PERAN ETIKA DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

Ahmad Zain An Najah, MA •

” Tegak rumah karena sendi, Runtuh sendi rumah binasa, Sendi bangsa ialah budi, Runtuh budi runtuhlah bangsa “

Etika ( atau ‘ethos’ dalam bahasa Greek ) adalah salah satu unsur penting dalam proses pembangunan dan reformasi sebuah bangsa. Tanpa etika, sebuah bangsa yang besar akan tumbang. Sejarah telah mencatat bangsa- bangsa besar yang telah mampu membangun peradaban yang tinggi, tiba- tiba hancur berkeping-keping ketika sebuah etika sudah tidak diperhatikan di dalamnya.

Al Qur’an telah menyebutkan bangsa- bangsa besar yang hancur karena runtuhnya akhlaq mereka, bangsa A’ad, Tsamud, Madyan , dan kerajaan Fir’aun adalah contoh-contoh yang nyata.

DR. Abdul Halim Uwais, di dalam bukunya ” Sebab- sebab runtuhnya 33 negara ” , menjelaskan dengan gamblang bagaimana Negara-negara Islam yang pernah berjaya bertahun-tahun, bahkan berabad-abad akhirnya harus ambruk karena kerusakan yang melanda Negara tersebut. Para elit politiknya tenggelam di dalam kemewahan, menghambur-amburkan harta , mendholimi rakyat jelata, perpecahan dan perang saudara karena berebut kekuasaan adalah pemandang yang selalu menghiasi negara-negara tersebut, sehingga krisis multidimensi mulai merambah keseluruh sendi negara-negara Islam tersebut, yang kemudian berujung pada hilangnya benteng terakhir umat Islam yaitu khilafah Utsmaniyah.
Allah berfirman :


وإذا أردنا أن نهلك قرية أمرنا مترفيها ففسقوا فيها فحق عليها القول فدمرناها تدميرا

” Jika ( Kami ) menghendaki untuk menghancurkan suatu bangsa, maka Kami jadikan orang-orang bourjuis diantara mereka sebagai pemimpin , mereka akan berbuat jahat, sehingga tibalah saat kehancurannya , dan Kami hancurkan bangsa tersebut dengan sehancur-hancurnya ” ( QS Al Isra’ : 16 )

Kata ” Fasq ” berarti keluar , yang bermakna mereka para –pemimpin tersebut telah keluar dari ajaran- ajaran Islam dan tidak berkhlaq mulia lagi.
Berkata Ibnu Atsir ( Pakar Sejarah Islam ) :
” Bagi Allah sangatlah mudah untuk memenangkan Islam dan kaum muslimin , akan tetapi karena para pemimpin Islam tidak ada lagi yang masih mempunyai nyali untuk berjihad dan memperjuangkan agama ini, dan masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan kesenangan dan kemewahan dunia ini serta selalu mendholimi rakyatnya, ( maka kekalahan niscaya akan menimpa mereka ) dan keadaan seperti ini, lebih saya takuti dari pada serbuah musuh “

Sangatlah tepat apa yang dinyatakan Ahmad Syauki bahwa :

إنما الأمم أخلاق ما بقيت ، فإن ذهبت أخلاقهم ذهبوا

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi kemudian terpuruk dan menjadi bangsa tong sampah dengan krisis multidimensinya, karena mereka ( pemimpin dan rakyat ) telah meninggalkan ajaran Islam.
Allah berfirman :

وضرب الله مثلا قرية كانت آمنة مطمئة يأتيها رزقها رغدا من كل مكان فكفرت بأنعم الله فأذاقها لباس الجوع والخوف بما كانوا يصنعون ، ولقد جاءهم رسول منهم فكذبوه فأخذهم العذاب وهم ظالمون

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat . Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim ( QS An Nahl : 112-113 )

Dalam ayat di atas Alah telah memberikan perumpamaan sebuah Negara yang aman, sentosa ( gemah ripah loh jinawi ) yang mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa. ( Konon Indonesia , karena subur tanahnya , ada yang mengatakan, kalau tongkatpun ditanam,maka akan tumbuh dan berkembang ) . Kemudian mereka kafir terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka krisis multidimensi ( kelaparan dan ketakutan ) sebab mereka mendustakan apa yang dibawa oleh para rosul dan berbuat dholim.

Tapi alangkah ironisnya, ketika Negara Indonesia mengalami guncangan yang hebat , justru sebagian dari kaum inteluktual muslim mengajak untuk meninggalkan agama dan memisahkannya dari percaturan politik . Allah berfirman:

فلولا إذ جاءهم بأسنا تضرعوا ولكن قست قلوبهم وزين لهم الشيطان ما كانوا يعملون ، فلما نسوا ما ذكوا به فتحنا عليهم أبواب كل شيء حتي إذا فرحوا بما أوتوا أخذناهم بغتتة فإذا هم مبلسون

” Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” ( QS Al An’am : 43-44 )

Seandainya bangsa Indonesia, ketika ditimpa krisis multidemensi , mereka segera ” tadhorru’ ” ( bersimpuh dihadapan Allah ) untuk mengikuti perintah-perintah-Nya ( tentunya Allah akan merubah nasib bangsa tersebut ( . Namun mereka justru berpaling dan hati-hatinya menjadi keras dan beku, sekeras batu, bahkan lebih keras dan menganggap apa yang mereka kerjakan adalah sebuah kebenaran, karena syetan telah menghiasi pikiran mereka.
Seandainya bangsa Inonesia bertaqwa dan beriman, maka niscaya Allah akan membuka berkah dari langit dan bumi.

Allah berfirman :


ولو أن أهل القرى أمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ” ( QS Al A’raf : 96 )

Abu Bakar As Sidiq di dalam perang Yarmuk mengirim pesan kepada tentaranya :
” Hendaknya kalian bersatu padu , dan ketika menghadapi musuh hendaknya kalian telah menegakkan ajaran-ajaran Allah, karena Allah akan menolong siapa yang mau menegakkan agama-Nya, sebaliknya Allah akan meninggalkan siapa yang mengingkari-Nya. Sesungguhnya kalian tidak lah kalah karena jumlah yang sedikit, tetapi kalian kalah, ketika kalian berbuat dosa, maka hindarilah dosa-dosa tersebut ”
Sungguh sangat indah sebuah pantun melayu :

. ” Diribut tunduklah padi, Dicupak Datuk Temenggung,
Hidup kalau tidak berbudi, Duduk tegak ke mari canggung”

ETIKA POLITIK DALAM AL QUR’AN

Etika berasal dari bahasa Greek ‘ethos’, yang ditujukan pada makna ‘character’, ( perwatakan dan keperibadian.) Menurut Gluck(1986) bahwa etika adalah : ” kajian filosofis terhadap moral”. Menurut Shea (1988 ) bahwa etika adalah “prinsip-prinsip bertingkah-laku yang berhubungan dengan individu atau profesi ”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa politik adalah : “Segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap Negara lain. ” Atau “kebijakan, cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani satu masalah).”
Dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata politik diterjemahkan dengan kata siyasah, yang terambil dari akar kata ” sasa-yasusu ” yang berarti mengemudi, menngendalikan, mengatur, dan sebagainya.

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang bisa dijadikan rujukan untuk membahas etika politik , diantaranya adalah sebagai berikut :
Yang pertama adalah firman Allah :

 1/قال اجعلني على خزائن الأرض أني حفيظ عليم

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan ( QS Yusuf : 55 )

Ayat diatas memberikan pesan bahwa seorang muslim tidaklah sepantasnya untuk meminta kekuasaan , kecuali kalau memenuhi, paling tidak dua kreteria, yaitu amanat dan penguasaan terhadap apa yang akan dipegang (alim / kapable ) . Oleh karena Rosululah saw menasehati Abu Dzar agar tidak mencalonkan diri menjadi gubernur, karena jabatan tersebut merupakan amanat dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat jika tidak mampu melaksanakannya.
Kreteria pemimpin di atas dikuatkan dengan firman Allah :

قالت إحداهما ياأبت استأجره إن خير من ااستاجرت القوى الأمين

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya ( Qs Al Qashas : 26 )

Ayat di atas mengisyartkan bahwa pemimpin adalah seorang yang dibayar rakyat untuk melaksanakan tugas dan ia adalah amanat , dan sebaik-baiknya adalah yang mempunyai sifat kuat ( kapable ) dan amanat .
Dikuatkan juga dengan Firman Allah, dalam pengangkatan Tholut sebagai raja :


قال إن الله اصطفاه عليكم وزاده بسطة في العلم والجسم

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” ( QS Al Baqarah : 247 )

Alvin Toffler, di dalam bukunya “ Pergeseran Kekuasaan “, membagi kualitas kekuasaan menjadi tiga tingkatan :
a. Kekuasaan dengan kekerasan adalah kekuasaan yang berkualitas rendah.
b. Kekuasaan dengan kekayaan merupakan kekuasaan berkualitas medium
c. Sedang kekuasaan yang berasal dari penerapan pengetahuan adalah kekuasaan yang berkualitas tinggi .

Yang kedua adalah Firman Allah :

وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما فإن بغت إحداهما على الأخرى فقاتلوا التي تبغي حتى تفئ إلى أمر الله. فإن فاءت فأصلحوا بينهما بالعدل وأقسطوا إن الله يحب المقسطين.


 ” Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. ( QS Al Hujurat : 9 )

Ayat- diatas mengisyaratkan beberapa etika politik diantaranya :

a./ Salah satu bentuk aksi politik yang bersih dan ber-etika adalah melakukan Islah antara dua kelompok yang berseteru .
Menurut Hannah Arendt, setiap kegiatan politik yang berlangsung di ruang publik itu adalah suatu usaha untuk menyelesaikan segala perkara melalui kata-kata dan persuasi (argumen untuk meyakinkan pihak lain).
Ini sesuai dengan firman Allah :
وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكمت من أهلها وإن يردا إصلاحا يوفق الله بينها إن الله كان علبما خبيرا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( QS An Nisa : 35 )

Kata ” Al Hakam ” di dalam al Qur’an kalau ditelusuri dan direnungi dengan seksama , sebagaimana yang di ungkap oleh Prof. Dr. Quraisy Syihab , ternyata mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kata ” siyasah “. Kata ” Al hakam ” pada mulanya berarti “menghalangi atau melarang dalam rangka perbaikan”. Dari akar kata yang sama terbentuk kata hikmah yang pada mulanya berarti kendali. Makna ini sejalan dengan asal makna kata siyasah, yang berarti mengemudi, mengendalikan, pengendali, dan cara pengendalian-

b/ Jika salah satu kelompok hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan mengedepankan egonya, hendaklah dibasmi, karena perbuatan seperti itu merupakan bibit –bibit kerusakan. Ini sesuai dengan firman Allah :

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ( QS Ali Imran : 104 )
Menurut E Hocking, politik adalah ‘seni yang paling praktis’. Politik, hakikat dasarnya berurusan dengan ‘fakta’ yang keras, yaitu fakta kepentingan dan hawa nafsu manusia.

c/ Proses Islah, Revolusi dan Reformasi tersebut harus dilakukan secara terus menerus , sehingga kerusakan akan tumbang , ” Hatta tafiia ila amrillah ”
Pembawa gerbong reformasi dan islah jika tidak konsisten lagi di tengah perjalanan, maka Allah akan menggantikannya dengan generasi lainnya. Allah berfirman ;

وإن تتولوا يستبدل قوما غيركم ثم لا يكونوا أمثالكم

dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. ( QS Muhammad : 38 )

إلا تنفروا يعذبكم عذابا أليما ويستبدل قوما غيركم ولا تضروه شيئا والله على كل شيء قدير

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( QS At Taubah : 39 )

d/Dan semua itu harus dilakukan secara adil .
Dan akhirnya seuatu yang bermanfaat, walaupun terlihat dengan kasat mata jumlahnya banyak ( seperti buih ) , akhirnya akan tumbang, cepat atau lambat ,sedang yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tegak dan berkibar. Allah berfirman :


وأما الزبد فيذهب جفاء وأما ما ينفع الناس فيمكث في الأرض كذلك يضرب الله الأمثال

Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan ( QS Ar Ra’du : 17 ) .

Adapun reformasi yang dilakukan oleh para nabi yang merupakan para pemimpin politik pada masanya adalah :
a. Mengarahkan sifat dan tabiat yang ada untuk hal-hal yang bermanfaat dengan cara pembinaan dan pendidikan . Rosulullah saw bersabda :


خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام إذا فقهوا

b. Merubah bakat sifat dan tabiat menjadi sifat yang baik .

Wallahu A’lam

• Makalah ini dipresentasikan dalam acara Seminar Senat Syare’ah , Universitas Al Azhar, dengan tema ” Etika Politik dalam Islam “, di Wisma Nusantara, Kairo, tanggal 24 Agustus 2004 .