BALASAN SESUAI DENGAN PERBUATAN

Ahmad Zain An Najah,MA

Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku anugrahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut

(QS Al Baqarah : 40)

Pelajaran Kesebelas :

Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ayat di atas adalah kita harus menyakini dan mengetahui sunatullah ( hukum-hukum Allah ) yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Hal ini sangat penting, mengingat banyaknya manusia yang gagal di dalam menempuh cita-cita hidupnya, hanya karena tidak memahami sunatullah ini. Sunatullah ini berlaku bagi seluruh manusia, tidak membedakan antara yang muslim dengan yang kafir. Sunnatullah yang bisa diambil dari ayat di atas adalah kaidah yang berbunyi bahwa : “ Balasan Sesuai dengan Perbuatan” ( [1] ) , tepatnya dalam firman Allah : “ dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu “ maksud ayat di atas adalah : Wahai Bani Israil , jika kamu memenuhi janjimu kepada-Ku yaitu dengan melaksanakan isi dan ajaran yang terdapat dalam kitab Taurat, niscaya Aku ( Allah ) akan memenuhi janji-Ku kepada-mu, yaitu Aku akan masukkan kamu ke dalam syurga.

Pelajaran Kedua belas :

Ayat di atas kalau kita terapkan pada umat Islam dengan menggunakan kaidah:“ Balasan Sesuai dengan Perbuatan”, maka bisa diartikan sebagai berikut : ” Wahai umat Islam, jika kamu memenuhi janjimu kepada-Ku yaitu dengan melaksanakan isi dan ajaran yang terdapat dalam Al Qur’an dan as Sunnah, niscaya Aku ( Allah ) akan memenuhi janji-Ku kepada-mu, yaitu membalasnya dengan pahala yang setimpal. Diantara balasan itu adalah :

( 1 ) Allah akan menolong dan meneguhkan keimanan kita ketika menghadapi berbagai masalah. Begitu juga akan meneguhkan kedudukan kita di tengah- tengah masyarakat sehingga kita menjadi manusia yang terhormat dan dipercaya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Muhammad :

“ Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu . “ ( Qs Muhammad : 7 )

Menolong agama Allah dalam ayat di atas berifat umum, baik menolong dalam bentuk peperangan dengan berjihad di jalan-Nya melawan musuh –musuh Islam, maupun dengan mempelajari ajaran-ajaran Allah, memahaminya, serta menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat, ataupun dengan menginfakkan harta kita demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini. Maka,sebagai imbalannya, Allah akan menolong dan meneguhkan orang yang menolong agamanya baik di medan perang maupun di tengah-tengah masyarakat.

( 2 ) Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa sebuah “ Al Furqan “ ( kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan ) dan akan menjauhkan kesalahan – kesalahan mereka serta akan mengampuni dosa-dosa mereka. Allah berfirman :

“ Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” ( Qs Al Anfal : 29 )

Ayat di atas menjelaskan bahwa Al Furqan, dan ampunan dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan merupakan imbalan dari ketaqwaan. Balasan sesuai dengan perbuatan.

( 3 ) Allah akan memberikan kepada orang yang bertaqwa sebuah jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapinya di dunia ini , memberikannya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka, serta akan mencukupi segala keperluannya selama hidup di dunia ini. Allah berfirman : “ Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. “ ( Qs At Tholaq : 2-3 )

( 4 ) Allah akan memudahkan segala urusan orang yang bertaqwa. Allah berfirman :

“ Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. “ ( Qs At Tholaq : 2-3 )

Semua ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa balasan dan imbalan sesuai dengan perbuatan, dan Allah tidak akan mendholimi para hamba-Nya sedikitpun juga.

Pelajaran Ketiga belas :

Salah satu contoh konkrit dalam kehidupan kita sehari-hari dan bisa kita temui dibanyak tempat tentang kaidah : Balasan Sesuai dengan Perbuatan” adalah kisah seorang Arab yang konon mempunyai kepandaian meniru-niru perilaku dan gerak-gerik yang dilakukan orang lain. Orang tersebut mempunyai kebiasaaan jelek, yang seharusnya tidak dilakukannya, yaitu kebiasaan mengejek serta mengolok-ngolok orang dengan meniru gerak-geraknya, khususnya orang-orang yang lemah dan cacat serta mempunyai kekurangan. Ia sengaja melakukan perbuatan tersebut agar orang lain ikut tertawa bersamanya. Pada suatu hari, dia melihat seorang pengemis yang matanya buta sedang berjalan di pasar. Seperti biasanya, si-lelaki tersebut ingin berbuat iseng agar orang-orang yang di pasar ikut tertawa mengejek pengemis tersebut. Apa yang ia lakukan terhadap pengemis tersebut ? ia sengaja menjegal pengemis yang buta itu dengan kakinya, secara otomatis pengemis yang buta dan tidak bisa melihat apa yang ada di depannya tersebut jatuh terjerembab, seketika itu juga semua orang yang di situ mentertawakannya. Pada suatu malam, laki-laki tadi berkumpul bersama beberapa temannya yang mempunyai sifat jahat juga, sebagaimana biasanya, ia selalu menceritakan kejelekan – kejelekan orang lain dan meniru-niru gerakkannya, termasuk menceritakan pengemis yang dia jegal di pasar beberapa hari yang lalu. Setelah larut malam, laki-laki tersebut baru pulang ke rumahnya, kebetulan ia mempunyai istrinya yang akan melahirkan anaknya yang pertama. Mengethaui hal itu, segera ia membawa istrinya ke rumah sakit. Ternyata di rumah sakit tersebut, istrinya mendapatkan kesulitan dalam proses melahirkan. Karena capai menunggu, akhirnya sang lelaki tadi pulang kembali kerumahnya sambil menunggu kabar kelahiran anaknya dengan cemas, tak berapa lama kemudian, pihak rumah sakit menelpunnya, seraya memberitahukan bahwa anaknya yang bernama Salim telah lahir. Dengan tergesa-gesa, penuh kegembiraan dia mendatangi rumah sakit tersebut, namun sebelum ketemu istri dan anaknya, dia diberitahu oleh dokter yang menangani istrinya bahwa anaknya ternyata mengalami masalah pada kedua matanya, dan kemungkinan besar dia mengalami kebutaan. Mendengar hal itu, dia terhenyak dan tertegun sejenak, kemudian dia hanya bisa termangu seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi …terekam kembali pada dirinya saat-saat dia menghina seorang pengemis buta di pasar dan menjegalnya sehingga jatuh terjerembab dan semua orang mentertawakannya. Sungguh sangat benar bahwa : ‘ Balasan sesuai dengan Perbuatan . “

Cerita selengkapnya adalah : ketika mengetahui anaknya buta, dia sangat kecewa dan tidak mau memperhatikannya sama sekali. Dan ketika beranjak besar ternyata anaknya yang buta tadi, mempunyai cacat fisik lain yaitu kakinya pincang sebelah. Mengetahui hal itu sedihnya bertambah dan dia semakin tidak mau menoleh dan memperhatikan anaknya sama sekali. Setelah lewat beberapa tahun lamanya, akhirnya istrinya melahirkan dua anak laki-laki lainnya yang ia beri nama Umar dan Kholid. Kebetulan mereka berdua lahir dengan selamat dan sempurna. Laki-laki tadi hanya memperhatikan Umar dan Kholid saja. Pada suatu hari, yang kebetulan waktu itu adalah hari jum’at, ketika dia mau menghadiri undangan pernikahan salah seorangtemannya, tiba-tiba dia mendapatkan Salim, anaknya yang buta dan pincang menangis tersedu-sedu, sebuah pemandangan yang tidak pernah dia lihat pada diri Salim. Tetapi kali ini, tidak tahu kenapa terdetik dalam dirinya untuk mendekati Salim setelah selama ini ia tidak mau memperhatikannya sama sekali, kemudian ia menanyakan sebab dia menangis, Salim menjawab bahwa biasanya adik-adiknya setiap jum’at mengantarkannya ke masjid lebih awal sehingga dia bisa duduk di shof pertama, hari ini ternyata adk-adiknya terlambat sehingga dia menangis. Mendengar jawaban Salim tersebut, hati laki-laki tersebut seakan-akan disambar petir dan akhirnya terenyuh juga, sehingga dia menyanggupi untuk mengantarkannya, padahal sudah beberapa tahun lamanya dia tidak pernah sholat jum’at. Sesampainya di masjid dia dan anaknya Salim sempat duduk di shof pertama. Setelah selesai sholat Jum’at, Salim meminta ayahnya mengambilkan mushaf Al Qur’an, Laki-laki tersebut kaget dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri bagaimana anaknya yang buta ini akan membaca Al Qur’an. Dia kaget ternyata anaknya sudah hafal surat Kahfi, dia sangat malu dengan anaknya yang cacat tersebut. Akhirnya dia menangis tersedu-sedu memohon ampun kepada Allah terhadap dosa-dosanya selama ini dan pada waktu itu juga dia bertubat kepada Allah dan berjanji pada pada dirinya sendiri untuk tidak bergaul kembali dengan teman-teman yang jahat, dan sebaliknya ingin bergabung dengan teman-teman yang sholeh. Sejak itu dia sangat mencintai Salim dan akhirnya dia menjadi salah satu Da’I yang ternama. Subhanallah ….ternyata anak kecil yang buta dan pincang dan sering diremehkan oran-orang, bahkan oleh bapaknya sendiri, ternyata telah mampu membuat bapaknya yang sangat keras hatinya, menjadi orang yang baik bahkan berubah menjadi dai Islam.

( [2])

Pelajaran Keempat belas :

Ayat di atas juga memperingatkan kepada Bani Israil agar selalu takut kepada adzab Allah swt yang penah menimpa nenek moyang mereka, karena mereka mengingkari ayat- ayat Allah dan membunuh para nabi, sehingga mereka disiksa dengan merubah wajah mereka menjadi wajah kera dan babi. Ini juga bagian dari Imbalan atau siksaan yang sesuai dengan perbuatan.

Pelajaran Kelima belas :

Takut Kepada Allah adalah salah satu bentuk Ibadah, oleh karena itu, kita dilarang takut kepada selain Allah swt. Ibadah meliputi dua hal : perbuatan dhohir, yaitu berupa ; sholat, puasa, haji dan lain-lainnya. Yang kedua ; yang berbentuk amalan batin, yaitu takut, yakin , ikhlas dan lain-lainnya ( [3] ) Timbul sebuah pertanyaan : Kalau kita takut kepada binatang buas , apakah hal tersebut menyalahi ayat ini ? Jawabnya adalah : bahwa takut terhadap hal- hal yang membahayakan dirinya adalah takut yang wajar( [4] ) , selama dia masih menyakini bahwa hanya Allah sajalah yang bisa memberikan manfaat dan mudharat. Oleh karenanya, kita dapatkan juga bahwa nabi Ibrahim as. takut pada beberapa hal yang disebutkan dalam Al Qur’an, diantaranya takut ketika tongkatnya berubah menjadi ular, takut ketika malaikat datang sebagai tamu dan tidak mau makan daging yang dihidangkan, begitu juga takut ketika tukang sihir Fir’aun melempar tali-tali yang kemudian menjadi ular yang sangat banyak.

Pelajaran Keenam belas :

Bisa disimpulkan dari ayat di atas bahwa Allah swt mengajarkan kepada Bani Israil dua perkara yaitu : At Targhib dan At Tarhib( [5] ) ( Memberikan harapan dan Menakut-nakuti ), ( [6] ) karena pertama kali, Allah memberikan janji yang baik kepada mereka jika mereka mau menepati janji Allah dan setelah itu Allah memerintahkan mereka untuk takut kepada adzab-Nya.

Kairo 1 April 2007


( [1] ) Diantara buku-buku yang membahas kaidah ini secara lebih luas adalah Buku “ Al jaza’ min Jinsi Al Amal, karya dr.Sayid bin Husain Al Affani, As Sunan Al Ilahiyah fi Al Afrad wa Al Mujtama’ “ , Risalah Desertasi karya DR. Muhammad Asyura. Disana ada juga beberapa kaset yang membahas masalah ini diantaranya adalah “ Al Jaza min Jinsi Al Amal, oleh Syekh Abu Ishaq Al Huwaini. Dan Insya Allah penulis juga akan membahas masalah ini secara panjang lebar dalam bentuk buku dengan menyertai contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan Allah memberikan Taufik-Nya untuk bisa menyelesaikannya.

( [2] ).Cerita ini bisa didengar di kaset “ Al Aiduna Ilallah “ Syekh Kholid Rasyid, atau bisa dilihat juga di situs : http://www.saudistocks.com)

( [3] ) Lihat, DR. Sholeh fauzan, Aqidat At Tauhid , hlm : 53, DR Safar Hawali, Dhohiroh Irja’ , Juz II, hlm : 562

( [4] ) Lihat Tafsir Syekh Utsaimin

( [5] ) Imam Al-Mundiri mengarang buku yang memuat hadist-hadist yang memuat harapan dan ancaman dan diberi nama : “ At Targhib dan At Tarhib, “ , kemudian dikembangkan oleh Syekh Al Bani di dalam kedua bukunya : “ Shohih At Targhib dan At Tarhib “ dan “ Dha’if At Targhib dan At Tarhib “ .

( [6] ) Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Adhim, Juz I, hlm : 133