MASA DEPAN DAN TANTANGAN

SYAREAT ISLAM DI INDONESIA

Ahmad Zain An Najah, MA *

Alhamdulillah washolatu wassalamu ala Rosulillah wa ba’du :

Muqoddimah

Kalau kita mengamati sejarah Indonesia, ternyata masyarakatnya pernah menerapkan syareat Islam., seperti hukum waris. Dan itu merupakan hukum awal dan telah di terapkan secara luas dalam masyarakat Indonesia.

Berbicara tentang penerapan syareat Islam , harus melihat dahulu unsur-unsur yang terkait :

  1. Pengetahuan tentang Syareat Islam

Perbedaan antara Syare’ah ( dasar-dasar hukum Islam yang tidak mungkin diubah/ tsawabith ) dan Fiqh ( usaha manusia untuk menerapkan syare’ah / mutaghozzirot )

Istimbatul Ahkam dengan segala perangkatanya —–>> Ijtihad Jama’I ( Lajnah Tarjih Muhammadiyah, Lajnah Bahtsul Masail NU, Dewan Hisbah Persis)

  1. Negara ( sebagai badan pelaksana )

– terkait dengan politik dalam dan luar negri

  1. Masyarakat ( sebagai obyek )
  2. Bidang penerapan ( spr-i-pol-ek-sos-bud-han-kam- )

Study Kristis terhadap penerapan Syareat Islam ( merujuk pada Qs. Al Baqarah : 208 )

  1. Sudia Arabia (menutup pintu-pintu yang mengarah kepada perbuatan negatif, penerapan hudud, ) —–> ( Timur Tengah )

2. Afghanistan era Thaliban ( terwujudnya stabilitas nasional, ketenangan dan keamanan) ——> Asia Tengah

3. Indonesia ( KHI— Perkawinan, warisan, wakaf )

5. Malaysia ( membasmi kemiskinan, program perumahan, tabung haji,

peningkatan mutu pendidikan) —–>Asia Tenggara

Beberapa tantangan penerapan Syareat Islam : — >> merujuk pada QS Az- Zukhruf 23-25, dan 83

  1. Negara / pejabat / konglomerat ( mutrofin )
  2. Budaya yang negatif ( al- abaa’/ adat istiadat nenek moyang )—–

Akulturasi Syareat Islam dengan kebudayaan

Beberapa jawaban :

    1. Menyakini bahwa Islam sebagai way of life yang mencakup seluruh kehidupan. ( budaya yang positif termasuk bagian dari Islam )
    2. Menyakini bahwa Islam tidak bertentangan dengan Fitroh ( Budaya yang positif)
    3. Menyakini umat Islam adalah umat yang satu ( ajarannya sama pada setiap tempat )
    4. Islam bersifat obyektif dan universal sedang budaya bersifat syubyektif, lokal dan temporal.
    5. Harus di rumuskan dahulu ( Tsawabith wal Mutaghoziroot ) dalam Syareat Islam
    6. Memahami kedudukan “ Al-‘Urf “( kebiasaan dan adat istiadat ) dalam Islam , memahami kaidah : “ Al Aadatu Muhakkamatun “ .
    7. Membentuk tim perumus ( Ijtihad Jama’i dari para ulama, ahli tata negara dan badan- badan yang terkait)

    1. Study kritis terhadap pergerakan Akultarasi Islam sepanjang sejarah :

Kaum Quroisy —>> ( QS. Az Zumar : 3, QS. Al Kafirun )

Bangsa Mongol era Holako Kan—–>> ( Undang- undang Al Yasiq )

Sistem dakwah Wali Songo –>> (wayang, jimad kalisada, kidung, primbon, sekaten, ‘apeman, Islam abangan-mutihan ),

Indonesia era Soekarno —->>( Nasakom ) ,

Liberalis- Sekularis ( Islam privat, Islam lunak, Islam Inklusif, Islam warna –warni, Islam tanpa negara )

  1. Kepentingan dunia ( ittibaul hawa )
  2. Kebodohan ( Al khirsh / dhonn )
  3. Kebanggaan intelektual / anarkis pemikiran ( Al Farhu bil Ilmi )

Metode Penerapan Syareat Islam : —- >> merujuk pada QS. An- Nisa: 82

  1. Penggabungan antara nilai- nilai ( pendidikan-sosial- moral- hukum )

    1. Prioritas —>>Pengarahan,Pendidikan,Penyadaran, Penyediaan fasilitas kesejahteraan.
    2. Hukum —>>hanya merupakan alternatif terakhir, sebisa mungkin di hindari, terbukti dengan ketatnya syarat-syarat untuk menjatuhkan hukuman, harus adanya bukti yang kuat, seperti dalam kaidah : “ Idroul hudud bi syubhat” , adanya kewajiban untuk menutup aib, dan yang jelas, hukum bukanlah satu-satunya yang memecahkan problematika masyarakat

Beberapa contoh :

1. Dalam kaidah pendidikan anak ( pendidikan sholat dilakukan pada umur ( 7 th) ——-> pelaksanakan hukuman pada umur ( 10 th. )

2. Untuk menjaga nilai- nilai positif dalam masyarakat. –>> QS An Nur ( ttg perzinaan )

· (Taujihat, penyadaran ,preventif , terdapat dalam (64 ayat / 97 % ) diantaranya berbentuk : ancaman bagi yang menyebarkan kekejian, kode etik berkunjung, kode etik masuk kamar orang tua , mendidik laki- laki dan perempuan untuk menjaga diri , menikahkan orang bujang dll )

· Adapun penetapan hukuman hanya tertulis didalamnya hanya ( 2 ayat / 3 %) termasuk di dalamnya hukuman bagi yang menuduh tanpa bukti.

3. Di dalamnya juga terkandung ajakan untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan menumbuhkan sikap optimis.

4. Begitu juga dalam ayat ttg.pencurian, pembuat kerusakan di bumi dan lain- lainnya

  1. Tanggung jawab masyarakat ( pemerintah ) :

menyediakan sarana yang menunjang aktivitas positif ( keadilan, pemerataan kesejahteraan , pemberantasan kemiskinan, menghilangkan hal- hal yang menimbulkan kecemburuan sosial, memberikan contoh rasa solidaritas dll)

menutup pintu- pintu yang menghantarkan pada aktivitas negatif.

Bahan Bacaan :

· Dr. Rifyal Ka’bah, Hukum Islam di Indonesia,Universitas Yarsi Jakarta 1999, 2.Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, Mizan,

· Sudirma Tebba ( ed.) Perkembangan Mutakhir Hukum Islam di Asia Tenggara, Mizan,

· Hartono Mardjono, S.H., Menegakkan Syareat Islam dalam Konteks Keindonesian , Mizan.

· UUI Press, Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam,

· Majalah Ummat, no.13/1995,

· Majalah Islah, edisi 83/1997,

· Majalah Al Furqon, edisi 11/2000 M dll

>>>>> Makalah ini dipresentasikan di dalam Seminar Syareat Islam : ‘ Akulturasi Syariat Islam dalam kontek Indonesia” .( KSW, PCINU ) , 27 Pebruari 2003 , Wisma Nusantara, Kairo. Mesir >>>>>>>>