Konsultasi Agama


SEPUTAR SHOLAT IED FITRI         

Ustadz, waktu saya kecil dulu, kita sering takbiran pada malam hari raya idul fitri. Tapi ada sebagian orang bahwa takbiran pada malam itu dilarang dan termasuk perbuatan bid’ah. Benarkah itu, dan bagaimana penjelasannya?

Jawaban :

          Setelah menyelesaikan puasa, maka disunnahkan bagi kaum muslimin untuk mengucapkan takbir, sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat-Nya karena telah memberikan hidayat dan taufik-Nya kepada mereka sehingga dapat menyelesaikan ibadat puasa sampai akhir bulan. Dalam hal ini, Allah berfirman :

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur ” ( Qs Al Baqarah : 185 ) .

          Sebagian ulama berpendapat bahwa waktu takbir dimulai sejak terbenamnya matahari dari hari terakhir Ramadhan, dalilnya adalah ayat di atas yang memerintahkan kaum muslimin untuk menyempurnakan bilangan bulan Ramadlan, dan ini bisa terlaksana dengan terbenamnya matahari pada akhir hari dari bulan Ramadlan. Dengan demikian bertakbir pada malam Iedul Fitri bukan merupakan hal yang bid’ah, karena mempunyai landasan syar’I yang diakui oleh para ulama, walaupun sebagian ulama lain berpendapat bahwa takbir dimulai pada hari Iedul Fitri ketika seseorang keluar dari rumahnya menuju lapangan untuk sholat.

          Bagaimana takbiran yang dilakukan di masjid-msjid melalui pembesar suara  atau takbiran yang dilakukan secara bersama-sama dengan naik kendaraan atau berjalan kaki mengelilingi kampung atau kota  ? (lebih…)

SEPUTAR ZAKAT FITRAH

Banyak para ustadz dan alim ulama yang menyampaikan bahwa puasa haruslah disempurnakan dengan zakat fitrah. Apa sickh manfaat zakat fitrah itu ustadz?

Jawaban :

Zakat Fitri mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah :

Pertama : Zakat Fitri merupakan salah satu bentuk solidaritas khususnya kepada fakir miskin yang tidak mempunyai makanan pada hari raya Idul Fitri.

Kedua : Zakat Fitri merupakan pembersih puasa dari hal-hal yang mengotorinya. Sebagaimana sabda Rosulullah saw :

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

” Zakat Fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji ( yang dikerjakan waktu puasa ) , dan bantuan makanan untuk para fakir miskin ” ( Hadits Hasan Riwayat  Abu Daud )

Berkata Waki’ bin Jarrah : Manfaat Zakat Fitri untuk puasa bagaikan manfaat sujud sahwi untuk sholat, kalau sujud sahwi melengkapi kekurangan dalam sholat, maka begitu juga zakat fitri melengkapi kekurangan yang terjadi ketika puasa.

Ketiga : Zakat Fitri merupakan bentuk syukur kepada Allah swt karena telah memberikan taufik-Nya sehinga bisa menyempurnakan puasa Ramadlan .

Kapan waktu paling afdhal untuk membagi / menyerahkan zakat fitrah? Dan bagaimanakah orang yang membayarkan zakat setelah menunaikan shalat idul fitri? (lebih…)

I’TIKAF DAN LAILATUL QADR

Apa keutamaan iktikaf ?

Jawaban :

Pertama : Membersihkan diri dari dampak negatif pergaulan yang terlalu berlebihan. Sebagaimana kita ketahui, bahwa manusia adalah makhluk sosial, dia tidak bisa hidup sendiri. Dia harus bergaul dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kadang dalam pergaulan tersebut terjadi dosa atau kesalahan yang membuat hati kita menjadi kotor. Maka, dengan iktikaf, seorang hamba berusaha membersihkan hatinya dengan mendekatkan diri kepada Allah swt dan menjauhkan diri dari pergaulan manusia  yang selama ini membuat hatinya kotor. Karena pergaulan yang melampaui batas akibat merusak hati manusia, sebagaimana makan dan minum, kalau dilakukan sesuai dengan kadarnya, maka akan bermanfaat, tetapi jika berlebihan dan melampaui batas, maka akan membawa mudharat bagi tubuh kita. Makanya, untuk mengurangi mudharat dari makan dan minum yang berlebihan, diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadlan, dan untuk mengurangi mudharat dari pergaulan yang berlebihan, maka disunnahkan beriktikaf pada waktu-waktu tertentu.

Kedua : Iktikaf juga menjaga hati seseorang dari mudharat banyaknya bicara. Seseorang yang banyak bicaranya, otomatis akan banyak salahnya, apalagi yang dibicarakan adalah hal-hal yang kurang bermanfaat. Makanya, dengan iktikaf seseorang akan terjaga dari mudharat tersebut . Karena dalam iktikaf seseorang disunnahkan untuk banyak berdzikir, membaca Al Qur’an dan melakukan sholat-sholat sunnah, tidak ada waktu yang tersedia untuk banyak bicara, apalagi kalau dia iktikaf sendiri di masjid. Iktikaf seperti ini akan membersihkan hati , karena waktu-waktunya hanya diisi dengan bermunajat kepada Allah swt.

Ketiga :  Iktikaf menghindari diri dari mudharat tidur yang terlau banyak.

Orang yang iktikaf di masjid tentu tujuannya untuk beribadat kepada Allah swt dengan memperbanyak dzikir, membaca Al Qur’an dan sholat, sehingga waktu tidurnya menjadi sedikit. Dengan demikian hatinya akan menjadi bersih.

Keempat : Iktikaf akan menjaga puasa dari hal-hal yang merusaknya. Biasanya orang yang melakukan iktikaf dibarengi dengan puasa, sebagaimana yang dilakukan banyak orang pada sepuluh akhir dari bulan Ramadlan. Dengan berdiam di masjid selama iktikaf seseorang akan lebih terhindar dari hal-hal yang bisa  membatalkan puasanya di banding dengan orang yang tidak iktikaf.

Kelima : Dengan iktikaf seseorang bisa mendapatkan ” Lailatul Qadr ” . (lebih…)

SHOLAT TERAWIH DAN QIYAM RAMADHAN

Berapa rekaatkah yang dituntunkan Rasulullah dan para shahabat dalam shalat tarawih?

Jawaban :

Sholat terawih yang dituntunkan Rosulullah saw adalah sholat terawih yang berjumlah sebelas rekaat .Dalilnya adalah hadist yang diriwayatkan Aisyah ra, bahwasanya ia berkata  :

ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان و لا في غيره على إحدى عشرة ركعة ، يصلى أربعا ، فلا تسأل عن حسنهن وطولهن , ثم يصلي أربعا , فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاث

” Bahwasanya Rosulullah saw tidak pernah sholat ( malam ) baik pada bulan Ramadlan maupun bulan lainnya lebih dari sebelas rekaat, beliau memulai sholatnya dengan empat rekaat, jangan bertanya tentang panjang dan bagusnya, kemudian sholat empat reka’at lagi, jangan tanya tentang panjang dan bagusnya, kemudian sholat tiga reka’at ( HR Bukhari dan Muslim )

Di masyarakat , ada yang menjalankan shalat tarawih 11 rekaat, ada yang 23 rekaat. Apa alasan praktik yang berbeda ini? Adakah pembatasan rekaat untuk shalat tarawih? Berapa jumlah rekaat yang paling kuat?

Jawaban :

Ada beberapa sebab kenapa sebagian masyarakat menjalankan sholat terawih 11 rekaat dan sebagian lain menjalankannya 23 rekaat, diantara sebab-sebabnya adalah :

Pertama : Adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Rosulullah saw pernah melakukan sholat terawih sebanyak 23 rekaat , sebagaimana  yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra : (lebih…)

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

Tolong dijelaskan hal-hal yang membatalkan puasa dengan detail!

Jawaban :

Yang membatalkan puasa bisa dibagi menjadi dua :

Bagian Pertama : Yang membatalkan puasa, dan jika dilanggar wajib mengqadha dan membayar kaffarat ( denda ), yaitu berhubungan badan dengan istri secara sengaja pada siang hari bulan Ramadlan, padahal dia mengetahui hukumnya, baik itu diiringi dengan keluar mani atau tidak, baik itu dilakukan melalui lubang vagina, maupun lewat anus.

Dia wajib mengqadha’ karena telah membatalkan puasanya dengan sengaja.

Dia wajib membayar kaffarat ( denda ), karena ada hadist yang menyuruhnya demikian, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra :

فعن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم  فقال: هلكتُ يا رسول الله. قال:وما أهلكك ؟ قال: وقعت على امرأتي في رمضان. قال: هل تجد ما تعتق رقبة ؟ قال: لا. قال: فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين؟ قال: لا. قال:فهل تجد ما تطعم ستين مسكينًا. قال : لا . قال أبو هريرة: ثم جلس فأتى النبي صلى الله عليه وسلم  بعرق (مكتل) فيه تمر. قال:تصدق بهذا. قال: يا رسول الله أعلى أفقر مني والله ما بين لابتيها يعني ما بين لابتي المدينة وهما حرتيها والله ما بين لا بتيها أهل بيت أفقر مني فضحك النبي حتى بدت نواجذه، وقال: (اذهب، فأطعمه أهلك) (lebih…)

YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA ( 2 )

Bagaimanakah orang yang berpuasa kalau berkelahi?

Jawaban :

Orang yang berpuasa hendaknya meninggalkan percecokan dan perkelahian, karena salah satu tujuan puasa adalah melatih diri untuk menahan emosi, sebagaimana yang tersebut dalam suatu hadist :

الصيام جنة ، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث و لا يصخب ، فإن امرء سابه أو قاتله فليقل : إني صائم

” Puasa adalah perisai, jika pada hari dia puasa, maka janganlah ia berkata keji, atau kasar, jika seseorang mencelanya atau menyerangnya, hendaknya ia berkata : saya sedang puasa ” ( HR Bukhari dan Muslim )

Jika ia berkelahi sedang dalam keadaan puasa, maka puasanya tetap syah, hanya saja dikhawatirkan dia tidak mendapatkan pahala puasa, kecuali lapar dan dahaga, sebagaimana yang tersebut dalam hadist :

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

” Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapat dari puasanya kecuali lapar dan dahaga ” ( HR Nasai dan Ibnu Majah )

Sekarang ini banyak siaran-siaran TV yang menayangkan berbagai macam hiburan; seperti film-film yang terkadang menampilkan aurat lawan jenis. Bagaimana ketika sedang puasa menonton siaran-siaran seperti itu?

Jawaban :

Seorang yang sedang berpuasa hendaknya menghindari dari tontonan-tontonan seperti itu, karena akan mengurangi pahala puasanya. Bahkan terkadang bisa merusak puasanya, karena kadang bisa menyeretnya kepada hal-hal yang membatalkan puasa. Wallahu A’lam

Di kampung saya dekat dekat kampus, ketika bulan Ramadhan banyak di antara mahasiswa-mahasiswi yang berpuasa, namun banyak juga yang saling berboncengan laki dan perempuan atau berpacaran. Lalu bagaimana puasa mereka ?

Jawaban :

Berpacaran tidak dibolehkan dalam Islam, baik pada bulan Ramadlan, maupun di luar bulan Ramadlan. Mahasiswa-mahasiswi yang saling berpacaran dan berboncengan pada bulan Ramadlan mereka telah melakukan maksiat kepada Allah swt. Akan tetapi puasa mereka tetap syah, selama mereka tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa, sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Hanya saja dikhawatirkan mereka tidak mendapatkan pahala dari puasa mereka kecuali lapar dan dahaga, sebagaimana yang tersebut dalam hadist : (lebih…)

 YANG  TIDAK MEMBATALKAN PUASA ( 1 )

Terkadang ketika sahur, kita makan makanan yang masih meninggalkan rasa di mulut setelah terbit fajar. Lalu bagaimanakah jika kita menelan ludah saat puasa, sedangkan di lidah kita masih ada rasa makanan atau pasta gigi? Bolehkah bergosok gigi dengan menggunakan pasta saat puasa?

Jawaban :

    Pada dasarnya gosok gigi dengan menggunakan pasta gigi pada waktu puasa di siang hari hukumnya boleh, walaupun sebaiknya hal itu dihindari mengingat bekasnya sulit dihilangkan. Maka dianjurkan yang hendak puasa, untuk menggosok gigi pada malam hari atau sebelum adzan subuh, itupun dengan pasta gigi yang sedikit saja, supaya rasanya tidak membekas di dalam lidah atau mulut kita.

    Seandainya pada waktu puasa di siang hari, kita menelan ludah yang masih ada rasa pasta gigi atau makanan secara tidak sengaja, maka tidak mengapa, artinya puasanya tidak  batal. Akan tetapi jika kita mengetahui  bahwa di dalam mulut atau gigi atau ludah kita masih ada bekas  dan sisa makan atau pasta gigi, kemudian dengan sengaja kita menelannya, padahal kita bisa menghindarinya, maka puasa kita menjadi batal . Walahu a’lam.

Batalkah seorang ibu yang mencicipi rasa suatu masakan ketika sedang berpuasa?

Jawaban :

   Dibolehkan bagi seseorang yang sedang berpuasa untuk mencicipi suatu masakan kalau hal itu diperlukan, dengan syarat tidak ditelannya, tapi hanya sebatas lidah saja. Bagaimana kalau mencicipi makanan sebatas lidah tanpa ada keperluan ? hukumnya makruh, artinya kalau ditinggalkan lebih baik dan akan mendapatkan pahala. Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a yang pernah mengatakan : ” Tidak apa-apa seseorang pada waktu puasa mencicipi cuka, atau sesuatu yang hendak dibelinya ” . Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata : ” Tidak apa-apa bagi seseorang yang sedang puasa untuk mencicipi masakan yang ada ditungku ” Wallahu A’lam .

Apakah suntik membatalkan puasa?

Jawaban :

      Suntikan dengan segala bentuknya, baik yang dari tangan, dari paha, dari pantat, atau yang dimasukkan lewat anus, baik yang berupa infus semuanya tidak membatalkan puasa. Hal itu karena beberapa alasan : (lebih…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.