Tafsir Al Qur’an dan Kehidupan


MENCAMPUR- ADUKKAN

KEBENARAN DAN KEBATILAN

( Tentang Penyatuan Agama-agama )

Ahmad Zain An Najah, MA

 

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“ Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya. “

( Qs Al -Baqarah : 42 )

Beberapa pelajaran dari ayat di atas :

Pelajaran Pertama :

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِل

“ Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan,

Imam Qatadah dan Mujahid mengartikan ayat ini : “ Janganlah kamu campur adukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan Islam. “ ( [1] )

Penafsiran Imam Qatadah dan Mujahid di atas ternyata terbukti pada saat ini. Sebagian kalangan yang mengaku Islam, telah benar-benar ingin mencampur adukkan antara Agama Yahudi dan Nasrani dengan Agama Islam. Bahkan lebih dari itu, ingin mencampuradukkan antara agama Islam dengan berbagai aliran kepercayaan. Diantara usaha-usaha untuk mempercampur adukkan antara Islam dengan tiga agama dan berbagai aliran kepercayaan adalah sebagai berikut :

1. Konsep “ NASAKOM “ ( Nasionalis, Agama dan Komunis ) yang dicetuskan oleh Bung Karno, bertujuan untuk menyatukan berbagai haluan politik di Indonesia, salah satunya dengan cara mencampuradukkan Islam dengan paham komunis.

2. Pernyataan sebagian orang yang menyamakan antara Pancasila dengan Islam, dengan merujuk pada sila pertama yang berbunyi : “ Ketuhanan Yang Maha Esa . “ Sila pertama ini, menurut mereka sesui dengan ajaran tauhid dalam Islam yang menyatakan bahwa Allah Maha Esa. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila mencakup agama Kristen, Hindu dan Budha, yang mempunyai Tuhan lebih dari satu. Artinya dengan sila ini Pancasila ingin menyatukan antara Islam dengan berbagai agama lainnya. Ingin mencampuradukkan antara kebenaran Islam yang berisikan tauhid dengan kebatilan agama lain yang berisikan kesyirikan. (lebih…)

HUKUM MENJUAL AYAT ALLAH

 

Ahmad Zain An Najah, MA

وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. ( Qs Al Baqarah : 41 )

Beberapa pelajaran dari ayat di atas :

Pelajaran Pertama :

َوآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ

” Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran )” Ayat ini menunjukkan empat hal :

1/ Menunjukkan bahwa Bani Israil diperintahkan untuk beriman terhadap apa yang diturunkan Allah di dalam Al Qur’an, termasuk di dalamnya beriman kepada nabi Muhammad saw

2/ Ayat ini merupakan dakwah atau ajakan kepada Bani Israel agar masuk dan memeluk Islam, setelah pada ayat sebelumnya mereka diingatkan tentang nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada nenek moyang mereka ([1]).Ini merupakan cara Al Qur’an berdakwah, yaitu mengingatkan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka, atau mengingat kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka, setelah itu baru diajak untuk mengikuti ajaran Allah. Atau dengan kata lain : Mengingatkan tauhid rubiyah, kemudian baru diajak untuk bertauhid uluhiyah. Dan cara seperti ini, sangat banyak kita dapatkan dalam Al Qur’an, sebagiannya sudah diterangkan.

3/ Allah dalam ayat ini tidak menyebut Al Qur’an secara langsung, akan tetapi menyebut dengan ” apa yang Aku turunkan, ” hal ini dimaksudkan bahwa alasan kenapa Bani Israel diperintahkan untuk beriman kepada Al Qur’an ? karena Al Qur’an adalah kitab yang diturunkan Allah sama dengan kitab Taurat yang juga diturunkan dari Allah. ([2])

4/ Menunjukkan juga bahwa Tajdid al Iman atau pembaharuan Iman, atau bahkan Tazkiyah Nafs ( pembersihan diri ) yang paling efektif adalah dengan menggunakan Al Qur’an. ( [3] ) Dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh seorang ulama di Madinah Munawarah, salah seorang pendengar bertanya tentang buku terbaik dalam tazkiyah nafs, maka syekh tersebut mengatakan bhawa sebaik –baik buku untuk tazkiyah nafz adalah Al Qur’an. (lebih…)

BALASAN SESUAI DENGAN PERBUATAN

Ahmad Zain An Najah,MA

Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku anugrahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut

(QS Al Baqarah : 40)

Pelajaran Kesebelas :

Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari ayat di atas adalah kita harus menyakini dan mengetahui sunatullah ( hukum-hukum Allah ) yang berkenaan dengan kehidupan manusia. Hal ini sangat penting, mengingat banyaknya manusia yang gagal di dalam menempuh cita-cita hidupnya, hanya karena tidak memahami sunatullah ini. Sunatullah ini berlaku bagi seluruh manusia, tidak membedakan antara yang muslim dengan yang kafir. Sunnatullah yang bisa diambil dari ayat di atas adalah kaidah yang berbunyi bahwa : “ Balasan Sesuai dengan Perbuatan” ( [1] ) , tepatnya dalam firman Allah : “ dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu “ maksud ayat di atas adalah : Wahai Bani Israil , jika kamu memenuhi janjimu kepada-Ku yaitu dengan melaksanakan isi dan ajaran yang terdapat dalam kitab Taurat, niscaya Aku ( Allah ) akan memenuhi janji-Ku kepada-mu, yaitu Aku akan masukkan kamu ke dalam syurga. (lebih…)

                                 MAKNA AL- TAQWA

( لِّلْمُتَّقِينَ )

Petunjuk di dalam Al Qur’an ini, hanya bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan bertaqwa saja. Sedangkan bagi orang-orang kafir, Al Qur’an ini hanya akan menambah kerugian bagi mereka. Allah swt berfirman :

<< وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا >>

” Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” ( QS Al Israa’ : 82 )

Dari ayat di atas memberikan pesan kepada kita bahwa seorang muslim yang tidak bisa merasakan atau menikmati petunjuk di dalam Al Qur’an, atau tidak bisa Al Qur’an sebagai penerang dan obor di dalam menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan dunia ini, maka dapat dipastikan bahwa keimanan dan ketaqwaannya berada dalam kadar yang rendah. Oleh karenanya, dia harus senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaannya, dia harus berusaha sekuat mungkin untuk merubah hatinya agar luluh dan lunak dengan ayat- ayat Al Qur’an.

Salah satu makna At Taqwa adalah apa yang diriwayatkan dari Rosulullah saw, bahwasanya beliau bersabda :

<< لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لا بأس به حذرا مما به بأس >>

” Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang ” ( Hadist ini Hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi no : 2451 , Ibnu Majah no : 4215, Baihaqi : 2/ 335) .

Diriwayatkan pula bahwa pada suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang Taqwa . Ubai balik bertanya : ” Apakah anda pernah melewati jalan yang banyak durinya ” ? ” Pernah ” Jawab Umar. Ubai bertanya kembali : ” Bagaimana ketika anda melewatinya ” ? Umar menjawab : ” Saya bersungguh- sungguh serta berhati- hati sekali supaya tidak kena duri ” . Ubai akhirnya mengatakan : ” Itulah arti Taqwa yang sebenar- benarnya. ”

Dari hadist an Atsar Umar ra,kita bisa menyimpulkan , bahwa hakikat taqwa adalah kesungguhan dan kehati-hatian terhadap apa yang dilarang Allah swt. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sungguh –sungguh untuk menjauhi segala larangan Allah dan berhati- hati sekali supaya tidak terjerumus di dalamnya, walaupun untuk menuju kepada ketaqwaan tersebut , kadang- kadang ia harus meninggalkan apa yang tidak dilarang, jika hal tersebut akan menyeretnya kepada apa yang dilarang. (lebih…)

SYUKUR NIKMAT

 

Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku anugrahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan hanya kepada-Kulah kamu harus tunduk.

(QS Al Baqarah : 40)

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran diantaranya adalah :

Pelajaran Pertama :

Yang dimaksud Bani Israil adalah anak keturunan Nabi Israil. Nabi Israil adalah nama lain dari pada nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub adalah anak dari nabi Ishaq bin Ibrahim as.

Disana ada 5 nabi yang mempunyai nama lebih dari satu, mereka itu adalah: (lebih…)

SEKILAS TENTANG

HUKUM WARISAN DALAM ISLAM

Ahmad Zain An Najah , MA

 

Allah Berfirman : “ Allah telah mensyre’atkan kepadamu ( tentang pembagian pusaka ) untuk anak- anakmu, yaitu : bagian  anak laki- laki sama dengan dua bagian anak perempuan  “ ( Q. S. Al Nisa’ : 11 ) 

Sebab turunnya ayat :

Berkenaan dengan Jabir ibnu Abdillah yang dibesuk oleh Rosululah  bersamam Abu Bakar  da Bani Salamah, ketika ia sakit dan tidak sadarkan diri. Rosulullah meminta air lalu mengambil air wudlu, kemudian memercikan air kepadanya,  lalu ia sadarkan diri. Setelah itu, Jabir bertanya kepada Rosulullah saw perihal hartanya, maka turunlah ayat ini[1]. Di sana banyak riwayat- riwayat lain tentang turunnya ayat di atas ,namun untuk sementara, riwayat Jabir  tersebut , dirasa sudah cukup untuk mewakili. (lebih…)

PEMIMPIN RUMAH TANGGA,

HAK PATEN LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN  ?

 

Ahmad Zain An Najah , MA

 

Penulis merasa heran, ketika mendapati sebagian keluarga di Mesir sini, ternyata yang memegang tampuk kepemimpinan keluarga adalah seorang perempuan ,  walaupun itu tidak mutlak, artinya bisa saja itu tidak disepakati secara resmi, namun sangat sering penulis , mendapatkan seorang laki- laki ( suami ) merasa mlinder dan takut untuk berbicara kebenaran atau sekedar berbicara ataupun ketika memutuskan sesuatu yang sebetulnya menjadi wewenangnya ketika istrinya ada di depannya. Itu ternyata , setelah di teliti , walau secara sekilas, di dapatkan bahwa salah satu faktor penyebabnya adalah , karena seorang istri  lebih kaya dari suaminya, sehingga dengan hartanya , dia leluasa untuk mengatur suami dan keluarganya. Atau sang istri terlalu cantik di banding suaminya yang biasa- biasa saja, sehingga sang suami  selalu kawatir kalau istrinya yang cantik ini marah dan minta cerai. Ataupun sang istri  tersebut, selain cantik,  juga jauh lebih muda di banding suaminya yang sudah loyo dan lanjut usia. Faktor- faktor tersebut ternyata , sedikit banyak mempengaruhi kejiwaan relasi dan hubungan antara suami istri, sekaligus membuat suami merasa mlinder dan takut dengan istrinya.  Ditambah kebodohan sang suami terhadap ajaran agamanya . Kasus tersebut , menunjukkan betapa telah terjadi pergeseran nilai di dalam masyarakat. (lebih…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.