( 6 ) APAKAH SUJUD KEPADA ADAM TERMASUK SYIRIK ?
( Bantahan Terhadap Pendapat Ibnu Arabi )
Pertanyaan ini muncul, karena sebagian orang menganggap bahwa Iblis adalah makhluk yang paling bertauhid, karena tidak mau sujud kepada selain Allah, pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu Arabi , seorang sufi yang dikecam oleh banyak para ulama dan divonis sebagai orang yang sesat karena ajaran Wihdat Al Wujud-nya. Yang lebih ironisnya lagi, pendapat yang menyatakan bahwa Iblis adalah bapak tauhid juga diikuti oleh beberapa cendekiawan Indonesia. Kita katakan kepada mereka bahwa sujud tidak mesti berarti menyembah, bahkan para ulama sepakat bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah sujud untuk menyembah . Seperti halnya orang Islam yang bersujud menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah swt dengan menghadap ke Ka’bah. Begitu juga para malaikat sujud menghadap Adam demi melaksanakan perintah Allah swt, dan mereka sebenarnya sedang sujud dan menyembah Allah swt, bukan menyembah Adam. Ibadah sendiri berarti mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dia diperintahkan untuk mencium hajar aswad dan melempar jumrah yang disimbolkan sebagai Iblis, amalan-amalan ini disebut ibadah karena melaksanakan perintah Allah.
Kita katakan juga kepada mereka bahwa sujud berarti juga penghormatan. Sujud para malaikat kepada Adam bisa kita masukkan dalam katagori sujud penghormatan . Sujud penghormatan ini kita dapatkan juga dalam kisah nabi Yusuf as. Pada waktu nabi Yusuf as sudah menjadi mentri di Mesir, saudara-saudaranya beserta kedua orang tua-nya datang ke Mesir, kemudian mereka bersujud di depan nabi Yusuf as sebagai bentuk penghormatan kepadanya , sebagaimana firman Allah swt :
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud ( QS Yusuf : 100 )
Sujud penghormatan ini, merupakan syareat atau ajaran umat-umat terdahulu, kemudian setelah datangnya Islam, syareat atau ajaran ini dihapus, sebagaimana diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, bahwasanya ia berkata : « Ketika saya datang ke Syam, aku melihat orang-orang kristen sujud kepada para pemimpin dan pendeta mereka, dan aku menganggap engkau wahai Rosulullah saw orang yang paling berhak untuk kami sujud kepada-mu. Berkata Rosulullah saw : tidak , kalau saya boleh perintahkan manusia bersujud kepada mnusia, niscaya saya perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami kepadanya «
Sebagian ulama mengistinbatkan dari ayat ini, bahwa orang yang meninggalkan sholat dan tidak mau sujud kepada Allah sekali saja, niscaya dia dihukumi sebagai orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada diri Iblis. Ini bagi yang meninggalkan sholat sekali, bagaimana kiranya orang yang secara sengaja meninggalkan sholat bekali-kali ??
( 7 ) QIYAS IBLIS YANG TERTOLAK
Iblis menolak sujud kepada Adam, karena dia merasa lebih baik dari Adam. Dia menganggap bahwa unsur api, lebih baik daripada unsur tanah. Qiyas yang digunakan Iblis di atas adalah qiyas yang tertolak, paling tidak ada empat alasan :
1/ Qiyas seperti ini tidak bisa diterima , karena bertentangan dengan teks Al Qur’an. Dalam kaidah ushul disebutkan bahwa qiyas jika berhadapan dengan teks, secara otomatis telah tertolak.
2/ Tidak benar kalau api itu lebih baik dari tanah, bahkan sebaliknya tanah itu lebih baik dari api, karena tanah mempunyai sifat yang ringan sedang api sifatnya merusak dan membakar. Tanah juga bersifat membangun dan menumbuhkan biji-biji yang ditanam di dalamnya, Jika anda ingin melihat fungsi tanah, lihatlah taman yang hijau , dipenuhi dengan pohon yang rindang, dihiasi dengan buah-buhan yang lezat dimakan, nyaman dipandang, setiap orang merasa betah tinggal di dalamnya. Ini semua menunjukkan bahwa tanah jauh leih baik dari api.
3/ Taruhlah, kita terima bahwa api lebih baik daripada tanah, akan tetapi hal itu tidak menunjukkan bahwa Iblis lebih baik dari Adam . Karena bisa saja terjadi induknya baik, tapi keturunannya jelek. Kita dapatkan banyak orang tua yang baik, tetapi anaknya rusak dan bejat .
4/ Sebenarnya kalau saja Iblis mau jujur, mestinya dia merasa malu, karena pada waktu dia menolak untuk sujud kepada Adam, disitu terdapat makhluk yang lebih tinggi derajatnya yaitu malaikat, karena mereka diciptakan dari cahaya. Walaupun begitu mereka mau bersujud ketika diperintah Allah, seharusnya – secara akal sehat – yang lebih rendah derajatnya ikut sujud juga. Akan tetapi begitulah Iblis, dia sombong dan menolak untuk sujud .
( 8 ) HUKUM MEREMEHKAN PERINTAH ALLAH
Rasa takabbur dan sombong merupakan sifat yang sangat tercela. Pertama kali yang mempunyai sifat ini adalah Iblis. Seseorang yang mempunya sifat seperti ini akan dijauhkan dari syurga . Rosulullah saw bersabda :
« Tidak masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari perasaan sombong « Seorang sahabat bertanya : « Wahai Rosulullah saw : « Seseorang senang memakai baju yang indah dan sandal yang indah, apakah yang demikian itu termasuk sombong ? « Rosulullah saw bersabda : « Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai yang indah-indah, akan tetapi hakekat sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia «
Dari sini, para ulama secara sepakat menyatakan bahwa siapa saja yang meremehkan perintah Allah dan Rosul-Nya, maka hukumnya adalah kafir, sebagaimana yang dilakukan Iblis.
Para ulamapun menyatakan bahwa dosa pertama kali yang dilakukan makhluk adalah rasa sombong, tamak dan iri . Berkata Qatadah : « Iblis merasa iri dengan Adam, karena dia diberikan kemulian oleh Allah swt, maka ia berkata : « Saya tercipta dari api, sedangkan dia dari tanah « , kemudian munculah dosa pertama kali yaitu rasa sombong. Setelah itu muncul rasa tamak, sehingga Adam memakan dari pohon ‘ yang terlarang ‘ , kemudian rasa iri, ketika anak Adam iri dengan saudaranya «
Ibnu Abbas ra mengatakan juga : “ Jika seseorang terjerat di dalam kesombongan, maka jangan banyak diharap. Sebaliknya jika ia terjerat di dalam kemaksiatan, kemungkinan masih bisa diharapkan untuk bertaubat »
( 9 ) PERBEDAAN ANTARA ENGGAN DAN SOMBONG
Enggan adalah tidak mau mengerjakan sesuatu padahal ia mampu, sedangkan sombong adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain, walaupun kenyataannya demikian. Sifat « Enggan « di sini, secara bobot dosanya tentu di bawah sifat « sombong « . Akan tetapi pertanyaannya adalah kenapa di dalam ayat tersebut « enggan « di dahulukan daripada ‘ sombong « ? Paling tidak ada dua jawaban :
1/ Yang pertama : karena sifat « enggan « di sini sangat nampak, jika dibandingkan dengan sifat « sombong « . Iblis yang enggan sujud, akan segera diketahui manakala dia tidak mau sujud, berbeda dengan ‘ sombong « , karena sifat ini terdapat di dalam hati saja , tidak mudah seseorang untuk menebaknya.
2/ Yang kedua : ayat di atas ingin menerangkan sikap masing-masing dari Malaikat dan Iblis ,ketika mendapatkan perintah Allah swt. Kedua sikap tersebut akan bisa dibedakan dengan jelas, manakala Iblis enggan untuk bersujud.
Lihat Tafsir Al Alusi “ Ruh Al Ma’ani “ : 1/ 231.
Oktober 8, 2007 at 8:08 am
Saya ingin sekali mndapatkan buku ini baik yg terjemahan bhs Indonesia atau Inggris. Dimakakah saya dapat mendapatkan/membelinya? Bagi yg tau tolong saya di email di ogielord@hotmail.com
Oktober 8, 2007 at 3:11 pm
Untuk Sdr Ogie
Buku Tafsir Al Qur’an dan Kehidupan, masih dalam proses penulisan…insya Allah dalam beberapa bulan ke depan mudah2an sudah bisa dicetak dan diterbitkan, terimakasih
Oktober 25, 2007 at 1:11 am
TRM KSH ATAS ILMU YG TELAH DISAMPAIKAN SEMOGA ALLOH MELIPATGANDAKAN BAIK PAHALA MAUPUN ILMU ANDA SEMOGA BERTAMBAH LEBIH BANYAK LAGI
Februari 11, 2009 at 7:59 am
Bagus skali, ini bsa nambah wawasan klo bisa salin k PDF trima kasih
Agustus 29, 2009 at 4:32 am
thanks on your good writting in history of islamic law.
September 9, 2009 at 3:53 am
Sebaiknya anda juga memuat tulisan ibnu arabi trlbh dahulu kmudian itu dikomentari. sehingga pembaca bisa memilih sendiri jalanya. Kalau seperti ini terlihat hanya doktrinan.