KESUKSESAN

Ahmad Zain An Najah, MA

Kuseksesan bukanlah semata-mata dihasilkan dari IQ (Intelligence Quotient )  semata. Daniel  Goleman, seorang profesor dari Universitas Harvard ,dalam bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence, menjelaskan bahwa ada standar  lain yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang, yaitu apa yang disebut EQ ( emosional Quantim )  atau kecerdasan emosional. Bahkan Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam bukunya  The  EQ Edge : Emotional Intellegence and Your Succes, mengatakan bahwa  skor tinggi  pada satu atu dua katagori saja, tidak menjamin seseorang menjadi jutawan , maju pesat atau mewujudkan impian yang paling kita dambakan. Tetapi pandangan sukses adalah sebagai hasil  dari gabungan atau ramuan sejumlah  kompetensi, beberapa diantaranya yang tak terduga sama sekali.

Intelligence Quotient (IQ) tidak dapat berkembang. Jika seseorang terlahir dengan kondisi IQ sedang, maka IQ-nya tidak pernah bisa bertambah maupun berkurang. Artinya, jika seseorang terlahir dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup, percuma saja dia mencoba dengan segala cara untuk mendapatkan IQ yang superior (jenius), begitu pula sebaliknya. Tetapi, Emotional Quotient (EQ) dapat dikembangkan kapan saja dan oleh siapa saja, tidak peduli orang itu peka, atau tidak, pemalu, pemarah, ataupun sulit bergaul dengan orang lain sekalipun. Dengan motivasi dan usaha yang benar dan sungguh- sungguh, seseorang dapat mempelajari dan menguasai kecakapan emosi tersebut.

Oleh karenanya, seseorang tidaklah perlu untuk pesimis dengan tingkatan IQ rendah ataupun pas- pasan yang dimilikinya, karena dia bisa meraih kesuksesan dengan mengembangkan EQ-nya, bahkan banyak orang yang tidak sukses dalam bidang studynya, tapi justru dia jauh lebih sukses di dalam kehidupan nyata di dibanding dengan orang yang hanya sukses dalam studynya saja, hanya karena dia mengembangkan kecerdasan emosionalnya ,  Sebagi contoh, sebut saja Bill Gates  orang yang terkaya nomor satu di dunia , sang pemilik royalty microsoft, Larry Ellison CEO of Oracle orang terkaya nomor dua, Michael Dell CEO dari Dell Corp.  dan lain- lainya. Ini bukan berarti, keberhasilan study tidak penting, tapi justru dari pernyataan ini kita harapkan seorang yang telah berhasil di dalam studynya, supaya  lebih meningkatkan dan mengembangkan keberhasilan tersebut pada bidang- bidang lainnya.

Kecerdasan Emosional ini, mengingatkan pada saya akan kemunduran yang di alami bangsa Indonesia dalam segala bidang, terutama dalam bidang pendidikan. Dalam suatu penelitian hasil survei UNDP menunjukkan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 112 dari 175 negara tahun ini …disebutkan bahwa mutu pendidikan di Indonesia relatif rendah , bahkan dikatakan terendah di Asea Tenggara , lebih rendah dari Vietnam. Ini dikarenakan, pendidikan di Indonesia masih cenderung bersifat simbolis , hanya basa- basi, yaitu mengejar ijazah tanpa disertai dengan substansi yang mencukupi. Dan yang diperhatikan hanyalah aspek kognitif saja, tapi aspek afektif dan psikomotoriknya di kesampingkan begitu saja. Atau dengan kata lain hanya bersifat deskriptif dan informatif saja, tidak bersifat sugestif dan preskiptif .  Padahal dunia pendidikan yang sebenarnya adalah membentuk karakter building , membangun manusia yang berperilaku ilmiyah,  mengerjakan sesuatu berdasarkan kebenaran . Akan tetapi sangat di sayangkan pendidikan oleh sebagian justru di jadikan lahan bisnis yang empuk. Kita lihat umpamanya untuk masuk  UI  melalui jalur khusus  harus mengeluarkan uang sebesar Rp 25 sampai Rp 75 juta. UGM Rp 5 juta, ITB Rp 45 juta dan IPB Rp 9 juta.. Di Semarang misalnya. Biaya masuk SD Negeri saja sekitar Rp 300 sampai 500 ribu. Untuk anak yang pintar, orang tua cukup mengeluarkan uang Rp 500 ribu, tapi bagi anak yang kecerdasannya pas-pasan, orang tua harus mengeluarkan biaya kurang lebih satu jutaan. untuk sekolah favorit seperti SLTP Islam Semarang, dibutuhkan uang sebesar Rp 1,6 juta. Dan ini meliputi, SPP bulan pertama, uang bangunan dan lainnya.

 

Oleh karena itu, diharapkan oleh setiap orang yang ada di sini untuk bisa merubah obsesinya tentang kesuksesan, bahwa kesuksesan bukanlah hanya pada bidang study semata, akan tetapi kesuksesan lebih luas dari pada itu. Akan tetapi bukan berarti juga , seperti yang di pahami oleh orang Eropa ( meminjam istilah Andreas Hafera ) di masa imperialisme dan kolonialisme meraja lela, bahwa sukses disimbolkan dengan gold, glory, gospel. Atau yang dipahami  orang Jawa bahwa kesuksesan dikaitkan dengan garwo, pusoko, wismo, kukilo, dan turonggo. Atau yang dipahami oleh orang – orang pada era industri, bahwa  sukses  selalu dipertalikan dengan kekuasaan (power), kekayaan (money), dan kemahsyuran (fame). Dan bukan pula yang dipahami oleh eksekutif muda di perkotaan seperti Jakarta bahwa sukses dihubungkan dengan car, condominium, career, credit card, dan car phone.

Menurut hemat saya, sukses dalam dunia pendidikan dan dalam dunia manusia secara menyeluruh yang terkait dengan ajaran Islam adalah mengumpulkan antara keberhasilan dalam aspek kognitif , apektif dan psikomotorik, atau lebih dikenal dengan Iman , ilmu dan amal.

Kesuksesan yang dicapai seseorang, tentunya, bukan dengan isapan jempol ataupun modal dengkul. Orang – orang yang sukses tentunya telah melewati berbagai rintangan dan tantangan di dalam menuju puncak kesuksesan. Orang yang berhasil tanpa pengorbanan dan perjuangan tidaklah di sebut sukses. Hal ini merupakan sunnatullah yang diletakkan dalam kehidupan ini. Kita dengar kata- kata pepatah: “ Barang siapa yang bersungguh – sunguh pasti mendapatkan”, ” Barang siapa yang berjalan pada jalan yang benar, pasti akan sampai “. Oleh karenanya, orang yang ingin sukses hendaknya melewati jalannya. Kesungguhan ini bisa dirasakan,  umpamanya dengan melakukan pendakian kepuncak gunung yang tinggi, bagaimana kita bisa merasakan pendakian yang melelahkan itu , satu tapak demi satu tapak dengan segala rintangan kita lalui hingga mengantarkan kita sampai puncak. Tanpa itu, nampaknya kesuksesan hanya tinggal angan- angan belaka.

>>> di ramu dari berbagai sumber >>>>>