MANAGEMENT DA’I

( catatan yang belum tuntas )

Ahmad Zain An Najah, MA

Mungkin sebagian mahasiswa Al Azhar, ketika pertama kali hendak menginjakkan kakinya di bumi Kinanah Mesir ini, terbayang dalam benaknya, bahwa dia akan belajar dan “ talaqqi “ secara langsung kepada para ulama besar yang selama ini, ketika masih di indonesia, hanya bisa ia mendengar keharuman namanya lewat buku-buku yang diterjemahkan. Memory-nya mengingatkannya pada para ulama terdahulu, semisal Imam Nawawi yang mempunyai 12 mata pelajaran dalam sehari, kemudian ketika pulang ke tempat penginapannya, beliau tidak langsung tidur, ataupun berame-rame makan secara jam’ah dengan teman-temannya, sebagaimana yang lazim di kerjakan oleh para mahasiswa ketika pulang ke kotsnya untuk sekedar mengendorkan kepenatan kuliyah yang- sebenarnya- tidak sampai 5 jam pelajaran sehari. Imam Nawawi tidak puas hanya dengan 12 jam pelajaran, beliau melahap pelajaran yang beliau dapat dari para “ gurunya “ di majlis ilmu dengan menyalinnya dan menatanya kembali. Bahkan karena kesibukkan di dalam menuntut ilmu, sebagian para ulama terdahulu sempat lupa bahwa ikan yang ia simpan tiga hari yang lalu, telah basi.

Mahasiswa Al Azhar, pada hari ini, tentunya tidak relevan lagi kalau mengikuti cara belajar ulama-ulama dahulu secara kaku dan letterlijht. Para ulama dahulu hidup dalam naungan “ Khilafah Islamiyah “, dimana kemulian dan hegemoni dunia dipegang oleh umat Islam. Mereka, para ulama terdahulu, tidak perlu banyak berpikir bagaimana mengentas kemiskinan, memperbaiki ekonomi masyarakat, memerangi korupsi, dan menghadapi globalisai dunia. Lingkungan dimana mereka hidup , telah mendukung mereka untuk bisa konsentrasi di dalam tafaqquh fi al-dien, dan mengembangkan bakat keilmuan mereka. Selain itu negara seringkali memberikan kemudahan-kemudahan ,baik secara spritual, maupun material untuk peningkatan ilmu pengetahuan. Bahkan tak jarang, seorang ulama merangkap menjadi pejabat, bahkan sebagai kholifah, sebagaimana yang di alami oleh Umar bin Abdul Aziz. Tidak terlalu sulit bagi salah satu dari mereka, kalau hanya sekedar mengkonsentrasikan dirinya dengan bidang hadits umpamanya, tanpa harus mengetahui displin-disiplin ilmu lainnya, terutama ilmu-ilmu kontemporer yang bermunculan akhir-akhir ini, seperti ilmu psikologi, sosilogi, management, ekonomi. Mereka tidak dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan zaman atau berita- berita politik umpamanya.

Mahasiswa al azhar, selain dituntut untuk mengusai muqorror yang menjadi kewajiban utamanya di dalam study, yang juga merupakan pilar utama di dalam tafaquh fi dien, dia di tuntut juga untuk bisa ikut andil di dalam menyelesaikan problematika –problematika kemanusiaan yang dihadapi umat Islam pada abad ini. Ini menuntut mahasiswa untuk selalu mengikuti perkembangan dunia dari hari- ke hari. Selain itu, ilmu-ilmu penunjang mutlak diperlukan- walau tidak secara mendetail-, seperti sosiologi, psikologi, manajemen, jurnalistik, komputer dan lain-lainnya. Paling tidak, dia dituntut untuk mengetahui jalan-jalan menuju kebangkitan dan kemulian Islam. Khususnya jika akan kembali ke negara yang sedang membutuhkan para reformis muslim untuk mengangkatnya dari keterbelakangan dan kekacauan dalam bidang politik, ekonomi, keamanan, dekadensi moral dan pendidikan sekaligus, seperti halnya Negara Indonesia.

Untuk memperbaiki bangsa, seorang ulama, atau da’I atau reformis muslim tidak bisa hanya sekedar menjadi pegawai negri atau dosen yang mengajar hadist, atau nahwu shorof, atau fikih kepada para mahasisiwanya di universitas-universitas , atau seorang ustadz yang mengajar santrinya di pesantren atau seorang mubaligh masyarakat di kampung-kampung, maupun di kota-kota, tanpa mau memikirkan problematika yang dihadapi umat Islam saat ini. Memikirkan berarti mencari solusi penyelesaiaan sebuah problematika. Yang berarti juga menentukan langkah-langkah yang hendak dijalaninya untuk keluar dari problematika tersebut. Semua ini memerlukan pengetahuan tambahan sebagai bekal untuk meng-goal-kan tujuan yang telah di canangkan. Seseorang yang tidak pernah mengenal manajemen, dia tidak akan bisa bekerja mengatur administrasi sebuah organisasi sebaik orang yang pernah mengenalnya, walau hanya sekilas. Seorang da’I yang pernah mengerti ilmu psikologi tentunya akan jauh lebih berhasil dari da’I yang sama sekali buta terhadap ilmu tersebut. Bahkan seorang ulama, yang bagaimanapun kepiawian-nya di dalam menyetir ayat-ayat dan hadist-hadits, tetap tidak akan berbuat banyak, ketika dia tidak banyak tahu tentang perkembangan lingkungan sekitarnya, kotanya, negaranya dan dunia Islam.

Ini tidak berarti, seorang ulama diharuskan menguasai semua bidang ilmu, syareah atau non syerah. Karena bukan menjadi syarat seorang mujtahid untuk mengetahui semua bidang ilmu, bahkan diapun tidak disyaratkan untuk mengetahui seluruh hadits nabawi, atau mengusai bahasa Arab sedetail-detailnya. Karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu menguasai seluruh ilmu. Yang dianjurkan adalah menguasai ilmu syareah secara umum beserta perangkatnya, dan mengetahui ilmu-ilmu penunjang.

Dari situ, terlihat dengan jelas bahwa tugas dan tanggung jawab yang diembankan kepada ulama sekarang lebih besar dan lebih luas di banding dengan ulama- ulama yang terdahulu. Disamping harus mengahafal dan mengusai ilmu-ilmu syareah, sebagaimana para ulama sebelumnya, mereka dituntut juga untuk melakukan perubahan pada masyarakat yang sudah tercemari dengan banyak kerusakan, di samping mereka juga harus mampu menjawab syubhat dan penyelewengan yang dilakukan musuh- musuh Islam… ( bersambung )