Pengembangan Diri


MANAGEMENT WAKTU

( Volume : 1 )

Ahmad Zain An Najah, MA*

I . Waktu Dalam Al Qur’an dan Sunnah

Dalam banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu, seperti dalam firman-Nya :

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian ( Qs Al Ashr : 12 )

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, ( Qs Al Lail : 1-2 )

وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap ( Qs Ad Duha : 1-2 )

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia ini, karena Allah tidak bersumpah terhadap sesuatu di dalam Al Qur’an kecuali untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.

Bahkan dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa dengan menggunakan waktu tersebut seorang hamba bisa mengambil pelajaran dan bersyukur, sebagaiman yang tersebut dalam firman Allah swt :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. ( Al Furqan : 62 )

Tadzakkur berarti mengingat Allah, mengingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita, mengingat bahwa seorang muslim dalam hidupnya ini mempunyai tujuan yaitu beribadat kepada Allah swt dan memakmurkan dunia ini dengan nilai-nilai yang diletakkan oleh Allah swt, mengingat bahwa kematian adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi pada diri setiap manusia, sehingga dia harus mempersiapkan segalanya untuk menyambutnya. Dengan demikian tadzakkur berarti juga kesempatan untuk mengembangkan diri di dalam kehidupan ini untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia, negara, bangsa dan ummat, serta di akherat nanti menjadi pendamping para nabi , syhuhada siddiqun serta sholihun di syurga . (lebih…)

15 LANGKAH EFEKTIF

UNTUK MENGHAFAL AL QUR’AN

Ahmad Zain An Najah, MA

Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan yang paling sering dulang-ulang oleh manusia. Oleh Karenanya, seorang penuntut ilmu hendaknya meletakan hafalan Al Qur’an sebagai prioritas utamanya. Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena dia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. Kalau sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits dan fikih atau materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya sebagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran. “()

( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66

Di bawah ini beberapa langkah efektif untuk menghafal Al Qur’an yang disebutkan para ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :

(lebih…)

SUKSES BELAJAR

( 1 )

Ahmad Zain An Najah, MA *

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb sekalian alam, shalawat dan salam ditujukan kepada junjungan besar nabi Muhammad saw beserta para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat, amma ba’du :

Di bawah ini beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penuntut ilmu dengan seksama , agar mampu menguasai ilmu syar’I secara baik.

( I ) Kaidah Umum Dalam Belajar

Sebelum memulai belajar, seorang penuntut ilmu hendaknya memahami dengan baik- baik kaidah- kaidah yang diletakkan oleh para ulama untuk menjadi bekal para penuntut ilmu.

Kaidah –kaidah kalau dipegang teguh dan dihayati, insya Allah akan banyak membantu para penuntut ilmu di dalam mencapai cita-cita mereka

Diantara kaidah- kaidah tersebut adalah sbb :

Kaidah Pertama :

( العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيه كلك )

Ilmu itu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya, sehingga engkau memberikan kepadanya semua yang engkau miliki ”

Artinya, bahwa seorang penuntut ilmu jika berniat untuk mempelajari suatu ilmu, mestinya ia berani dan siap mengorbankan segala yang dimiliknya, dari harta, waktu, tenaga. Kemudian, seandainya dia sudah mengorbankan yang dia miliki tersebut untuk mendapatkan ilmu, maka belum tentu dia mampu meraih semua ilmu yang ada. Dan selama-lamanya dia tidak akan mampu menguasai seluruh ilmu tersebut, kecuali hanya sebagiannya saja.

Kalau ini hasil orang yang bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu, anda bisa membayangkan bagaimana hasil orang yang setengah-setengah atau tidak bersungguh –sungguh , serta tidak mau berkorban di dalam menuntut ilmu. (lebih…)

KEKUATAN ORANG – ORANG LEMAH

Ahmad Zain An Najah, MA

Seseorang yang ditaqdirkan oleh Allah menjadi orang yang lemah, baik itu karena badannya tidak kuat dan sering sakit-sakitan, atau karena miskin tidak punya harta, ataupun karena menjadi wong cilik dan rakyat biasa, hendaknya tidak perlu mlinder dan malu, serta merasa rendah. Karena Allah-lah yang telah menentukan keadaannya demikian. Yang terpenting baginya adalah berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah hakikat ketaqwaan. Kalau dia berusaha selalu istiqomah di dalam ketaqwaan tersebut, niscaya kedudukannya menjadi mulia di sisi Allah, walaupun di dunia ini tidak dihargai oleh manusia. Orang –orang yang lemah , tetapi tetap istiqomah dengan ketaqwaan-nya tersebut ternyata mempunyai kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka . Diantara kelebihan- kelebihan tersebut adalah :

1/ Kalau ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya.Rosulullah saw bersabda :“ Barangkali orang yang rambutnya semrawut dan bajunya berdebu, serta selalu ditolak jika bertamu, jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya “ ( HR Muslim )

Maksudnya adalah orang yang miskin yang tidak punya minyak rambut untuk merapikan rambutnya dan tidak punya baju banyak, sehingga kelihatannya lusuh serta tidak punya jabatan, sehingga sering diremehkan orang. Tetapi orang miskin dan lemah ini tetap istiqomah dengan ajaran Islam, maka jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Alah akan mengabulkannya. Karena walaupun dia kelihatan hina di mata manusia, tetapi dia adalah makhluk Allah yang sangat mulia di sisi-Nya sehingga dipenuhi permintaannya. (lebih…)

KESUKSESAN

Ahmad Zain An Najah, MA

Kuseksesan bukanlah semata-mata dihasilkan dari IQ (Intelligence Quotient )  semata. Daniel  Goleman, seorang profesor dari Universitas Harvard ,dalam bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence, menjelaskan bahwa ada standar  lain yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang, yaitu apa yang disebut EQ ( emosional Quantim )  atau kecerdasan emosional. Bahkan Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam bukunya  The  EQ Edge : Emotional Intellegence and Your Succes, mengatakan bahwa  skor tinggi  pada satu atu dua katagori saja, tidak menjamin seseorang menjadi jutawan , maju pesat atau mewujudkan impian yang paling kita dambakan. Tetapi pandangan sukses adalah sebagai hasil  dari gabungan atau ramuan sejumlah  kompetensi, beberapa diantaranya yang tak terduga sama sekali. (lebih…)

MANAGEMENT DA’I

( catatan yang belum tuntas )

Ahmad Zain An Najah, MA

Mungkin sebagian mahasiswa Al Azhar, ketika pertama kali hendak menginjakkan kakinya di bumi Kinanah Mesir ini, terbayang dalam benaknya, bahwa dia akan belajar dan “ talaqqi “ secara langsung kepada para ulama besar yang selama ini, ketika masih di indonesia, hanya bisa ia mendengar keharuman namanya lewat buku-buku yang diterjemahkan. Memory-nya mengingatkannya pada para ulama terdahulu, semisal Imam Nawawi yang mempunyai 12 mata pelajaran dalam sehari, kemudian ketika pulang ke tempat penginapannya, beliau tidak langsung tidur, ataupun berame-rame makan secara jam’ah dengan teman-temannya, sebagaimana yang lazim di kerjakan oleh para mahasiswa ketika pulang ke kotsnya untuk sekedar mengendorkan kepenatan kuliyah yang- sebenarnya- tidak sampai 5 jam pelajaran sehari. Imam Nawawi tidak puas hanya dengan 12 jam pelajaran, beliau melahap pelajaran yang beliau dapat dari para “ gurunya “ di majlis ilmu dengan menyalinnya dan menatanya kembali. Bahkan karena kesibukkan di dalam menuntut ilmu, sebagian para ulama terdahulu sempat lupa bahwa ikan yang ia simpan tiga hari yang lalu, telah basi. (lebih…)

Ahmad Zain An Najah

Tulisan ini digoreskan dalam rangka ikut bela sungkawa terhadap salah satu saudara kita yang ditimpa musibah secara beruntun. Digoreskan dalam usaha untuk ikut menghibur kesedihan yang merundungnya.

Saya melihat, bahwa musibah duniawi yang menimpa kita adalah sesuatu yang lumrah . Artinya sesuatu yang sangat wajar dan pasti akan di derita oleh setiap orang, karena semua orang yang hidup ini, pasti mengalami suka dan duka dalam kehidupan ini, dan dia tidak bisa menolaknya. Justru yang patut kita pikirkan adalah bagaimana musibah tersebut tidak menimpa agama kita, tidak menimpa kepada konsisten kita terhadap ajaran Allah dan tuntutan Rosulullah saw.

  (lebih…)