( 4 ) APAKAH PERINTAH SUJUD BERLAKU KEPADA SELURUH MALAIKAT ?

Menurut Syekh Sya’rawi bahwa perintah sujud pada ayat di atas tidak berlaku pada seluruh malaikat, tetapi berlaku pada malaikat yang mempunyai tugas di bumi saja. Beliau merujuk firman Allah swt :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.” ( QAS Shod : 75 )

Orang-orang yang tinggi di sini, menurut Syekh Sya’rawi adalah malaikat yang bertugas di langit, dan tidak ikut diperintahkan sujud kepada Adam as. Malaikat-malaikat tersebut adalah para malaikat yang menyangga Arsy dan dan para malaikat yang menjaga langit. [1]

( 5 ) APAKAH IBLIS DARI MALAIKAT ?

Kalau seseorang membaca ayat ini secara sekilas, mungkin akan berkesimpulan bahwa Iblis [2] termasuk golongan Malaikat. Akan tetapi sebenarnya pengecualian dalam ayat ini disebut pengecualian yang terputus ( istitsna’ munqat’i) artinya Iblis yang dikecualikan dan tidak mau sujud merupakan makhluk jenis tersendiri dan bukan dari malaikat. Di dalam ayat lain Allah menyebutkan bahwa Iblis dari jenis Jin, sebagaimana firman Allah swt :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya ( QS Al Kahfi : 50 )

Dalam ayat ini Allah menyebutkan alasan Iblis tidak mau sujud, karena dia termasuk Jin.[3] Karena Jin adalah makhluk Allah yang mukallaf seperti manusia, diberi pilihan untuk taat atau bermaksiat. Sangatlah mungkin dan wajar jika tidak mau sujud kepada Adam as, sebagaimana kita dapatkan sebagian manusia tidak mau sujud kepada Allah sepanjang hidupnya.

Salah satu bukti bahwa Iblis juga diperintahkan sujud adalah firman Allah swt :

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِين

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”( QS Al A’raf : 12 )

Bukti lain bahwa Iblis bukan dari malaikat adalah Iblis bisa menikah dan mempunyai keturunan, sedang malaikat tidak menikah dan secara otomatis tidak mempunyai keturunan. [4] Dari mana anda mengetahui bahwa Iblis mempunyai keturunan ? Dari firman Allah swt :

أفتتخذونه وذريته أولياء من دوني

“ Patutkah kamu mengambil dia dan keturunan – keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku ( QS Al Kahfi : 50 )

Dalil malaikat tidak mempunyai keturunan , adalah firman Allah swt :

وجعلوا الملائكة الذين هم عباد الرحمن إناثاً

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan ( QS Az Zukhruf : 19 )

Ayat di atas menunjukkan bahwa malaikat bukan perempuan. Oleh karenanya, mereka tidak mempunyai keturunan, karena keturunan dihasilkan dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. [5]

Pertanyaannya adalah kenapa Allah hanya menyebutkan perintah tersebut kepada malaikat, padahal Jin juga diperintahkan untuk sujud kepada Adam ?

  1. Menurut Ibnu Katsir hal itu disebabkan karena Iblis meniru-niru bentuk malaikat dan ikut mengerjakan pekerjaan malaikat, sehingga terkena perintah untuk sujud juga. [6]
  2. Diriwayatkan dari beberapa ulama bahwa Iblis dahulu dari keturunan jin, ketika para malaikat memerangi para jin yang ada di bumi, mereka sempat menawan Iblis yang waktu itu masih kecil, kemudian dipelihara oleh malaikat di langit, sehingga besar, maka secara tidak langsung dia dimasukkan dalam golongan malaikat. [7]


[1] Lihat Tafsir Sya’rawi : 1/ 256, Di dalam Tafsir Ibnu Katsir ( 1/ 122 ) disebutkan bahwa yang diperintahkan sujud kepada Adam adalah malaikat yang pernah bersama Iblis, bukan para malaikat yang ada di langit .

[2] Disebut Iblis, karena dia putus asa dari rahmat Allah , putus asa yang tidak ada harapan lagi sesudahnya. ( lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 203, Tafsir Ibnu Katsir : 1/ 122, Tafsir Syekh Utsaimin ) .

[3] Akan tetapi pendapat ini bisa dibantah, karena menurut sebagian ulama, malaikat secara bahasa termasuk jin juga, karena makna jin adalah sesuatu yang tertutup, dan malaikat adalah makhluk yang ghoib, yaitu yang tertutup dari pandangan manusia. Ini dikuatkan dengan firman Allah swt :

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ

Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka ), ‘( QS Ash Shofat : 158 )

Menurut sebagian ulama, Jin di sini adalah malaikat, sebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang kafir menganggap para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah , dan itu tidak berlaku terhadap para jin. Secara kebetulan, kita dapatkan orang-orang Barat sekarang menyebut malaikat dengan “ Angel “ yang berarti perempuan. ( lihat tafsir Qurtubi : 1/ 203 , tafsir Fakhru Rozi : 1/ 495 )

[4] Lihat Tafsir Fakhru Rozi : 1/ 495

[5] Sebagian ulama, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Qatadah dan Thobari, berpendapat bahwa Iblis dari Malaikat . Mereka beralasan bahwa makna asli yang dipahami dari ayat 34 surat Al Baqarah di atas menunjukkan bahwa Iblis dari malaikat. Diriwayatkan bahwa Iblis pada asalnya adalah malaikat yang mulia, yang mempunyai nama Azazil atau Harist , termasuk penjaga syurga, dan merupakan pemimpin para malaikat di langit yang paling bawah. Dia termasuk malaikat yang paling rajin dan pandai, sehingga dia merasa takabbur dan sombong, kemudian tidak mau sujud kepada Adam. Oleh karena itu Ibnu Abbas mengatakan : “ Jika seseorang terjerat di dalam kesombongan, maka jangan banyak diharap. Sebaliknya jika ia terjerat di dalam kemaksiatan, kemungkinan masih bisa diharapkan untuk bertaubat. ( lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 202-203, Tafsir Ibnu Katsir : 1/ 122, 124, Tafsir Fakhru Rozi : 1/ 495-496 )

[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 1/ 124 , lihat juga Tafsir Syekh Utsaimin

[7] Lihat Tafsir Qurtubi : 1/ 202