Aqidah


Nilai-Nilai Tauhid Dalam Ibadah Haji

Dr. Ahmad Zain An Najah, MA

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, seorang muslim yang secara finansial cukup dan secara fisik mampu, wajib baginya untuk segera melaksanakan kewajiban ini. Ibadah haji mempunyai banyak keutamaan, diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rosulullah saw dalam beberapa hadistnya :

Pertama : Haji Mabrur pahalanya adalah syurga, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rosulullah saw bersabda : “  Umrah sampai umrah berikutnya merupakan  kaffarat ( penebus dosa ) yang dilakukan antara keduanya , dan haji mabrur tidak ada pahalanya kecuali syuga ( HR Bukhari dan Muslim )

Kedua : Haji Mabrur akan dihapus segala dosanya selama ini, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من حج فلم يرفث ولم يفسق ، رجع كيوم ولدته أمه

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata: Saya pernah mendengar Rosulullah saw : ” Barang siapa yang melakukan iabdah haji sedang dia tidak melakukan tindakan  rafast ( melanggar aturan haji ) dan fasik, niscaya dia akan pulang ke kampungnya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya ( HR Bukhari dan Muslim ) (lebih…)

Iklan

NABI KHIDIR AS DAN WALI ALLAH

Ahmad Zain An Najah

“ Keyakinan kita (ahlu al–sunnah wa al-jama’ah) adalah tidak memuliakan seorang wali di atas nabi, bahkan sebaliknya kita berkeyakinan bahwa satu orang Nabi lebih mulia dari seluruh wali “ ( Imam Thohawi )

Adalah seorang Kyai yang mendapat amanat sebuah jabatan yang bergengsi, akan tetapi yang sangat disayangkan adalah pernyataan-pernyataannya yang sering kali terdengar aneh, manuver-manuver politik nya sering membingungkan orang, alias nggak jelas dan sulit di tebak, “ manuver politik seorang wali “ kata seorang pengikutnya.

Bahkan ketika secara jelas, dia melakukan sebuah kesalahan fatal, masih ada saja yang menyeletuk: “ dia kan seorang wali , masak berbuat salah “ . Cara berpikir seperti ini perlu diluruskan.

Sebagian lain mengaku, bahwa dia mempunyai seorang guru, yang dalam satu waktu bisa berada di dua tempat. Percayakah anda bahwa dia seorang wali Allah ? Bahkan diantara mereka tidak bergeming sedikitpun ketika di bacok dengan pedang, apakah itu pertanda bahwa dia mempunyai karomah ? Bahkan konon beberapa diantara wali songo bisa merubah buah yang masih dipohon menjadi emas, malah diantara mereka ada yang bisa berjalan di dalam tanah. Bagaimana seorang muslim harus bersikap, ketika melihat fenomena di atas ? (lebih…)

ILMU PERBINTANGAN DAN RAMALAN CUACA

Ahmad Zain An Najah

عن ابن عباس ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من اقتبس علما من النجوم،اقتبس شعبة من السحر زاد على ما زاد ( رواد أبو داود وابن ماجه وأحمد )

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rosulullah saw bersabda ; “ Barang siapa yang mengutip satu ilmu dari ilmu perbintangan, berarti dia telah mengutip satu cabang dari ilmu sihir ” ( HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad )

Hadits di atas, walaupun secara tidak langsung, telah memperingatkan kepada umat Islam agar tidak coba- coba mempelajari ilmu perbintangan. Karena ilmu tersebut merupakan salah satu cabang dari ilmu sihir, sedang ilmu sihir sendiri telah diharamkan dalam Islam, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Demikianlah pesan hadits di atas secara global. Namun alangkah baiknya, kalau permasalahan tersebut kita kembangkan lebih luas lagi, mengingat banyak berhubungan dengan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kita.

PENGERTIAN ILMU PERBINTANGAN

Sebelumnya, marilah kita simak dahulu apa yang dikatakan Syekh Islam Ibnu Taimiyah tentang pengertian Ilmu perbintangan. Beliau mengatakan bahwa : “ Ilmu Perbintangan adalah ilmu yang mempelajari fenomena yang terjadi di langit dan menjadikannya sebagai standar ( petunjuk ) atas terjadinya sesuatu di bumi.” Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa dalam ilmu perbintangan, seseorang dituntut untuk selalu mengaitkan peristiwa yang terjadi di bumi ini dengan peristiwa yang terjadi di langit. Sebagai contoh, suatu hari di langit sedang terjadi gerhana matahari, maka seorang ahli ilmu perbintangan akan mengaitkan gerhana matahari tersebut dengan adanya peristiwa besar yang sedang , atau akan terjadi di muka bumi ini. (lebih…)

بسم الله الرحمن الرحيم

KEMBALI KEPADA

MANHAJ PARA SAHABAT 

DAN PENGIKUTNYA

Ahmad Zain An Najah, MA*

 

  1. Ajaran Islam pada hari ini sudah banyak tercampur dengan kebathilan, sehingga banyak dari umat Islam yang tidak bisa memahami ajaran Islam yang sebenarnya.
  2. Untuk membersihkan kembali ajaran Islam tersebut, maka di perlukan kaidah- kaidah yang berdasarkan Al Quran dan Sunnah, sehingga umat Islam bisa merujuk kepadanya ketika di perlukan.
  3. Kaidah tersebut terkristal  di dalam “ pemahaman Rosul dan para sahabat serta para pengikutnya “ (lebih…)

ARTI, SEJARAH DAN PERKEMBANGAN NASIONALISME

Ahmad Zain An Najah

Nasionalisme adalah sebuah faham yang membentuk loyalitas berdasarkan kesatuan tanah air, budaya dan suku.

Pengertian ini diperjelas kembali oleh Dr. Ali Nafi’ di dalam bukunya “Ahammiyatul Jihad”, beliau menulis: “Nasionalisme merupakan bentuk pengkultusan kepada suatu bangsa ( tanah air ) yang diaplikasikan dengan memberikan kecintaan dan kebencian kepada seseorang berdasarkan pengkultusan tersebut, ia berperang dan mengorbankan hartanya demi membela tanah  air belaka ( walaupun dalam posisi salah ), yang secara otomatis akan menyebabkan lemahnya loyalitas kepada agama yang dianutnya, bahkan menjadi loyalitas tersebut bisa hilang sama sekali”. (Dr. Ali Yafi’, Ahammiyatul Jihad, hal. 411)

Lain halnya dengan Prof. Hans Kohn, pakar sejarah terkemuka abad ini, yang menyatakan bahwa nasionalisme adalah suatu paham yang tumbuh dalam masyarakat dan mempunyai empat ciri:

1. Kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada Negara kebangsaan.

2. Dengan perasaan yang mendalam akan suatu ikatan yang erat dengan tanah tumpah darahnya.

3. Perasaan yang mendalam dengan tradisi-tradisi setempat, dan

4. Kesetiaan dengan pemerintah yang resmi.

(Gatra, 11 Nopember 1995, hal 76)

Perasaan ingin berkumpul dengan yang lainnya adalah sebuah fitrah yang tidak bisa dipungkiri oleh setiap orang. Karena manusia adalah makhluk ijtima’i. Islampun tidak melarang bahkan mewajibkan umatnya untuk bersatu dan berkumpul, bekerja sama di dalam menjalakan kewajibannya sehari-hari. (lebih…)

MEROMBAK PEMAHAMAN TAUHID

 

( kajian ulang terhadap pemikiran ahli kalam )

Ahmad Zain An Najah

 

TUGAS UTAMA PARA RASUL

Seorang muslim yang beriman dengan Allah dan para utusannya , tentunya harus mengetahui maksud dan tujuan utaman diutusnya para rasul tersebut kepada umat manusia ini. Apa arti beriman kepada para rasul kalau tidak mengetahui maksud dantujuan diutusnya mereka kepada umat manusia , karena tujuan beriman adalah beramal sesuai yang diimaninya. Kalau seseorang menegetahui maksud dan tujuan diutusnya para rasul, tentunya dia akan beramal sesuai dengan tujuan tersebut.

Disinilah letak kemunduran dan penyelewangan kaum muslimin terhadap ajaran agamanya. Mereka beragama asal beragama, beramal asal bermal tanpa mnegetahui hakikat agama itu sendiri.

  

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tiada Ilah selain Aku , maka sembahlah olehmu sekalian aku” (QS Al Anbiya’ : 25) (lebih…)

SEKILAS TENTANG BID’AH

 

 

Ahmad Zain An Najah, MA*

Pengertian bid’ah

  1. Bid’ah adalah —-> sesuatu perbuatan yang baru dalam agama Islam yang bertentangan dengan syareat, dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah .
  2. Bid’ah semuanya sesat, sebagaimana tersebut dalam hadits :

( كل بدعة ضلالة)

  1. – Adapun yang membagi bid’ah menjadi : bid’ah sayyiah dan bid’ah hasanah dan berdalil dengan perkataan Umar r.a , ketika menghidupkan kembali sholat terawih berjama’ah : ( نعم البدعة هذه ) adalah tidak benar, karena yg. dimaksud Umar ra adalah bid’ah secara bahasa. Selain itu sholat terawih secara berjama’ah pada bulan Ramadhon pernah dikerjakan oleh Rosulullah saw, kemudian beliau meninggalkannya, karena merasa kawatir sholat tersebut akan menjadi suatu kewajiban. Sholat terawih dengan berjama’ah tersebut tidak dihidupkan juga ada pada zaman Abu Bakar As- Siddiq r.a. (lebih…)

Laman Berikutnya »