Salah satu  contoh dari makruh adalah   Sabda Rosulullah saw :

لا يمسكن أحدكم ذكره بيمينه وهو يبول ، ولا يتمسح من الخلاء بيمينه ، ولا يتنفس في الإناء ”

Janganlah salah satu dari kalian memegang kemaluan-nya dengan tangan kanan, ketika sedang kencing, dan jangan cebok dengan tangan kanan, serta jangan bernafas ketika minum. “ ( HR Bukhari, no : 153, Muslim , no : 602 )

Larangan dalam hadist di atas, menurut mayoritas ulama adalah larangan yang tidak tegas, maka dihukumi “ makruh “ , bukan haram. Kalau ada pertanyaan, apa ciri yang membedakan antara larangan tegas dan tidak tegas ? maka jawabannya : untuk hadist ini kita katakan bahwa larangan di sini berhubungan dengan adab dan akhlaq saja, dan tidak berhubungan dengan ibadah mahdho ( ibadat ansich ) . ([1])

          Disana ada pertanyaan lagi, apakah orang yang meninggalkan  sesuatu yang makruh, pasti diberi pahala ?  jawabannya secara terperinci adalah :   
1/ Jika dia meninggalkannya dengan niat bahwa syare’at melarang-nya, maka dia akan mendapatkan pahala.

2/ Jika dia meninggalkannya, hanya karena memang tidak terpikir di dalam benaknya, maka dia tidak mendapatkan pahala. ([2])

MUBAH

Mubah secara bahasa adalah sesuatu  yang diumumkan dan diijinkan .

Mubah secara istilah adalah :

1/ Apa yang dipilihkan syara’ kepada mukallaf untuk dikerjakan atau ditinggalkan

2/ Apa –apa yang tidak terkait dengan pujian dan celaan.

3/ Apa-apa yang tidak terkait dengan perintah maupun larangan.  

 

Mubah bisa diketahui dengan tiga cara :

1/ Ada nash dari syara’ yang menyebutkan bahwa hal itu tidak dosa, jika dikerjakan. Sebagaimana firman Allah :

وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاء أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu ( QS Al Baqarah : 231 ) .

2/ Tidak disebutkan larangan di dalam syara’.  Ini menunjukkan bahwa sesuatu tersebut mubah, dalilnya adalah kaedah  « al- baroah al ashliyah «  ( pada asalnya segala sesuatu itu halal, seperti hukum merekam tilawah Al Qur’an dan pengajian dengan tape, USB, atau handycam, dakwah lewat internet dsb.

3/ Ada nash yang menyebutkan bahwa hal tersebut adalah mubah, atau halal.

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

 Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” ( QS Al Baqarah : 187 )

Yang perlu digaris bahwahi disni  bahwa sesuatu yang mubah, jika ditinjau hakikatnya , bukanlah sesuatu yang dibebankan kepada mukallaf, artinya mubah bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan, atau sesuatu yang wajib.

           Memang harus diakui bahwa sesuatu yang pada asalnya adalah mubah bisa menjadi wajib atau haram atau makruh atau sunnah, jika disertai niat  . Seperti halnya : makan, adalah sesuatu yang mubah, akan tetapi kalau diniatkan untuk memperkuat ibadah sholat, dan ibadah sholat tersebut tidak bisa diaksanakan dengan sempurna kecuali dengan makan, maka makan yang asal hukumnya adalah mubah berubah menjadi wajib, karena ia merupakan sarana untuk menegakkan kewajiban, sebagaimana kaedah yang pernah kita pelajari :

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“ Segala  sesuatu  yang mana sebuah kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengan melakukannya, maka sesuatu  tersebut wajib dikerjakan . “

 AL- ‘AFWU

Al ‘Afwu adalah sesuatu yang dimaafkan. Menurut sebagian ulama Al ‘Afwu ini berada pada derajat antara halal dan haram. Derajat ini tidak termasuk dalam katagori hukum yang terbagi menjadi lima atau tujuh.

Dalam hal ini berkata Ibnu Abbas  ra. : “ Apa-apa yang tidak disebut di dalam Al Qur’an, maka termasuk apa yang dimaafkan oleh Allah swt 

Berkata Ubaid bin Umair : “ Allah telah menghalalkan sesuatu yang halal, dan mengharamkan sesuatu yang haram. Maka apa yang dihalalkan Allah adalah halal dan apa yang diharamkan Allah adalah haram. Adapun yang tidak singgung, maka dianggap sesuatu yang dimaafkan . “

Allah swt berfirman :

عَفَا اللّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُواْ وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

 Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” ( QS At Taubah : 43 )

          Akan tetapi bisa dikatakan juga bahwa Al ‘Afwu adalah sesuatu yang pada aalnya dilarang kemudian dilanggar, hanya saja Allah memafkannya.

Di sana ada perbedaan antara Al ‘Afwu, Al Ghofran dan Ar Rahmah seperti yang tertera di dalam surat Al Baqarah, ayat : 286 

1/ Al Afwu : adalah kesalahan yang dibuat oleh manusia terhadap hak-hak Allah, dan Allah memaafkannya, atau menutupinya.

2/ Al Ghofran adalah kesalahan yang dibuat manusia terhadap hak-hak manusia lainnya, tetapi Allah mengampuninya atau  menutupinya.

3/ Ar Rahmah adalah Rahmat Allah kepada manusia, sehingga dihindarkan dari terjerumus kepada dosa pada masa mendatang. Wallahu A’lam.

 




( [1] )     Sebagian ulama, diantaranya adalah madzhab Al Dhohiriyah mengatakan bahwa larangan dalam hadist tersebut berarti haram.  Dan jika dikerjakan maka perbuatan ceboknya  tidak syah.

( [2] )     Itu rincian ketika seseorang meninggalkan makruh. Adapun kalau dia meninggalkan sesuatu yang haram, maka rinciannya sebagai berikut  :

1/ Jika dia meninggalkan yang haram, karena syara’ melarangnya, maka dia akan mendapatkan pahala.

2/ Jika dia meninggalkan yang haram karena tidak terpikir dalam benaknya, maka dia tidak mendapatkan pahala.

3/ Jika dia meninggalkan yang haram karena tidak mampu dan tidak berusaha untuk melakukannya , maka dia akan dikenakan sangsi karena niatnya

4/ Jika dia meninggalkan yang haram karena tidak mampu dan berusaha untuk melakukannya, maka dia dihukumi seperti orang yang mengerjakan haram. 

Dalil rincian tersebut adalah sabda Rosulullah saw tentang orang miskin yang tidak mempunyai harta, tapi ketika melihat orang kaya yang berfoya-foya menghamburkan hartanya pada hal-hal yag haram, dia berkata : “ Seandainya saya mempunyai uang seperti dia, maka saya akan melakukan seperti yang ia lakukan “ ,  maka dengan niatnya tersebut dia sama-sama menanggung dosa “ ( Hadist Shohih Riwayat Ahmad ( 4/ 231) , Berkata Tirmidzi  dalam hadits no : 2325 :   Hadist ini derajatnya Hasan Shohih , Ibnu Majah , no : 4228 ) 

Dalam hadist tersebut orang miskin yang tidak mengerjakan maksiat, tetapi mempunyai niat dan kemauan untuk berbuat maksiat, maka dia sama-sama menanggung dosa, karena niatnya.

 

Dalil tersebut dikuatkan dengan sabda Rosulullah saw :

إذا التقي المسلمان بسيفهما فالقاتل والمقتول في النار ، قالوا يا رسول الله ، هذا القاتل ، فما بال المقتول ؟ قال : إنه كان حريصا على قتل صاحبه

Jika  dua orang muslim berperang dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh, kedua-duanya masuk api neraka. Para sahabat bertanya : “ Wahai Rosulullah saw, itu balasan orang yang membunuh, bagaimana orang yang terbunuh ? Rosulullah saw bersabda : “ Iya , karena dia juga berusaha untuk membunuh temannya “ ( HR Bukhari, no : 31. Muslim , no : 7113 )

            Dalam hadist ini, Rosulullah saw menyamakan orang yang terbunuh dengan orang yang membunuh, karena kedua-duanya berusaha untuk membunuh saudaranya. Wallahu A’lam.