SEPUTAR ZAKAT FITRAH

Banyak para ustadz dan alim ulama yang menyampaikan bahwa puasa haruslah disempurnakan dengan zakat fitrah. Apa sickh manfaat zakat fitrah itu ustadz?

Jawaban :

Zakat Fitri mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah :

Pertama : Zakat Fitri merupakan salah satu bentuk solidaritas khususnya kepada fakir miskin yang tidak mempunyai makanan pada hari raya Idul Fitri.

Kedua : Zakat Fitri merupakan pembersih puasa dari hal-hal yang mengotorinya. Sebagaimana sabda Rosulullah saw :

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

” Zakat Fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji ( yang dikerjakan waktu puasa ) , dan bantuan makanan untuk para fakir miskin ” ( Hadits Hasan Riwayat  Abu Daud )

Berkata Waki’ bin Jarrah : Manfaat Zakat Fitri untuk puasa bagaikan manfaat sujud sahwi untuk sholat, kalau sujud sahwi melengkapi kekurangan dalam sholat, maka begitu juga zakat fitri melengkapi kekurangan yang terjadi ketika puasa.

Ketiga : Zakat Fitri merupakan bentuk syukur kepada Allah swt karena telah memberikan taufik-Nya sehinga bisa menyempurnakan puasa Ramadlan .

Kapan waktu paling afdhal untuk membagi / menyerahkan zakat fitrah? Dan bagaimanakah orang yang membayarkan zakat setelah menunaikan shalat idul fitri?

Jawaban :

Waktu paling utama untuk menyerah zakat fitrah adalah pada pagi hari sebelum sholat Ied, oleh karenanya disunnahkan untuk mengakhirkan sholat ied demi untuk memberi kesempatan kepada kaum muslimin untuk membayar zakat fitrahnya kepada fakir miskin. Adapun waktu wajibnya adalah setelah terbenam matahari akhir bulan Ramadlan sampai sebelum dilaksanakan sholat Ied . Dalilnya adalah hadist Ibnu Abbas bahwasanya Rosululullah saw bersabda :

من أداها قبل الصلاة  فهي زكاة مقبولة ، ومن أداها بعد الصلاة ، فهي صدقة من الصدقات

” Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shlat Ied, maka termasuk zakat fitrah yang diterima, dan barang siapa yang membayarnya sesudah sholat ied , maka termasuk sedekah biasa ( bukat zakat fitrah lagi ) “ ( HR Bukhari dan Muslim )

Hadist di atas menjelaskan bahwa barang siapa yang membayar zakat setelah idul fitri, maka tidak termasuk zakat fitrah, akan tetapi termasuk sedekah biasa. Dia menjadi berdosa karena mengundur-undur pembayaran zakat fitrah  dari waktu yang telah ditentukan, maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah swt dan tidak mengulanginya kembali. Sebagian ulama menyatakan bahwa pembayaran zakat fitrah sebelum sholat Ied merupakan hal yang sunnah dan dianjurkan, bukan merupakan kewajiban, sehingga zakat fitrah yang dibayarkan setelah sholat Ied masih dianggap syah, dan batasan akhir pembayaran adalah akhir hari raya.  

     Seandainya seseorang ingin membayar zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya pada bulan Ramadlan, maka hal tersebut dibolehkan. Karena Ibnu Umar ra pernah membayar zakat fitrah kepada panitia zakat satu atau dua hari sebelum hari raya Iedul Fitri. Bahkan sebagian ulama membolehkan membayar zakat fitrah pada awal bulan Ramadlan atau di pertengahan bulan Ramadlan.   

Wallahu A’lam.  

Sebagian orang, karena ingin ringkas dan cepat, mengganti zakat fitrah dengan uang yang senilai. Bolehkah yang demikian itu?

Jawaban :

Mayoritas ulama tidak membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang, tetapi yang wajib dikeluarkan adalah jenis makanan sebagaimana yang disebutkan oleh Rosulullah saw. Sebagian   ulama membolehkan seseorang mengeluarkan zakat fitrah dengan uang, karena kebutuhan fakir miskin berbeda-beda, khususnya zaman sekarang, kebanyakan orang lebih membutuhkan uang daripada makanan. Mereka berdalil dengan hadist Ibnu Umar ra :

 فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر وقال: أغنوهم في هذا اليوم

” Rosulullah saw mewajibkan zakat fitri dan bersabda : ” cukupkan mereka ( fakir miskin ) pada hari itu ” ( HR Daruqutni dan Baihaqi )

Mencukupkan fakir miskin bisa terwujud dengan memberikan uang atau sejenisnya yang dibutuhkan oleh fakir miskin dan tidak harus dengan bentuk makanan.

Diantara para ulama ada yang berpendapat bahwa dalam membayar zakat fitrah sebaiknya dilihat kondisi  fakir miskin setempat. Jika mereka memang lebih membutuhkan makanan, seperti beras dan lain-lainnya sebagaimana yang tersebut dalam hadist, maka sebaiknya orang yang berzakat mengeluarkan zakatnya berupa makanan. Akan tetapi jika mereka lebih membutuhkan uang, maka sebaiknya membayar zakat dengan uang, karena hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dan sesuai dengan tujuan  diturunkannya syare’ah. Wallahu A’lam

Saya seorang mahasiswa yang kuliah di Solo, sedangkan asal saya Jakarta. Bolehkah saya dibayarkan zakat fitrah oleh ibu saya di jakarta sana?

Jawaban :

Orang tua wajib membayarkan zakat fitrah untuk semua orang yang ada dalam tanggungannya, seperti istri dan anak-anaknya yang belum bekerja. Akan tetapi dibolehkan seseorang membayar zakat fitrahnya sendiri walaupun masih dalam tanggungan kedua orang tuanya. Wallahu A’lam.

Siapa sajakah orang-orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah itu?

Jawaban :

Orang-orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah adalah fakir miskin yang tidak mendapatkan makanan pada hari raya Idul Fitri. Dalilnya adalah sabda Rosulullah saw :

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ 

” Zakat Fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji ( yang dikerjakan waktu puasa ) , dan bantuan makanan untuk para fakir miskin ” ( Hadits Hasan Riwayat  Abu Daud )

Akan tetapi jika kebutuhan fakir miskin sudah tercukupi semuanya, maka zakat fitrah tersebut diberikan kepada golongan lain yang berhak mendapatkan zakat seperti yang tersebut dalam Al Qur’an :

إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم

  Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ” ( Qs. Al Taubah : 60 )

Ada sebagaian orang yang menyalurkan zakat-zakat fitrah mereka ke pesantren-pesantren dengan alasan karena para santrinya adalah penuntut ilmu agama yang termasuk fi sabillah. Benarkah demikian? Dan apakah seorang mahasiswa yang ngekos tergolong orang miskin yang berhak mendapatkan zakat fitrah?

 Jawaban :

Seandainya para fakir miskin sudah tercukupi semuanya, maka zakat fitrah itu boleh disalurkan kepada para santri-santri pondok karena mereka termasuk para penuntut ilmu .

Sebagian ulama membolehkan zakat untuk disalurkan kepada para  penuntut ilmu, walaupun mereka mampu untuk bekerja , dengan syarat ia ingin berkonsentrasi menuntut ilmu dan dikhawatirkan jika ia bekerja akan mengganggu belajarnya. Sebagian ulama lain membolehkan zakat dibayarkan kepada para penuntut ilmu untuk membantu mereka membeli buku dan keperluan-keperluan yang dibutuhkan untuk belajar. Mereka beralasan bahwa menuntut ilmu adalah fardhu kifayah, jika ditinggalkan , maka kaum muslimin akan berdosa semua.

Penuntut ilmu yang berhak mendapatkan zakat bisa ditinjau dari beberapa sisi diantaranya adalah bahwa  seorang penuntut ilmu  dikatakan orang miskin, jika uangnya dipakai untuk membeli buku dan keperluan lain yang menunjang ilmunya, sehingga hartanya tidak cukup  untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penuntut ilmu dikatkan ibnu sabil, jika ia belajar di luar daerahnya dan hartanya hanya cukup untuk membeli peralatan ilmu, sehingga dia tidak mempunyai bekal untuk kembali ke daerahnya, maka dia diberi zakat sampai bisa kembali pulang. Penuntut ilmu juga termasuk golongan ” Fie  Sabilillah ” , sebagaimana sabda Rosulullah saw :

من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع

” Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga pulang ” ( Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi )   

Wallahu A’lam

Ustadz, bolehkah orang-orang yang mengumpulkan dan membagikan zakat fitrah mengambil bagian zakat untuk diri mereka sendiri karena menganggap bahwa mereka termasuk amil zakat?

Jawaban :

Dibolehkan bagi amil zakat untuk mengambil bagian dari zakat fitrah tersebut. Karena amil zakat adalah salah satu dari 8 golongan yang berhak mendapatkan zakat fitrah. Akan tetapi sebaiknya jangan mengambil dahulu sebelum seluruh fakir miskin mendapatkan jatah. Wallahu A’lam.

Biasanya yang terjadi di kampung saya, zakat fitrah itu dibagi-bagikan kepada penduduk desa setempat. Bahkan orang yang membayar zakat juga mendapatkan bagian zakat. Apakah itu diperbolehkan?

Jawaban :

Yang paling berhak mendapatkan zakat fitrah dari suatu kampung adalah fakir miskin yang tinggal dikampung tersebut, jika semua fakir miskin yang ada di kampung tersebut sudah terpenuhi hak mereka, maka zakat fitrah tersebut dibolehkan untuk dibagikan kepada golongan lain yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti amil zakat, ibnu sabil, orang yang berhutang dan sebagainya.

Jika seseorang mendapatkan zakat fitrah karena termasuk dalam salah satu golongan yang tersebut dalam Al Qur’an, kemudian mempunyai kelebihan makanan, maka tidak apa dia juga ikut membayar zakat fitrah. Jadi bisa saja seseorang mengeluarkan zakat fitrah  karena mempunyai kelebihan makanan, dan dalam satu waktu menerima zakat fitrah juga, karena termasuk salah satu golongan yang berhak mendapatkan zakat fitrah. Wallahu A’lam

Apa ukuran orang fakir/miskin di negeri kita ini, Indonesia?

Jawaban :

Ukuran orang fakir miskin di Indonesia adalah orang yang tidak mendapatkan makanan pada hari raya Idul Fitri, atau orang yang pendapatannya tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya atau orang yang pendapatannya di bawah standar yang telah ditentukan oleh pemerintah, seperti : ketidakmampuan keluarga tersebut untuk makan minimal dua kali per hari, atau menempuh pendidikan sembilan tahun, atau mendapatkan pelayanan kesehatan standar, dan tak mampu membeli pakaian layak.

Sebagian pihak menentukan kriteria miskin untuk masyarakat kota adalah yang berpendapatan kurang dari Rp 138.803/kapita/bulan atau Rp 1.665.636/kapita/tahun, sedangkan untuk pedesaan adalah kurang dari Rp 105.888/kapita/bulan atau Rp 1.270.656/kapita/tahun.

Atau yang berpendapatan kurang dari Rp 8.328.180/rumah tangga/tahun, ini yang hidup di kota atau yang berpendapatan kurang dari Rp 6.353.280/rumah tangga/tahun yang hidup di desa dengan asumsi 5 jiwa/rumah tangga.

Sebagian pihak menentukan orang miskin di desa dengan ciri-ciri sebagai berikut yaitu : dalam sehari makan kurang dari 3 kali , penghasilan tidak tetap, tidak mempunyai sawah atau tegalan, hidup rumah sederhana dari gedeg  (bilik bambu) ukuran 6 x 4 meter persegi dan berlantai tanah.  Termasuk  para jompo, manula dan para janda yang ditinggal mati suaminya. Wallahu A’lam

Bolehkah dana zakat fitrah didistribusikan untuk lembaga pendidikan atau  bangunan mesjid dengan alasan pos fie sabilillah?

Jawaban :

Pada asalnya yang berhak mendapatkan zakat fitrah adalah para fakir miskin  yang tidak mendapatkan makanan pada hari Ied. Seandainya mereka sudah mendapatkan jatah semua, maka zakat fitrah boleh didistribusikan kepada delapan golongan yang disebutkan Allah swt dalam Al Qur’an, termasuk golongan Fie  Sabilillah . Namun para ulama sendiri belum sepakat di dalam menentukan maksud dari fi sabilillah.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud  fi sabilillah adalah para mujahid yang berperang melawan orang-orang kafir dengan senjata.  Sebagian ulama mengatakan bahwa fi sabilillah adalah seluruh proyek Islam yang memberikan manfaat orang lain. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa fi sabilillah adalah seluruh aktivitas yang bertujuan menegakkan kalimat Islam di muka bumi ini, dengan berbagai bentuk. 

Dengan demikian, menurut mayoritas ulama zakat fitrah tidak boleh didistribukan ke lembaga-lembaga pendidikan ataupun pembangunan masjid. Sedangkan menurut sebagian ulama hal itu dibolehkan karena termasuk proyek Islam yang bermanfaat bagi orang banyak. Wallahu A’lam .