalah para kekasih Allah (Waliullah).
Allah SWT berkenan mengutus KekasihNya, yang bernama khidir untuk mengajarkan dan menuntun KekasihNya yang lain yaitu Nabi Musa untuk lebih mudah bertemu TuhanNya (Allah SWT) dengan metodologi yang belum pernah terlintas dalam pemikiran Nabi Musa, Bahkan oleh keilmuan pada saat itu.
Kawan…Nabi Musa saat itu adalah seorang pemuda yang matang, hidup dalam lingkungan istana, kaya harta,penuh dengan ilmu pendek kata tidak ada ilmu dunia yang tidak beliau ketahui.
Namun Nabi Musa belum puas akan ilmu yang didapat, terutama sekali ilmu tentang keberadaan Tuhan…sebagai Pencipta alam semesta…Penggerak kehidupan.
Nabi Musa tidak yakin, bahkan Haqqul yakin bahwa bapak angkatnya yang bernama Firaun adalah seorang Tuhan. Walaupun pada saat itu masyarakat Mesir mempercayai bahwa Firaun adalah tuhannya.
Khidir AS dalam waktu singkat,yang pertama mengajarkan bagaimana hadap (kode etik) seorang murid kepada gurunya…tentang kepatuhan dan ketaatan, sebagai dasar transfer keilmuan sekaligus menundukan ke-aku-an Nabi Musa.
Yang kedua bagaimana cara berTuhan yang benar…mengenal Tuhan yang sebenarNya.
karena tidak tahu, meka tak kenal,tidak kenal maka tak sayang, tidak sayang maka tak cinta dan tak cinta maka tak kasih.
Mengenal Tuhan merupakan kehendakNya, seperti dalam FirmanNya : “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Kuciptakan Makhluk agar mereka mengenalKu” ….sekaligus arah, tujuan dari kehidupan manusia, seperti dalam firmanNya :” Tidak Ku ciptakan Jin dan Manusia, hanyalah untuk mengabdi kepadaKu”.
Agar pengabdian kita bernilai,maka kita harus mengenal kepada Siapa kita mengabdi.
Sehingga Tuhan(Allah)sebagai sesembahan kita berwujud,sebagaimana sifatNya yang pertama dan utama yaitu “WUJUD”.
Dengan demikian “Inni wajahtu wajahiya” kuhadapkan wajahku kepada WajahNya menjadi jelas. Sehingga seorang hamba haqqul yakin…dalam shalatnya wajahnya berhadapan dengan wajah TuhanNya…ini yang dinamakan shalat yang KHUSUK. Wajahnya berhadapan dengan wajah Sang khalik, bukan berhadapan dengan sajadah atau tembok ataupun fikiran-fikiran khayalan yang lain. Karena semua itu dapat diserupakan oleh syaitan.
Setelah dapat bertemu dengan TuhanNya, Nabi Musa mendapat anugerah derajat Rasul, untuk menyebarkan tentang Tuhan yang sebenarnya kepada umat manusia pada zaman itu.
Keyakinan atau akidah tentang Ketuhanan ini tentunya berakibat kepada kemarahan bapak angkatnya,yaitu raja sekaligus tuhan Firaun.
…..singkat cerita pada akhirnya para tukang sihir Firaun dan raja Firaun sendiri mengakuinya, ” Aku percaya kepada Tuhan(Nya) Musa dan Harun….”
Juli 22, 2009 at 1:31 pm
Khidir AS Adakah NABI Ato WALI..??
Kalo NABI pastinya ada Kitab ato Suhuf,
Tapi Khidir mengajar nggak pakai kitab…
Makanya Khidir itu seorang WALI,
Ajarannya dinamakan Ilmu Laduni…
Maap itu cuma pahaman gue aja…
Agustus 3, 2009 at 12:54 am
drpd al mahdin ns,nabi allah khidir turun kebumi dizaman hijau sewaktu nabi adam hingga sekarang ia tiada ibubapa belum ada nama khidir itu nama yang diberi oleh manusia ia ada 32 watak/rupa ia menyampaikan ayat2 tuhan kpd sumua rasul terdahulu akhir zaman menyampaikan jalan ketuhanan kpd imam mahdi untuk semua manusia .kitab jalan ketuhanan tlh pun diturunkan,
Agustus 3, 2009 at 1:09 am
drp almahdin ns segala ilmu dipegang oleh nabiallah khidir memerintah alam putih bermula dari tahun 1400H,tanda jerebu meliputi dunia masa yang ditetapkan tuhan iaitu 129600tahun telah sampai maka Jalan Ketuhanan diturunkan ke dunia,kpd imam mahdi disampaikan oleh nabi allah khidir,kitab jalan ketuhanan adalah himpunan dari kitab terdahulu yang pernah diturunkan kpd rasul dijadikan satu untuk membawa manusia kembali ketempat asal di arasy
Oktober 19, 2009 at 1:09 pm
Sebenarnya di Al-Quran juga ada urutannya kok. Rasol dimana, Nabi dimana dan Wali dimana..Cuman yang jadi masalah adalah sebagian Ulama sekarang ada yang tidak menghormati Wali2 Allah padahal kalau saya sih mengerikan. Para Wali Allah itu ada yang hapal Hadis sampai dengan 300 rb. Ulama sekarang baru hapal beberapa Hadis saja sudah berani mencap dan menyalahkan Wali… mengerikan…
November 29, 2009 at 3:19 pm
kalau ingin tahu nabi khidir,datang aja ke padepokan “lalar gawe” di bk temenggungan rt 04 rw 01 bl bendo sidoarjo jawa timur.
Desember 1, 2009 at 1:04 pm
yang pastinya nabi hidlir itu adalah hamba allah yang diberi keluasan ilmu oleh Allah SWT. dalam bagian terakhir surat albaqoroh ayat 282 diterangkan “dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarkan ilmu kepadamu”. maka bagi kita untuk bisa mendapatkan ilmu disamping belajar dengan tekun juga harus dengan taqwa kepada Allah.