PERGESERAN NILAI

PADA BULAN ROMADLON DI MESIR

Ahmad Zain An Najah, MA

 

       Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala rosulillah wa ba’du :Bulan Romadlon adalah bulan yang mulia dan penuh berkah. Seorang muslim yang baik, hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang penuh barakah ini, untuk meraih pahala sebanyak- banyaknya, agar kemudian bisa merebut predikat ” Al Muttaqin “. Namun perlu dicatat, bahwa semua amalan yang diterima disisi Allah adalah yang telah memenuhi 2 syarat ; pertama : amalan tersebut harus diniatkan karena Allah semata, sedang yang kedua : harus sesuai dengan tuntuan Rosulullah saw.  Alangkah baiknya kita perhatikan pesan seorang ulama yang sangat zuhud, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, beliau mengatakan: “  Seharusnya perhatian seorang muslim lebih tertuju kepada  perbaikan amal, dari pada memperbanyak amal itu sendiri“  . wasiat itu mengandung pesan bahwa amalan yang bagaimanapun banyaknya , kalau tidak benar maka tidak akan diterima disisi Allah.Oleh karenanya sangatlah penting bagi kita sebelum masuk bulan Romadlon untuk mengetahui amalan2  yang kurang sesuai dengan tuntunan Islam, untuk kemudian kita jauhi dan menggantikannya dengan amalan yang sesuai dengan tuntunan Islam.

        Dalam tulisan yang ringkas ini, penulis akan paparkan beberapa amalan, yang mungkin di yakini kebenarannya oleh kebanyakan orang, akan tetapi pada kenyataannya amalan tersebut bertentangan dengan As Sunnah. Atau kebiasan –kebiasaan yang mungkin tidak di sadari pelakunya, bahwa hal itu tidak sesuai dengan tujuan puasa itu sendiri.

 

1.PADUSAN.

        Padusan adalah istilah dalam bahasa jawa , berasal dari kalimat “ adus” yang artinya mandi. Yang kemudian istilah padusan lebih diartikan kepada  kebiasaan sebagian orang jawa, sehari sebelum romadlon tiba, mereka bersama- sama pergi ke tempat pemandian umum, untuk membersihkan badan. Ini di lakukan tiap tahun untuk menyambut bulan Romadlon. Apakah kegiatan seperti ini sesuai dengan Islam ?

       Pada dasarnya mandi adalah perbuatan yang terpuji, karena sesuai dengan adagium yang sering kita dengar “ kebersihan adalah termasuk dalam katagori keimanan”. Namun kalau upacara pembersihan diri itu ( mandi bersama-sama)  dilaksanakan dengan niat ibadah dan harus dilaksanakan pada waktu tertentu dan dengan cara- cara tertentu, maka amalan ini berubah menjadi amalan yang di cela dalam Islam, karena mengadakan upacara peribadatan baru yang belum pernah di contohkan oleh Rosulullah saw, dan masuk dalam katagori bid’ah.

 

2. BULAN PUASA ATAU BULAN MAKANAN ?

       Mungkin kita sudah mengetahui bahwa bulan romadlon adalah bulan puasa. Tapi kadang secara tidak sadar, perbuatan  kita sendiri dan ditambah lingkungan sekitar kita,  telah memberikan kesan bahwa bulan Romadlon adalah bulan makan-makan. Bagaimana tidak, warung- warung penjual makanan nampak marak hanya pada bulan Romadlon saja. Dan kenyataan dilapangan, menurut penelitian singkat dan sekilas, menunjukkan bahwa tingkat daya pembelian barang-barang , terutama bahan- bahan makanan, relatif meningkat drastis pada bulan Romadlon. Setiap orang yang berjalan-jalan ke pasar tentunya akan menemukan hal itu secara jelas. Fenomena semacam ini, paling tidak, menunjukkan  adanya pergeseran nilai-nilai. Dan ini tidak luput dari prediksi Rosulullah saw yang menjelaskan bahwa nilai –nilai Islam ini semakin hari akan semakin bergeser dan menjauh dari inti ajaran Islam itu sendiri.

      Sebagian orang Islam, kalau tak dibilang kebanyakan dari mereka, perhatiannya kepada  wasilah ( sarana) jauh lebih besar melebihi perhatian mereka kepada ghoyah ( tujuan ). Cobalah tengok, sebagai salah satu contoh saja, topik pembicaraan kaum hawa, khususnya para ibu rumah tangga, lebih banyak berkisar kepada makanan. Bahkan diantara mereka ada yang menghabiskan waktunya di dapur, hanya sekedar untuk menyiapkan buka puasa. Padahal pada bulan- bulan biasa mereka tidak sesibuk itu. Perhatihan mereka terhadap kulit dan pelengkap justru lebih besar dari pada perhatian mereka terhadap nilai-nilai puasa itu sendiri. Sebuah pergeseran nilai. 

 

3. MAIDATUR-ROHMAN DAN DAMPAK NEGATIFNYA

       Penulis  tidak mengkritik Maidaturrohmannya, tetapi para pelakunya atau orang- orang yang mengunjungi Maidaturrohman, baik orang- orang Mesir sendiri atau para mahasiswanya. Ini bukan berarti melarang mahasiswa atau siapa saja, untuk berkunjung ke Maidaturrohman, boleh-boleh saja, akan tetapi perlu diperhatikan kode etik dan adab-adab bulan Romadlon. Diantara adab-adab yang sering tidak diindahkan para pengunjung Maidatur- rohman adalah : berebut mengambil makanan, sebagaimana yang sering dilakukan sebagian “bawwab” ( para pekerja mesir) , bahkan diantara mereka kadang saling memukul dan sikut kanan kiri supaya lebih dulu bisa masuk keruangan makan, lebih ironisnya lagi sebagian dari mereka belum atau tidak sholat maghrib, cuma karena mengejar sepiring nasi.

            Para mahasiswapun akhirnya ikut-ikutan, walau mereka tidak berebut seperti “ bawaab “ tapi kadang sholat maghrib dan dzikirnya terkesan tergesa-gesa dan tidak khusu’. Bagaimana mau khusu’ dan tenang , kalau pikirannya sudah melayang –layang ke Maidataruhman. Maka diharapkan, khususnya mahasiswa yang ingin ke Maidaturrohman hendaknya tetap sholat Maghrib dengan khusu’ dengan merenungi bacaan – bacaan di dalamnya, kemudian setelah selesai sholat maghrib, hendaklah berdzikir secara seksama dan melaksanakan sholat sunnah ba’da maghrib dengan tenang, bukan langsung tancap gas ikut berdesak-desakan mengejar maidaturohman. Sungguh sangat aneh sekali, pada hari- hari biasa seseorang bisa melakukan semua itu ( sholat maghrib , dzikir dan sholat sunnah ) dengan tenang dan santai, kenapa justru pada bulan Romadlon malah nilai-nilai  semacam itu hilang ?

Jadi apa faedah dari berpuasa itu sendiri. Kalau begitu, mendingan kita masak sendiri dirumah, walau keluar biaya dan waktu sedikit,  tapi kita bisa melakukan ibadah dengan tenang.  Apalagi  kalau kita mau jujur bahwa Maidaturrohman itu sendiri disediakan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu atau mereka yang kebetulan sedang dalam keadaan safar. Kalau seseorang mampu masak sendiri pada hari biasa, kenapa tidak mampu memasak pada bulan Romadlon. Dan  pada bulan Romadlon sendiri kita di perintahkan untuk banyak infak dan memberi makan atau buka puasa kepada orang lain, bukan malah sebaliknya ikut mengurangi jatah orang-orang yangg mungkin lebih berhak dari pada kita dan dengan mengorbankan kekhusukan ibadah dan dzikir.

 

4. SUNNAH DIDAHULUKAN DARI YANG FARDHU

        Penulis juga merasa heran ketika sebagian orang pada bulan Romadlon ini keadaannya berubah.  Sebelum Romadlon mereka sering sholat maghrib dan  sholat Isya’ berjama’ah di masjid.  Namun ketika Romadlon tiba, mereka meninggalkan sholat maghrib berjama’ah ataupun kalau sholat berjama’ah mesti terlambat. Kalau kita amati ternyata mereka sibuk berbuka di rumah dengan berbagai aneka ragam makanan.

      Kenapa berbuka puasa harus meninggalkan sholat jama’ah maghrib di masjid ??? sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama. Bukankah pada bulan Romadlon pahala akan berlipat ganda  ? Bahkan Rosulullah saw mengajarkan kepada kita ketika berbuka disunnahkan makan kurma atau minum air putih. Dan ini sesuai dengan ilmu kesehatan yang menyatakan bahwa perut yang masih kosong tidak boleh langsung di isi dengan berbagai macam makanan , tetapi perlu pemanasan  terutama dengan makanan yang manis- manis. Kurma adalah pilihan yang terbaik, sekaligus sesuai dengan sunnah Rosulullah saw. Kalau kita mau menghitung berapa kerugian yang kita terima dengan membiasakan gaya hidup seperti itu ?? pertama : tidak sesuai dengan sunnah , kedua : kehilangan pahala sholat jama’ah yang tentu berlipat ganda pada bulan Romadlon, ketiga : meninggalkan cara hidup sehat.

      Bahkan sebagian mereka, karena belum puas dengan makan- makanan sebelum sholat maghrib, mereka meneruskan buka puasanya setelah sholat maghrib hingga waktu Isya’ tiba. Akhirnya mereka terlambat menghadiri sholat Isya’. Bagi sebagian orang, yang penting bisa mengikuti sholat tarawih, tidak apa- apa kalau hanya sekedar terlambat shoat Isya’-nya.

Sebuah pergeseran nilai, seakan- akan bulan Romadlon adalah hanya untuk mengerjakan  sholat tarawih. Kenapa amalan-amalan yang wajib, justru diremehkan pada bulan Romadlon ???

 

5.MASJID AMRU BIN ASH  DAN  MALAM  27  RAMADLAN

       Di dalam mengikuti ibadah solat tarawih, hendaknya kita memilih dan memperhatikan masjid – masjid yang dipakai untuk sholat tarawih, juga harus memperhaikan imamnya.Bukan berarti kita memilah- milah masjid yang ada. Akan tetapi memilih yang afdhol tentunya akan banyak menunjang kekhusukan ibadah kita. Ada sebagian masjid yang mengejar kecepatan sholat, bahkan sebagian masjid untuk  menyelesaikan sholat tarawih hanya membutuhkan 15 menit saja. Bahkan anehnya justru ceramahnya jauh lebih lama dari pada sholatnya. Sebagian masjid yang lain menambah ibadah tarawih dengan amalan-amaln lainnya sepErti bacaan solawat atau pujian-pujian di sela-sela terawih, mungkin sebagian yang lain lebih dari itu. Sholat terawih yang dengan sunnah adalah yang bacaannya benar, murattal, tidak terlalu cepat mengejar khotaman, sujud, ruku’nyapun sesuai dengan berdirinya, kalau tidak bisa sesuai dengan berdirinya, paling tidak mendekati kesana, tidak banyak tambahan dzikir-dzikir lainnya, seandainya diselengi ceramah romadlon, itupun tidak terlalu lama, karena apa yang biasa dilakukan para sahabat Rosulullah saw adalah  memendekkan khutbah/ ceramah dan memanjangkan sholat, sebagaimana yang pernah di katakan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya “  Bahwa engkau kini berada pada zaman yang banyak fuqoha’nya sedikit qurro’nya, di jaga di dalamnya  hukum-hukum Al quran, walau kadang terlepas huruf-nya, sedikit yang minta-minta , banyak yang memberi, mereka memanjangkan sholat dan memendekkan khutbah, dan mereka mendahulukan amalnya sebelum hawa nafsunya, Dan akan datang nanti sebuah generasi yang sedikit fuqoha’nya , banyak sekali quroo’nya, diperhatikan bacaan Al-qur’annya tapi di langgar hukum- hukumnya., banyak yang minta-minta sedikit yang memberi, panjang pembicaraan-nya,  pendek sholatnya, mendahulukan hawa nafsunya atas amalannya )

      Ada beberapa fenomena yang mungkin dianggap orang banyak itu baik, akan tetapi sebenarnya, menurut penulis, itu perlu dikaji kembali, yaitu kebiasaan yang dilakukan sebagian mahasiswa pada malam 27 Romadlon, untuk pergi beramai- ramai ke masjid Amru bin Ash. Kenapa harus ke masjid Amru bin Ash ? Barangkali jawabannya adalah karena sholat terawih di sana mempunyai gaya dan kesan tertentu, diantaranya karena Imamnya adalah Syekh Muhammad Jibril, seorang Qori’ yang sangat masyhur, khususnya dikalangan orang Mesir, selain bacaannya yang bagus dengan suaranya yang merdu, ditambah dengan doa-doanya yang kadang bisa membuat orang-orang menangis tersedu- sedu. 

        Barangkali kalau keadaannya seperti itu saja, tentu tiada orang yang mengingkari keutamaannya. Akan tetapi kalau  diamati lebih jauh lagi, kita akan dapati pemandangan-pemandangan lain yang perlu dikaji ulang  masyru’iyahnya, seperti, suasana yang ribut dan berdesak- desakan, do’a qunut yang terlalu berlebih-lebihan, baik dari segi waktu maupun isi dan reaksi dari para jama’ah sholat.  Kita perlu lagi mengkaji adab- adab do’a yang telah dituntunkan oleh Rosulullah saw.  Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rosulullah saw, apakah Allah itu dekat sehingga kalau berdo’a dengan pelan-pelan dan  khusu’ atau  jauh sehingga kalau memanggil-Nya harus berteriak-teriak ??, maka turunlah ayat 186  surat Al Baqoroh sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut  :   Apabila ada hamba-hambaKu yang bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah ) sesungguhnya Aku adalah dekat.`Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a , apabila ia memohon kepada-Ku. “

         Hal ini dikuatkan juga dengan hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim, bersabda Rosulullah saw kepada para sahabatnya  ketika mereka mengeraskan suara mereka dalam berdoa’a : “ Wahai para manusia , lemah lembutlah kepada dirimu sendiri, karena kalian tidak berdo’a kepada dzat yang tuli dan bukan pula dzat yang jauh, sesungguhnya yang engkau berdo’a kepada-Nya adalah Maha mendengar dan dekat “

Suatu ketika Hasan Basri berkata : “ Orang- orang  Islam dahulu ( para sahabat ) bersunguh-sungguh dalam berdo’a, tetapi hampir tidak terdengar suara mereka, seandainya ada itupun sekedar suara lembut antara mereka dengan Robb mereka, dan sesungguhnya Allah telah memuji seorang hambaNya  yang sholeh ( yaitu nabi Zakaria ) di dalam firmanNya : “( Yang di bacakan ini adalah ) penjelasan tentang rohmat Robb kamu kepada hambaNya Zakaria, ketika dia berdoa’ kepada Roobnya dengan suara yang lembut “ ( QS. Maryam : 2,3 )

Penulis tidak mengingkari do’a yang dialunkan para Imam masjid dengan menggunakan micropon, termasuk di masjid Amru bin Ash, tapi yang perlu diingatkan adalah keributan jama’ah sholat yang berteriak dengan suara keras- keras, sehingga mengganggu kekhusukan sholat. Apalagi kata- kata yang sering mereka suarakan dengan keras, seperti “ nasyhad, haqqon, na’lam, ya Allah “, yang kesemuanya itu tidak ada tuntunannya di dalam Islam. Bahkan diantara mereka ada yang berteriak dengan suara hesteris dan mengira bahwa suasana seperti itu adalah suasana ibadah yang paling afdhol, apalagi kalau bisa membuat orang nangis tersedu-sedu bahkan sebagian mereka meraung-rangung. Karena ributnya seperti itu, salah seorang ulama di Mesir menggambarkannya seperti orang- orang yang sedang demonstrasi di jalan- jalan. Selain hal tersebut tidak sesuai dengan adab berdo’a dan menghilangkan kekhusu’an suasana ibadah, serta terkesan riya’, sebagian fuqoha’ pun mengatakan bahwa tangisan yang diiringi suara bisa membatalkan sholat.

       Termasuk hal –hal yang menyelesihi adab do’a adalah terlalu bertele-tele di dalam memilih lafadh- lafadh do’a supaya serasi dan sesuai dengan sajak. Ini bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu abbas ra, dia berkata : “ perhatikan sajak di dalam do’a, kemudian hindarilah hal itu, karena saya mengetahui bahwa Rosulullah saw dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu “.

Tentunya, do’a yang paling baik adalah apa yang terdapat di dalam Al quran dan sunnah. Doa-doa tersebut bersifat singkat dan padat, sebagaimana kata pepatah Arab mengatakan “ sebaik- baik pembicaraan adalah yang singkat dan padat “ .  Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Thobroni bahwaaaaaSa’ad bib Abi Waqqos suatu hari mendengar salah seorang dari putranya berdo’a : “ Ya Allah aku memohon dari-Mu syurga dan kenikmatannya, keindahan- nya ,dll…. dan  aku berlindung kepada-Mu dari  neraka dan rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, dll …Mendengar hal itu, berkatalah Sa’ad : Wahai anakku ,  sesungguhnya aku pernah mendengar Rosulullah bersabda ; “ Akan datang  suatu kaum yang berlebih-lebihan di dalam berdo’a, dan janganlah engkau termasuk dari mereka, sesungguhnya apabila engkau masuk syurga, maka otomatis akan mendapatkan kebaikan –kebaikan yang didalamnya, dan jika engkau di selamatkan dari api neraka , secara otomatis engkau akan diselamatkan dari kejelekan- kejelekan yang di dalamnya “. Tapi sayang umat Islam zaman sekarang lebih tertarik yang serba “ wah “ dan yang sifatnya “ ramai dan hura-hura “  dari pada yang sunnah. Mereka terjebak dalam formalitas dan lupa pada kwalitas dan hakikat yang sebenarnya. Sebuah pergesarn nilai pada bulan Romadlon.

       Yang terakhir, marilah bulan Romadlon ini, kita jadikan sunnah Rosulillah saw sebagai barometer untuk mengukur amalan kita. Dan bukan dengan banyak atau sedikitnya manusia yang mengerjakan. Wallahu a’lam, wa shallahu ala muhammdin wa ala alhi wa shohbihi wa sallim.

 

Kairo, sekitar tahun 2001-2002 M