NIKAH URFI DAN NIKAH SIRRI

Ustadz Zain yang terhormat. Belakangan ini banyak kita dengar tentang Nikah ‘Urfi atau yang biasa kita sebut juga denga Nikah Sirri. Bisakah di terangkan lebih jelas lagi tentang Nikah Urfi atau Nikah Sirri ? apa hukumnya? Dan sejauh mana fenomena tersebut terjadi di masyarakat Indonesia dan masyarakat Mesir?

Terimakasih atas jawabannya. Semoga Allah membalas amal kebaikan kita semua, Amin.

a2 Nur

Jawaban :

Nikah ‘Urfi adalah nikah syar’I yang telah memenuhi rukun dan syaratnya, yaitu ada wali dan dua saksi serta diumumkan kepada orang banyak, hanya saja nikah ini tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Disebut Nikah Urfi karena nikah seperti ini dilaksanakan semenjak nabi Muhammad saw hingga sekarang secara turun temurun dan sudah menjadi adat atau kebiasaan masyarakat. Secara hukum nikah seperti ini syah. Hanya saja untuk zaman sekarang nikah seperti ini menyisakan beberapa masalah, diantaranya sering menyebabkan seorang suami dengan leluasa menganiaya istrinya dan anak-anaknya, hak-hak mereka tidak terpenuhi, bahkan tidak jarang seorang bapak tidak mau mengakui anak-anaknya. Pihak-pihak lainpun tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menuntutnya, karena tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Oleh karenanya, walaupun nikah seperti ini syah secara hukum, akan tetapi karena madhoratnya besar, maka sebagian ulama melarang pernikahan seperti ini. Selain itu, pernikahan seperti ini tidak sesuai dengan hukum dan undang-undang yang diterapkan oleh pemerintah setempat .

Adapun Nikah Sirri adalah pernikahan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi . Nikah Sirri ini mempunyai beberapa bentuk :

Pertama : Pernikahan yang telah memenuhi rukun dan syaratnya, dihadiri wali dan dua orang saksi, tapi mereka tidak mau mengumumkannya kepada orang banyak karena alasan tertentu . Para ulama berselisih pendapat tentang hukum nikah sirri dalam bentuk ini. Mayoritas ulama berpendapat bahwa nikah seperti ini pada hakikat nya bukanlah nikah sirri, karena terdapat dua saksi, sehingga mereka memandang bahwa nikah seperti ini adalah nikah yang syah secara hukum, akan tetapi makruh untuk dikerjakan. Mereka berdalil dengan sabda Rosulullah saw :

لا نِكاحَ إلا بوَلِيّ وشاهِدَيّ عَدْل

” Tidak syah suatu pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil ” .( HR Ahmad dan Daruqutni )

Hadist di atas secara tidak langsung menjelaskan bahwa nikah yang dihadiri wali dan dua saksi, adalah nikah yang syah.

Sebagian ulama dari madzhab Maliki dan madzhab Hambali berpendapat bahwa nikah sirri dalam bentuk seperti ini hukumnya batil dan tidak syah. Mereka berdalil dengan sabda Rosulullah saw :

فَصْل بَيْنَ الحلالِ والحرامِ الدفُّ والصوت

” Pemisah antara nikah yang halal dengan yang haram adalah dengan tabuhan dan suara ” ( Hadist Shohih Riwayat Hakim )

أعلنوا النكاح، واجعلوه في المساجد، واضرِبُوا عليه بالدُّفِّ

” Umumkanlah pernikahan dan jadikanlah tempatnya di masjid, serta pukulahn tabuhan untuknya ” ( HR Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Dua hadist di atas menunjukkan bahwa pernikahan harus diumumkan dan diketahui orang banyak, maka nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tidak boleh dan hukumnya batil

Bentuk Kedua : Nikah yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan dengan dua orang saksi akan tetapi tanpa wali, maka nikah seperti ini batil menurut mayoritas ulama.

Bentuk Ketiga : Nikah yang dilukan antara laki-laki dan perempuan tanpa ada wali dan dua orang saksi, maka nikah seperti ini batil menurut kesepakatan ulama .

Nikah Sirri dalam bentuk ketiga inilah yang sering dilakukan oleh masyarakat Mesir, khususnya antara mahasiswa dan mahasiswi.

Adapun Nikah Urfi, menurut data Mentri Kehakiman Mesir disebutkan bahwa 13.000 kasus masih dalam proses hukum untuk menentukan status anak, 70 persen dari anak-anak yang lahir tersebut berasal dari Nikah Urfi . Wallahu A’lam