MUQADDIMAH WAJIB

Apa yang dimaksud dengan Muqaddimah Wajib  ? Muqaddimah Wajib adalah sarana yang harus dilakukan untuk mencapai sebuah kewajiban.

Mayoritas  ulama ushul menyatakannya dengan sebuah kaedah :

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

“ Segala  sesuatu  yang mana sebuah kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengan melakukannya, maka sesuatu  tersebut wajib dikerjakan . “

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari kita adalah bahwa melaksanakan perintah Allah secara lebih sempurna, tidak mungkin terwujud kecuali kalau umat Islam mempunyai sebuah kekuatan yang terorganisir dengan rapi, yang terwujud dalam sebuah negara atau khilafah, maka hukum menegakkan negara yang berdasarkan Islam atau menegakkan khilafah adalah wajib, karena hal tersebut merupakan sarana untuk melaksanakan Islam secara lebih sempurna.

Tetapi pertanyaannya adalah : apakah orang yang tidak bisa menegakkan negara yang beradasarkan Islam, menjadi berdosa karena hal itu adalah wajib ? Jawabannya adalah tidak, karena kewajiban tersebut tergantung kepada kemampuan . Dan Allah tidak akan mewajibkan sesuatu kecuali menurut kadar kemampuan mukallaf.

Muqaddimah wajib ini mempunyai dua bentuk :

1/Suatu kewajiban tidak akan terwujud kecuali dengan mengerjakan muqaddimahnya . Ini terbagi menjadi dua :

  • 1.a Muqaddimah yang ditentukan oleh syareat,  seperti : wudlu adalah muqaddimah untuk mengerjakan kewajiban sholat.  
  • 1.b Muqaddimah yang ditetapkan oleh akal, seperti : berjalan menuju Mekkah adalah muqaddimah untuk mengerjakan haji, menyuci sebagian kepala adalah muqaddimah untuk bisa melaksanakan kewajiban menyuci muka dengan sempurna, karena kalau muqaddimah tersebut tidak dilaksanakan, bisa dipastikan kewajiban meyuci muka tidak bisa terlaksana dengan sempurna. Begitu juga puasa pada sebagian malam adalah muqaddimah untuk berpuasa pada pagi harinya, karena kita tidak bisa berpuasa dari fajar sampai Maghrib keculai kalau kita berhenti makan sebelum datangnya fajar.

2/ Kita tidak bisa mengetahui suatu kewajiban kecuali harus mengerjakan muqaddimahnya, seperti : seseorang yang meninggalkan salah satu sholat dari sholat lima waktu yang ada, akan tetapi dia tidak mengetahui secara pasti sholat apa yang ditinggalkannya . Dalam kondisi seperti ini, dia harus mengerjakan seluruh sholat lima waktu, karena hanya dengan demikian dia bisa mengerjakan sholat yang ditinggalkannya tersebut. Maka empat sholat yang ia kerjakan merupakan muqaddimah wajib, sedangkan  kewajiban yang sebenarnya hanyalah satu sholat saja. Muqaddimah wajib tersebut harus ia kerjakan untuk menuju kepada kewajiban hakiki-nya.   

Contoh lain adalah jika baju kita terkena najis, akan tetapi tidak tahu dibagian mana najis tersebut, maka kita harus menyuci  baju  tersebut secara keseluruhan, karena tanpa itu, najis yang menempel di baju tidak bisa dihilangkan.

 

PERBEDAAN ANTARA MANDUB, SUNNAH DAN TATHOWU’

Mandub adalah segala sesuatu yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan  tidak mendapatkan siksa. Atau  segala sesuatu yang terpuji secara  syar’I jika dikerjakan dan tidak dicela secara syar’I ketika ditinggalkan . Atau sesuatu yang diperintahkan oleh syara’ secara tidak tegas.

Adapun al-Sunnah adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Rosulullah saw secara rutin.

Sedangkan Al Mustahab adalah yang dikerjakan oleh Rosulullah saw satu kali atau dua kali, seperti sholat dhuha , melakukan pengobatan dengan bekam. ([1])

At Tathowu’ adalah apa yang dikerjakan oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri, akan tetapi masih dalam kerangka syar’i. Mungkin bisa kita katakana bahwa Tathowu’ adalah sunnah-sunnah yang masih mutlak, seperti sholat sunnah mutlak,atau membaca Al Qur’an  dan berdoa kapan kita mau dan lain sebagainya.  Dalam suatu hadist disebutkan bahwa seorang badui bertanya kepada rosulullah saw tentang kewajiban sholat , maka Rosulullah saw menjawab bahwa yang menjadi kewajiban adalah sholat lima waktu, setelah itu orang badui tersebut bertanya ; “ Adakah kewajiban sholat selain itu ? ‘ Rosulullah saw menjawab “ Tidak, kecuali  anda melakukan Sholat Tathowu’

Sebagian ulama mengatakan bahwa Mandub lebih umum dari pada yang lain-lainnya. Mandub sendiri mempunyai  beberapa tingkatan :

 1/ Sunnah Muakkadah , adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Rosulullah saw secara rutin, seperti, sholat witir, sholat  2 rekaat sebelum fajar, sholat rowatib. Termasuk juga menikah, karena Rosulllah saw bersabda :

من أحب فطرتي فليستن بسنتي ومن سنتي النكاح

Barang siapa yang cinta dengan “ fitroh-ku “ , maka hendaknya dia melaksanakan sunnah-ku, dan diantara sunnah-ku adalah menikah “ ( HR Baihaqi :  7/ 78 )  

2/ Sunnah ghoir muakkadah , seperti sholat Dhuha, sholat empat rekaat sebelum Dhuhur, dan lain sebagainya.

Sebagian ulama lain membedakan antara istilah –istilah tersebut sebagai berikut :

1/ Sunnah adalah sesuatu yang dilakukan berjama’ah, seperti sholat Terawih, sholat I’ed Fitri dan I’ed Adha.

2/ Sedangkan Tathowu’ adalah sesuatu yang dikerjakan sendiri, seperti sholat Dhuha, sholat Rawatib, sholat Witir . sholat Tahajud  dan sebagainya. ([2])

Sebagian ulama mengatakan bahwa Sunnah di dalam I istilah syar’I lebih umum dari pada Mandub, karena Sunnah kadang berarti wajib, seperti halnya membaca Al Fatihah di dalam sholat Jenayah dengan mengeraskan suara. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra , ketika beliau membaca surat Al Fatihah dengan suara keras di dalam sholat Jenayah, kemudian beliau mengatakan : Ini saya lakukan agar mereka mengetahui bahwa hal ini adalah sunnah ( Bukhari no : 1335  )

Perkataan Ibnu Abbas ra di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan sunnah tersebut adalah wajib, karena membaca surat Al Fatihah di dalam sholat hukumnya wajib. ([3])

 




( [1] )  Imam Ahmad berpendapat bahwa melakukan pengobatan dengan bekam adalah sesuatu yang mustahab, maka beliau berusaha  mempraktekannya walau hanya satu kali dalam hidup ini. Namun sebagian ulama  berpendapat bahwa pengobatan dengan bekam bukanlah sesuatu yang mustahab, akan tetapi hanyalah salah satu bentuk pengobatan yang dilakukan  oleh orang Arab pada saat itu, sehingga seorang muslim tidak diharuskan mempraktekkannya.        

 

( [2] )  Oleh karenanya sebagian ulama mengingkari orang yang melakukan sholat tahajud dengan berjama’ah ( di luar bulan Ramadlan ) , karena sholat Tahajud ini ditetapkan  untuk dikerjakan sendiri-sendiri, jika dikerjakan secara bersama-sama, dengan alasan bagaimanapun juga, berarti telah menyimpang dari tujuan utamanya, dan dikatagorikan sebagai perbuatan bid’ah. Ini seperi halnya orang yang melakukan sholat Dhuha dengan berjama’ah, atau sholat sunnah fajar dengan berjama’ah atau sholat rawatib dengan berjama’ah.       

( [3] )  Akan tetapi kemungkinan juga yang dimaksud Ibnu Abbas dengan sunnah adalah membaca Al Fatihah dengan suara keras bukan dengan saura pelan. Dalam hal ini , sunnah berarti sesuatu yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan  siksa.