Maret 2007


                                      HUKUM PACARAN

Assalamua’alaikum, salam kenal mas. aq muslim yang tak mengenal islam secara mendalam. oleh karana itu aq tertarik dengan situs isalam baik. yang ingin aq tanyakan apa ada hukum “pacaran” (hubungan asmara/cinta antara pria dan wanita) tanpa ikatan pertunangan yang sedang trend bagi muda mudi Islam dewasa ini ? tlg mas coz aku butuh banget.

Komentar oleh syam | Maret 30, 2007

Assalamu’laikum Wr. Wb.

Islam telah mengatur segala urusan manusia di dunia ini secara mendetail, dan telah meletakkan batasan-batasan yang jelas tentang hubungan dua jenis laki-laki dan wanita, hal itu terlihat dalam point-point di bawah ini :

( 1 ) Untuk yang berstatus muhrim( mempunyai hubungan darah yang dekat) seperti, orang tua dan anak, antara saudara –saudara sekandung, antara paman dan keponakan-nya, maka Islam memberikan kelonggaran di dalamnya. Artinya : seorang ayah boleh tinggal bersama anak perempuannya berdua dalam satu rumah, begitu juga antara seorang laki- laki dan adiknya perempuan. Mereka juga dibolehkan untuk bepergian bersama-sama kemana saja. Itu semua untuk kemaslahatan mereka.

Sebaliknya, para muhrim tersebut dilarang untuk saling menikah, karena akan mengakibatkan mafsadah yang sangat banyak , diantaranya adalah akan menyebabkan keretakan hubungan keluarga dan anak keturunan mereka menjadi anak keturunan yang lemah fisik dan mental, bahkan bisa idiot , karena kedekatan hubungan darah tersebut.

( 2 ) Untuk yang tidak berstatus muhrim, dibolehkan bagi mereka untuk saling menikah, dan tidak dibolehkan menjalin hubungan asmara kecuali melalui ikatan pernikahan (lebih…)

SEKILAS TENTANG WAKAF

Assalamualaikum wrb

salam kenal, nama saya fakhrurrazi, asli dari aceh. Sedang menempuh S2 di UGM. saya hanya ingin bertanya tentang hukum wakaf . Bagaimana definisi wakaf yang di ajarkan oleh islam. Apakah wakaf di wajibkan oleh islam kepada Umatnya?. bagaimana perbandingan wakaf menurut Hukum islam dan hukum positif, apakah ada UU yg mengatur tentang wakaf di indonesia.dan apakah mungkin wakaf sebagai resolusi kemiskinan di indonesia?
atas jawabanya saya ucapkan terima kasih .
Wassalam

Komentar oleh razi | Maret 27, 2007

Walaikumussalam Wr. Wb

Wakaf adalah menahan harta atau benda dan menyalurkan manfaatnya di jalan Allah, dengan cara menyerahkannya kepada perorangan atau badan pengelola wakaf dengan ketentuan bahwa manfaatnya disalurkan pada hal-hal yang sesuai dengan syareat.

Wakaf hukumnya sunnah artinya Islam menganjurkan pada umatnya untuk melakukan wakaf. Dalam suatu hadist diebutkan : “ Apabila anak Adam mati, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara : sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan kepadanya.” ( HR Musim ) Sebagian ulama menyatakan bahwa salah satu bentuk sedekah jariyah adalah wakaf.

Negara kita Indonesia telah memiliki pengaturan mengenai wakaf yang tertuang dalam UU Pokok Agraria No. 5/1960 dengan PP No. 28/1977 tentang perwakafan tanah milik, kemudian disempurnakan lagi dengan keluarnya UU No 41/2004 tentang Wakaf. Walaupun begitu, UU tersebut dirasa belum cukup maksimal untuk membantu geraknya wakaf secara nasional (lebih…)

                                 MAKNA AL- TAQWA

( لِّلْمُتَّقِينَ )

Petunjuk di dalam Al Qur’an ini, hanya bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan bertaqwa saja. Sedangkan bagi orang-orang kafir, Al Qur’an ini hanya akan menambah kerugian bagi mereka. Allah swt berfirman :

<< وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا >>

” Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” ( QS Al Israa’ : 82 )

Dari ayat di atas memberikan pesan kepada kita bahwa seorang muslim yang tidak bisa merasakan atau menikmati petunjuk di dalam Al Qur’an, atau tidak bisa Al Qur’an sebagai penerang dan obor di dalam menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan dunia ini, maka dapat dipastikan bahwa keimanan dan ketaqwaannya berada dalam kadar yang rendah. Oleh karenanya, dia harus senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaannya, dia harus berusaha sekuat mungkin untuk merubah hatinya agar luluh dan lunak dengan ayat- ayat Al Qur’an.

Salah satu makna At Taqwa adalah apa yang diriwayatkan dari Rosulullah saw, bahwasanya beliau bersabda :

<< لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لا بأس به حذرا مما به بأس >>

” Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang ” ( Hadist ini Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi no : 2451 , Ibnu Majah no : 4215, Baihaqi : 2/ 335) .

Diriwayatkan pula bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang Taqwa . Ubai balik bertanya : ” Apakah anda pernah melewati jalan yang banyak durinya ” ? ” Pernah ” Jawab Umar. Ubai bertanya kembali : ” Bagaimana ketika anda melewatinya ” ? Umar menjawab : ” Saya bersungguh- sungguh serta berhati- hati sekali supaya tidak kena duri ” . Ubai akhirnya mengatakan : ” Itulah arti Taqwa yang sebenar- benarnya. ”

Dari hadist an Atsar Umar ra,kita bisa menyimpulkan , bahwa hakikat taqwa adalah kesungguhan dan kehati-hatian terhadap apa yang dilarang Allah swt. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sungguh –sungguh untuk menjauhi segala larangan Allah dan berhati- hati sekali supaya tidak terjerumus di dalamnya, walaupun untuk menuju kepada ketaqwaan tersebut , kadang- kadang ia harus meninggalkan apa yang tidak dilarang, jika hal tersebut akan menyeretnya kepada apa yang dilarang. (lebih…)

URGENSITAS USHUL FIQH

DALAM KONTEKS KONTEMPORER

Ahmad Zain An Najah, MA

 

 Ushul Fiqh adalah :  “ Ilmu yang membahas tentang dalil- dalil  fiqh secara global, tentang metodologi penggunaannya serta membahas tentang kondisi orang-orang yang menggunakannya . “

Apa hubungan pengertian ushul fiqh di atas dengan masalah kontemporer  ?  Paling tidak ada empat  hal yang bisa diungkapkan di sini :

1/ Ushul Fiqh sebagai model percontohan untuk melakukan riset  ilmiyah .

Seseorang yang ingin memproduksi sebuah hukum syare’at, diharuskan terlebih dahulu menentukan reverensi yang ingin digunakannya. Kemudian mengolah reverensi tersebut sesuai dengan standar ilmiyah yang telah ditentukan oleh para ulama, hal itu untuk memastikan bahwa produk hukum yang dihasilkan tidak akan melenceng dari koridor syareat. (lebih…)

          Salah satu  contoh dari makruh adalah   Sabda Rosulullah saw :

لا يمسكن أحدكم ذكره بيمينه وهو يبول ، ولا يتمسح من الخلاء بيمينه ، ولا يتنفس في الإناء ”

Janganlah salah satu dari kalian memegang kemaluan-nya dengan tangan kanan, ketika sedang kencing, dan jangan cebok dengan tangan kanan, serta jangan bernafas ketika minum. “ ( HR Bukhari, no : 153, Muslim , no : 602 )

Larangan dalam hadist di atas, menurut mayoritas ulama adalah larangan yang tidak tegas, maka dihukumi “ makruh “ , bukan haram. Kalau ada pertanyaan, apa ciri yang membedakan antara larangan tegas dan tidak tegas ? maka jawabannya : untuk hadist ini kita katakan bahwa larangan di sini berhubungan dengan adab dan akhlaq saja, dan tidak berhubungan dengan ibadah mahdho ( ibadat ansich ) . ([1])

          Disana ada pertanyaan lagi, apakah orang yang meninggalkan  sesuatu yang makruh, pasti diberi pahala ?  jawabannya secara terperinci adalah :   
1/ Jika dia meninggalkannya dengan niat bahwa syare’at melarang-nya, maka dia akan mendapatkan pahala.

2/ Jika dia meninggalkannya, hanya karena memang tidak terpikir di dalam benaknya, maka dia tidak mendapatkan pahala. (lebih…)

Contoh lain dari sunnah yang berarti wajib adalah apa yang dikatakan oleh Anas ra  : “ Termasuk dari sunnah adalah jika seseorang menikah dengan perawan, padahal dia telah  menikah dengan janda, maka hendaknya dia tinggal bersamanya ( bersama perawan tersebut ) selama tujuh hari.( Bukhari no : 5213 ,Muslim no : 3562 (

Perkataan Sunnah yang dimaksud oleh Anas ra di atas adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh laki-laki terhadap istrinya yang baru.

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Sunnah adalah sesuatu yang berdasarkan sunnah atau hadist. Sedangkan  Mustahab  adalah sesuatu yang berdasarkan ijtihad . Tetapi pendapat ini tentunya sangat lemah, karena sangat jauh kalau dikatakan bahwa  yang berdasarkan ijtihad adalah sunnah. (lebih…)

HUKUM HAK WARIS ANAK ZINA

Bagaimana dengan hukum hak waris bagi anak yang dilahirkan diluar nikah ? (rizal)

Jawab :

Anak zina dibagi menjadi dua, anak hasil perzinaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bersuami, dan ana hasil perzinaan antara laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak bersuami .

  1. Anak hasil perzinaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bersuami. Hukum anak tersebut adalah tidak boleh dinisbatkan kepada laki-laki yang berzina dengan ibunya. Laki-laki tersebut tidak boleh dikatakan sebagai bapaknya, tetapi dinisbatkan kepada ibunya. Secara otomatis anak tersebut tidak berhak mendapatkan warisan dari laki-laki tersebut. Tetapi mendapatkan hak waris dari ibu dan saudara-saudara ibu, seperti bibi, dan paman dari ibu dan seterusnya . Dan seandainya anak zina tersebut meninggal, maka ibunya dan saudara-saudara ibu juga berhak mendapatkan warisan darinya. Seandainya anak zina tadi mempunyai anak, maka anaknya-pun berhak mendapatkan warisan darinya. Dalilnya adalah hadist yang berbunyi : “ Anak adalah milik firasy ( milik istri dan suaminya yang syah ) , dan laki-laki yang melakukan zina tidak berhak untuk mendapatkannya . “ (lebih…)

Laman Berikutnya »