Contoh lain dari sunnah yang berarti wajib adalah apa yang dikatakan oleh Anas ra  : “ Termasuk dari sunnah adalah jika seseorang menikah dengan perawan, padahal dia telah  menikah dengan janda, maka hendaknya dia tinggal bersamanya ( bersama perawan tersebut ) selama tujuh hari.( Bukhari no : 5213 ,Muslim no : 3562 (

Perkataan Sunnah yang dimaksud oleh Anas ra di atas adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh laki-laki terhadap istrinya yang baru.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Sunnah adalah sesuatu yang berdasarkan sunnah atau hadist. Sedangkan  Mustahab  adalah sesuatu yang berdasarkan ijtihad . Tetapi pendapat ini tentunya sangat lemah, karena sangat jauh kalau dikatakan bahwa  yang berdasarkan ijtihad adalah sunnah.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa pada hakekatnya hal-hal yang disebut di atas ( baik itu yang disebut mandub, sunnah, tathowu’ ataupun mustahab ) jika dikerjakan akan mendapatkan pahala atau terpuji  dan jika ditinggalkan tidak akan mendapatkan siksa, atau tidak dicela. Namun jika seseorang meninggalkannya secara keseluruhan dari sunnah yang ada, barangkali dia akan tercela bahkan oleh sebagian ulama menyebutnya  orang fasik yang tidak diterima persaksiannya. Sebagai contoh bahwa adzan adalah sunnah, namun jika suatu kampung tidak ada yang mengumandangkannya, maka kampong tersebut boleh diperangi. Begitu juga jika meninggalkan sholat Ied Fitri dan Ied Adha. Seperti halnya juga sholat  berjama’ah yang menurut sebagian ulama adalah sunnah muakkadah, namun jika seseorang meninggalkannya secara terus menerus, maka dia termasuk orang yang tercela, bahkan Rosulullah saw hendak membakar orang-orang yang sama sekali tidak pernah  sholat jama’ah di masjid.

 HARAM

          Haram mempunyai beberapa pengertian, diantaranya :

1/ Sesuatu yang jika dikerjakan akan mendapatkan siksa dan jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala.

2/ Sesuatu yang dilarang oleh syareat secara tegas.

3/ Sesuatu yang  tercela secara syar’I jika dikerjakan, dan terpuji secara syar’I jika ditinggalkan.

Haram juga dinamakan : sesuatu yang jelek, maksiat, dosa, sesuatu yang dilarang, sesuatu yang  ada ancamannya jika dikerjakan. .

 

PEMBAGIAN HARAM

Haram atau sesuatu yang dilarang terbagi menjadi  dua :

1/ Sesuatu yang dilarang karena memang pada hakekatnya adalah jelek, seperti : zina, mencuri, makan bangkai, minum khomr dan lain-lainnya.  Hal seperti ini tidak akan mungkin diperintahkan oleh syara’ dan hasilnya-pun tidak diakui oleh syara’, seperti :  anak yang lahir karena perzinahan, tidak diakui oleh syara’ sebagai anak orang yang berbuat zina, dan dia tidak mewarisi harta orang tersebut.

 2/Sesuatu yang dilarang karena           pengaruh sifat atau perbuatan lain yang menempel pada dirinya, artinya sesuatu itu pada hakekatnya tidak jelek, hanya  karena ada pengaruh luar, sehingga dilarang, dan ini terbagi menjadi dua bagian  :

 

          2.a/ Sesuatu yang dilarang karena pengaruh perbuatan lain yang menempel pada dirinya , seperti ; menggauli istri dalam haidh ([1]), mengadakan transaksi jual – beli ketika dikumandangkan adzan jum’at ([2]),  sholat  di dalam rumah curian atau  haji dengan uang hasil korupsi.

 

2.b/ Sesuatu yang jelek karena sifat yang melekat padanya, seperti : dalam  masalah ibadah : berpuasa pada hari I’ed, berpuasa pada hari tasyriq ( 11,12,13 Dzulhijjah ) , dalam masalah mu’amalah : riba dalam jual beli.

 

MAKRUH

Makruh  mempunyai tiga arti :

1/ makruh yang mempunyai makna asli, yaitu makruh secara istilah , yaitu :

·         1.a/Sesuatu yang dilarang oleh syara’ secara tidak tegas,

·         2.b/Sesuatu yang bila dikerjakan tidak tercela, dan jika ditinggalkan akan mendapatkan pahala

·         2.c/Sesuatu yang tidak tercela secara syara’ jika dikerjakan dia  dan terpuji seacra syara’ jika ditinggalkan.

 

2/  Makruh kadang berarti haram.  Arti inilah yang sering dimaksudkan oleh para ulama  di dalam buku-buku turast.  Sebagaimana Imam Syafi’I jika mengatakan : “ saya menganggap hal ini makruh “ maksudnya adalah haram . Sikap seperti ini didasarkan kepada kehati-hatian di dalam mengistinbatkan suatu hukum, karena Allah berfirman :

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.”  ( QS An Nahl : 116 )

 

3/ Makruh berarti meninggalkan sesuatu yang afdhol, cirinya adalah tidak ada larangan secara khusus dalam hal ini, seperti orang yang meninggalkan sholat dhuha

Sebagian ulama membagi makruh menjadi dua :

1/ Makruh karahata tahrim  yaitu sesuatu yang dilarang oleh syara’ secara tegas tetapi dalilnya  masih bersifat dhany , dengan melalui  hadist ahad atau qiyas. Seperti larangan laki-laki memakai baju dari sutra dan emas. Larangan ini berdasarkan  hadits ahad, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari  bahwa Rosulullah saw bersabda :

حرم لباس الحرير والذهب على ذكور أمتي وأحل لإناثهم

«  Diharamkan bagi laki-laki umat-ku untuk memakai sutra dan emas , dan dihalalkan bagi perempuan mereka «  ( HR Tirmidzi )

Seperti halnya juga larangan yang tersebut dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra  bahwa Rosulullah saw bersabda :

لا يخطب أحدكم على خطبة أخيه ، ولا بيع على بيع أخيه إلا بإذنه

«  Jangalah seseorang diantara kamu meminang atas pinangan saudaranya , dan janganlah membeli atau pembelian sauadaranya,kecuali dengan ijin-nya «  ( HR Abu Daud ) ([3])

2/ Makruh karahata tanzih, yaitu segala sesuatu yang dilarang oleh syara’ secara tidak tegas, dengan melalui dalil yang masih dhanni, seperti :  larangan makan daging kuda, larangan berwudhu dengan air liur kucing dan burung buas, dan lain-lainnya.

 

 

 

 




( [1] )  Seorang muslim yang mengerjakan hal ini, tidak terkena sangsi atau denda, kecuali diharuskan bertaubat dan istighfar. Sebagian ulama mengatakan bahwa sangsinya adalah membayar uang satu dinar jika menggaulinya pada awal haidh dan setengah dinar ketika menggaulinya  pada akhir haidh, ini didasarkan  pada hadits dhoif.         

( [2] )  Transaksi  ini dikatakan syah, walaupun terlarang, karena rukun dan syaratnya telah terpenuhi, hanyasanya waktu pelaksanaannya yang kurang tepat, , dan orang yang melakukannya dianggap berdosa, karena telah melanggar larangan Allah swt. Dianggap syah,.  Harus diakui juga bahwa sebagian ulama yang lain  menganggap transaksi tersebut tidak syah, dengan alasan bahwa transaksi tersebut dilarang oleh syara’, dan setiap yang dilarang oleh syara’ adalah sesuatu yang batil.        

( [3] )    Larangan ini hanya berlaku, jika sang perempuan sudah menyetujui lamaran sebelumnya. Tetapi, jika perempuan tersebut belum menjawab lamaran orang pertama, maka dibolehkan orang lain melamar perempuan tersebut. Tersebut dalam suatu hadits bahwa  Fatimah binti Umais pada suatu hari datang  kepada Rosulullah saw, seraya menceritakan bahwa telah ada dua orang yang melamarnya yaitu Mu’awiyah dan Abu Jahm, tapi kedua pelamar tersebut belum   ditanggapinya. Mendengar cerita tersebut Rosulullah saw tidak mengingkari dua pelamar tersebut. Seandainya dilarang, tentu beliau akan menegur pelamar yang kedua.   Wallahu A’lam.