HUKUM BADAL HAJI DAN MAHRAM-MAHRAMAN

Ustadz Zain yang di hormati Allah. Langsung saja ke pertanyaannya, Pertama, apa hukumnya Badal Haji ? Kedua, salah satu penomena di Mesir ini ada istilahnya Mahrom-mahroman dalam haji, yaitu seorang akhwat yang ingin melaksanakan ibadah haji harus mempunyai mahrom, ketika tidak ada, dia mengambil orang lain untuk menjadi mahromnya, apa hukumnya hal tersebut?

Teh Salsa

Jawaban :

Badal haji adalah jika seseorang menyuruh seseorang untuk menghajikannya dengan membayar kepadanya uang dalam jumlah tertentu. Setelah terjadi kesepakatan antara keduanya, uang tersebut menjadi milik orang yang disewa ( yang   melaksanakan haji ) untuk pihak penyewa. Jika terjadi hal-hal yang menyebabkan dia  terhalang untuk melaksanakan haji atau hajinya tidak syah karena tidak memenuhi rukun dan syaratnya, maka kewajiban untuk menghajikan orang yang menyewanya tetap menjadi tanggungannya sampai ia melaksanakannya.

Mengenai hukumnya, sebagian ulama membolehkan seseorang untuk mengambil ” Badal Haji ” ini, dalilnya adalah sabda Rosulullah saw  :

إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله

 ” Sesungguhnya yang paling berhak untuk diambil bayarannya adalah mengajar Al Qur’an ” ( HR Bukhari )

          Hadist di atas membolehkan seseorang mengambil upah dari mengajar Al Qur’an, begitu juga dibolehkan untuk mengambil upah dari menghajikan orang lain. Karena kedua-duanya memerlukan tenaga dan waktu, serta membawa manfaat bagi orang lain. 

          Untuk masalah mahram-mahraman, yang perlu kita ketahui pertama kali adalah bahwa para ulama masih berselisih pendapat tentang syarat dibolehkan seorang wanita melakukan haji tanpa mahram. Sebagian ulama tetap mensyaratkan mahram bagi wanita yang ingin melakukan ibadat haji, sebagaimana yang dianut oleh Madzhab Hanafi dan Madzhab Hambali, sedang sebagian ulama lain tidak mensyaratkan adanya mahram, tapi cukup dengan adanya rombongan wanita yang sholehah dan amanat serta keadaan aman, sebagaimana yang dianut oleh Madzhab Maliki dan Madzhab Syafi’i.

 Namun untuk keadaan sekarang, pihak penyelenggara ibadah haji – dalam hal ini – adalah pemerintahan Saudi mensyaratkan mahram bagi wanita yang ingin melakukan ibadat haji, khususnya yang dari Mesir, maka wajib baginya untuk berangkat dengan mahram. Sebagaimana disyaratkan bagi semua yang ingin melaksankan haji dari Mesir untuk mempunyai passport , iqamah dan visa. Semua syarat itu sebagian besar tidak ada pada zaman dahulu, akan tetapi demi untuk kemaslahatan bersama, maka syarat-syarat tersebut diadakan. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa siapa yang tidak mendapatkan visa atau mahram untuk pergi haji, maka tidak ada kewajiban haji baginya tahun itu, karena dia termasuk orang yang tidak mampu, sampai ia mendapatkan visa atau mahram. Kemudian kalau ada seseorang mengambil mahram secara tidak jujur hukumnya sama dengan orang yang memalsukan  passport atau data-data lainnya, khususnya jika kita dapatkan campur baur antara laki-laki dan wanita, bahkan sampai tidurpun masih bercampur baur, karena kapalnya kecil dan sempit . Walahu A’lam .