HUKUM HAK WARIS ANAK ZINA

Bagaimana dengan hukum hak waris bagi anak yang dilahirkan diluar nikah ? (rizal)

Jawab :

Anak zina dibagi menjadi dua, anak hasil perzinaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bersuami, dan ana hasil perzinaan antara laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak bersuami .

  1. Anak hasil perzinaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bersuami. Hukum anak tersebut adalah tidak boleh dinisbatkan kepada laki-laki yang berzina dengan ibunya. Laki-laki tersebut tidak boleh dikatakan sebagai bapaknya, tetapi dinisbatkan kepada ibunya. Secara otomatis anak tersebut tidak berhak mendapatkan warisan dari laki-laki tersebut. Tetapi mendapatkan hak waris dari ibu dan saudara-saudara ibu, seperti bibi, dan paman dari ibu dan seterusnya . Dan seandainya anak zina tersebut meninggal, maka ibunya dan saudara-saudara ibu juga berhak mendapatkan warisan darinya. Seandainya anak zina tadi mempunyai anak, maka anaknya-pun berhak mendapatkan warisan darinya. Dalilnya adalah hadist yang berbunyi : “ Anak adalah milik firasy ( milik istri dan suaminya yang syah ) , dan laki-laki yang melakukan zina tidak berhak untuk mendapatkannya . “

  1. Anak hasil perzinaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak menikah. Dalam masalah ini, para ulama berselisih pendapat. Mayoritas ulama memandang bahwa anak hasil perzinaan dalam bentuk kedua ini sama hukumnya dengan anak hasil perzinaan dalam bentuk yang pertama. Sedang sebagian ulama berpendapat bahwa anak zina dalam bentuk kedua, jika laki-laki yang berzina tadi mengaku itu anaknya, maka dianggap anaknya, walaupun dari zina, dan berhak mendapatkan warisannya. Mereka mengambil dalil dari kisah Juraij, seorang sholeh yang dituduh berzina dengan seorang pelacur, Kemudian ketika bayi hasil perzinaan tersebut didatangkan, Juraij menekan perut bayi tersebut,sambil bertanya kepada bayi tersebut : “ Siapakah bapak kamu ? “ Bayi tersebut menjawab ( dengan izin Allah ) : “ Bapak-ku adalah pengembala. “ . ( HR Bukhari dan Muslim ). Maksudnya adalah pengembala yang sering datang didekat tempat ibadahnya Juraij, dan berzina dengan pelacur tersebut. Pengakuan bayi tadi dijadikan dalil bahwa anak zina darilaki-laki dan perempuan yang tidak menikah, bisa dianggap anaknya, dan bisa mewarisi dari keduanya.

Wallahu a’lam.